Gramedia Pustaka Utama · Resensi · Romance

An Offer From a Gentleman – Julia Quinn

Judul: An Offer From A Gentleman – Tawaran dari Sang Gentleman
Penulis: Julia Quinn
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 504 halaman

Buku ini adalah buku pertama Julia Quinn yang saya baca.

Bercerita tentang Sophie, seorang anak luar nikah dari seorang earl yang harus hidup di bawah kungkungan ibu tiri dan dua saudara tirinya. Sophie selalu diperlakukan sebagai pembantu di rumah sejak sang ayah—yang tidak mengakuinya sejak kecil tapi tetap merawatnya dengan baik meninggal dunia. Kesempatan berbahagian bagi Sophie akhirnya tiba ketika keluarga Bridgerton mengadakan pesta topeng. Dengan bantuan pembantu-pembantu, Sophie menjelma gadis cantik bertopeng.

Pada pesta itu, Sophie bertemu Benedict, anak kedua keluarga Bridgerton. Mereka berdansa, mengobrol, dan berduaan. Malam yang indah itu bagai mimpi bagi Sophie. Meski dia harus pulang sebelum jam 10 malam.

Merasa mirip dengan sebuah cerita? Ya, benar sekali! An Offer of Gentleman merupakan salah satu dari sekian banyak Cinderella retelling.

Perjuangan hidup Sophie ini semakin berat ketika ibu tirinya tahu dia datang ke pesta dan menggunakan sepatunya. Sejak hari itu, Sophie diusir dari Penwood House, rumahnya selama ini! Bagaimana nasib Sophie? Apakah dia bisa bertemu lagi dengan Benedict?

Benar-benar Cinderella Retelling

Hal yang paling membuat saya sebal dalam novel ini adalah karakter si ibu tiri, Aramita. Rasa-rasanya perempuan itu kayak nggak punya sama sekali hal baik dalam hdiupnya. Anak pertamanya, si Rosamund juga sama. Benar-benar mengingatkan pada ibu dan saudara tiri Cinderella yang jahat.

Sejak karakternya muncul pun saya sudah gregetan. Terus, semakin lama, ketika mereka pengin banget melihat Sophie tersiksa itu saya makin gregetan. Rasanya nggak rela sama sekali Sophie bahagia (si pengarang juga nih bikin gregetan). Karakter Posy, si bungsu, lumayan beda sama saudara tiri Cinderella. Jadi inget Cinder-nya Marissa Meyer. Tapi novel ini yang terbit duluan ya. XD

Yang saya suka dari Cinderella retelling versi Julia Quinn ini adalah bagaimana cara Sophie digambarkan ketika gadis itu baru tiba di rumah Bridgerton.

Wanita itu benar-benar bercahaya, dan Benedict tiba-tiba saja menyadari bahwa semua itu karena wanita itu terlihat begitu bahagia. Bahagia berada di tempat ini sekarang, bahagia menjadi dirinya sendiri. (h. 53)

Perbedaan Kelas

Setelah diusir dari Penwood House, yang bisa Sophie lakukan hanyalah kegiatan-kegiatan rumah tangga sebagai pembantu. Jadi, tidak heran ketika akhirnya Sophie menjadi seorang pembantu. Yang jelas, setelah diusir, yang Sophie inginkan hanya menjauh dari London dan Benedict.

Namun, pada akhirnya Sophie harus bertemu dengan Benedict. Benedict yang masih seorang ningrat dan Sophie yang sekarang menjelma pembantu.

Di pertemuan ini, Benedict kembali mendekati Sophie dan meminta gadis itu untuk menjadi wanita simpanannya. Habis biar bagaimana pun ada perbedaan kelas di antara mereka. Namun, Sophie menolak. Dia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama sepertinya, tersisihkan karena menjadi anak bukan dari pernikahan legal.

“Kalau kau mengira itulah segalanya, mungkin kau memang tidak mengerti kenapa aku harus menolaknya.” (h. 253)

Sampai akhir pun Benedict masih ngotot meminta Sophie menjadi simpanannya dan Sophie tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak Benedict.

“Kau punya prinsip Sophie, dan tetap memenagnya dengan teguh.” (h. 483)

Yang paling menyenangkan adalah Julia Quinn menyelipkan sindiran (yang saya rasa masih bisa dihubungan dengan dunia kita saat ini).

“Kaum ningrat sangat jarang menanggung konsekuensi perbuatan jahat mereka.” (h. 473)

Terakhir

An Offer of Gentleman tergolong sangat sopan dibanding harlequin lain yang pernah saya baca. Serius! Sopan banget! Juga manis. Pas adegan Sophie pakai syal itu…. :””””

Novel ini saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin membaca sesuatu yang manis, dan penuh gosip (?), juga bacaan ringan yang asyik.

Untuk menutup, seperti biasa, saya kasih kutipan menarik. Yang pertama, tentang kesalahan.

“Aku sudah melakukan kesalahan. Tetapi bukan berarti arku harus melakukan hal yang sama lagi.” (h. 364)

Yang kedua… ini favorit saya sendiri. 😀

“Malam ini aku bertransformasi. Besok aku akan menghilang.” (h. 70)

Selamat membaca!

 

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s