Random

Benarkah Minat Baca Indonesia Rendah?

Belum lama ini kita dikejutkan oleh berita yang menyebutkan Indoensia menjadi urutan 60 dari 61 negara tentang tingkat literasinya. Penelitian tersebut dilakukan olehΒ Central Connecticut State University. Sebagai seorang pembaca buku, yang teman-temannya juga membaca buku, saya kaget. Sedih. Juga miris. (Meski belakangan saya baru sadar bahwa hanya ada 61 negara dari 193 negara di dunia.)

Namun, begitu saya keluar dari lingkaran saya, paling dekat saja di kos, saya bisa menghitung dengan jari jumlah orang yang membaca buku. Keluar lebih jauh, di kampus misalnya, perpustakaan justru dipenuhi manusa-manusia dengan laptop bukannya buku. Keluar lebih jauh lagi, ke tetangga, ke lingkungan masyarakat, hiburan paling umum ditemui adalah televisi.

Mungkin survei itu memang benar sesuai.

Namun, pada BBW yang belum lama ini berakhir, saya langsung merasa tidak yakin lagi. Antrian masuk yang mengular membuat saya berpikir. Benarkan hanya satu dari seribu orang Indonesia yang membaca buku? Saya nggak punya jumlah pasti pengunjung BBW, tapi dari antriannya yang mengular, penerapan buka tutup per sekian menit, juga penambahan waktu display di akhir acara, saya harus yakin dan percaya ada lebih dari ribuaaaaan orang datang. Tujuannya entahlah, bisa jadi membeli untuk koleksi atau justru ingin dijual ulang.

Yang jelas pemandangan itu sampai membuat banyak orang nyinyir satu sama lain.

Kemeriahan BBW lebih lengkap bisa dilihat di sini

Kemudian, saya melihat penerbit-penerbit di sekitar saya, yang tetap setia meluncurkan buku. Terlepas dari itulah binis mereka, nggak mungkinlah penerbit bakal tetap ada dan menerbitkan buku kalau nggak ada profit. Iya kan?

Gramedia bisa mengeluarkan berpuluh-puluh (atau malah ratusan?) judul buku dalam satu bulan. Mas Dion sendiri, bercerita Diva bisa menerbitkan 30-40 judul baru sebulan. Penerbit lain saya kurang tahu, berhubung saya nggak punya koneksi buat dapat info, yang jelas selalu adalah buku baru tiap bulan.

Sekarang saja kalau saya main ke toko buku, saya bakal menemukan buku-buku dari penerbit yang asing kok, yang baru saja saya dengar. Itu berarti industri buku merupakan bisnis yang menguntungkan, kan? Kalau nggak menguntungkan mana mungkin selalu ada buku baru atau penerbit baru, kan?

Makanya, saya selalu berpikir, benarkah minat baca kita serendah itu?

Sekarang, saya coba melihat tren buku. Belakangan penerbit seperti sedang berlomba menerbitkan buku dari sebuah situs menulis gratis, Wattpad. Bukan hanya satu, tapi banyak penerbit mencetak satu demi satu novel yang dulunya bisa dibaca gratis tersebut.

Kenyataan ini menambah pikiran saya. Situs menulis gratis Wattpad ini bisa dibilang bekenlah di Indonesia. Ada banyak sekali judul novel ditulis orang Indonesia (sayangnya saya tidak tahu bagaimana cara mencari jumlah novelnya, karena meski saya sudah berusaha sebagaimana pun, saya masih tidak bisa menemukan arsip tulisan dalam bahasa Indonesia). Selain Wattpad, ada juga Storial. Di Storial saya juga nggak bisa menemukan jumlah tulisan yang ada, tapi begitu saya ke menu daftar buku, ada sampai 53 halaman lagi untuk menampilkan buku-buku tersebut.

Media membaca kita makin meluas. Sebenarnya, sudah sejak lama sangat luas tapi sekarang internet dan gadget sudah semacam keperluan dasar jadi setiap orang bisa mengakses dengan jauh lebih mudah. Jadi, sekarang, bacaan digital sudah mudah didapatkan. Gratis pula. Mungkin ini menjadi salah satu alasan kenapa banyak yang bilang penjualan buku lesu, rental-rental buku tutup, dan perpustakaan makin tidak terjamah? Meski dari artikel ini saya justru mendapatkan informasi bahwa keuntungan berjualan buku lapak daring dan toko alternatif berdiskon meningkat belakangan ini.

Kembali ke hasil survei Central Connecticut State University, dari Nina, saya mendapatkan info lebih jauh tentang surevi tersebut. Ternyata variable yang diamati bukan hanya buku yang dibaca dalam satu hari, tapi juga sumber daya pendukung.

Sampai sekarang, bisa dibilang membaca bukanlah hal pertama yang diurusi pemerintah. Jika kita melihat berita bertahun-tahun belakangan ini, dalam hal dasar berupa makanan pun, kita, Indonesia, ini masih bergantung pada impor. Indonesia belumlah berdaulat pangan. Makanan yang menjadi kebutuhan paling dasar manusia saja belum selesai diurusin pemerintah, apalagi membaca yang bisa jadi kebutuhan kesekian, kan?

Ditambah fakta bahwa rasa kepemilikan fasilitas publik masyarakat Indonesia yang rendah, nggak heran kalau kita dapat hasil jelek gitu di suvei. Wong jaket di atas motor yang saya parkir depan kos saja bisa hilang (curcol ceritanya), rel kereta api ada yang nilep, dan lampu lalu lintas bisa hilang gitu aja. Jadi, yah, susah kalau bicara soal kepemilikan publik.

Tayangan Mata Najwa tanggal 11 Mei 2016 bertema “Tak Sekadar Membaca” menambahkan bukti bahwa tidak sedikit masyarakat Indonesia yang peduli pada literasi. Selain yang diundang dalam acara itu, ada banyak sekali komunitas sosial yang bergerak di biang literasi, coba saja googling.

Hal ini bukankah menunjukkan bahwa kesadaran literasi kita cukup baik dan minat baca kita tidak seburuk itu, kan? Tengoklah banyak komunitas yang bergerak di bidang literasi. Banyak kegiatan amal yang sudah menjadikan buku sebagai salah satu pokok penting. Banyak buku yang beredar, diterbitkan, dibeli. Ataukah semua yang terlibat di kegiatan itu orang yang itu-itu saja sehingga tidak ada peningkatan?

Saya tidak tahu. Saya sendiri tidak punya cukup waktu buat mengadakan riset mendalam untuk membuktikan pemikiran saya bahwa minat baca Indonesia tidaklah seburuk itu. Namun, pada akhirnya saya pun belum melakukan banyak hal untuk dunia literasi Indonesia. Yang saya tahu dengan pasti, kalau fasilitas publik jadi salah satu acuan penialain survei tingkat literasi, Indonesia bakal susah naik tingkat dari angka 60. Jadi, mungkin saja memang minat baca kita rendah.

Di sisi lain, bisa dibilang buku adalah barang yang jauh lebih mewah daripada gadget, pulsa, dan internet. Atau juga kendaraan pribadi. Saya sering melihat keluarga yang, maaf, biasa-biasa saja, tapi semua anggota keluarganya punya hape canggih dan motor tapi rumahnya sepi tanpa buku. Buku keberadaannya masih berupa gaya hidup, dan di Indonesia punya atau tidaknya banyak buku tidak membuat ‘kasta sosial’ seseorang lebih tinggi ketimbang punya atau tidaknya harta benda.

Itulah sebabnya saya cukup yakin untuk bilang bahwa buku serta membaca adalah kegiatan eksklusif. Nggak semua orang bisa. Ditambah dengan harganya yang belakangan menggila, stigma bahwa buku adalah barang mahal rasanya masih sulit untuk menghilang.

Fakta ini, lagi-lagi, meyakinkan saya bahwa ya, minat baca Indonesia rendah.

Namun, saya tidak mau pesimis. Ketika saya melihat tren buku yang diterbitkan, Indonesia ini seperti sedang memasuki zaman membaca buku yang berbeda. Ramainya situs iJak sejak muncul di Mata Najwa dan lahirnya situs PaDi. Belum lagi situs macam Wattpad dan Storial yang tetap ramai dikunjung. Atau juga situs baca komik gratis seperti Webtoon. Bukankah itu berarti penyebaran buku sekarang makin futuristik? Tidak lagi lewat kertas dan tinta tapi layar sentuh dalam genggaman.

(Sumber gambar dari sini)

Dari Raafi, saya mengetahui fakta bahwa Scoop punya pertubumbuhan! Situs jual-beli buku digital itu bisa dibilang meraup keuntungan dan memberikan akses ke lebih banyak orang untuk mendapatkan buku hanya dengan sekali sentuh. Mungkin ke depannya industri buku digital ini akan semakin membesar. Siapa yang tahu?

Selain itu, ada juga kabar soal audiobook Tidak Ada New York Hari Ini yang bakal segera diluncurkan!

Hm. Sepertinya bukan hanya transportasi umum yang pindah ke era digital. Dunia membaca Indonesia juga mungkin sedang pindah. Mungkin ke depannya bakal semakin banyak situs-situs peminjaman buku berbasis digital?

Yang jelas, berhubung kebutuhan akan gadget, pulsa, dan internet jauh lebih urgen daripada buku, saya nggak bisa nggak berharap bahwa perpindahan dunia membaca ke digital akan diikuti dengan meningkatnya minat baca. Ini harapan yang logis, kan?

Sumber:

  1. http://sumselupdate.com/tingkat-literasi-indonesia-lebih-baik-botswana/
  2. https://www.facebook.com/bbwbooksindonesia/?fref=ts
  3. https://www.youtube.com/watch?v=OlZvW_VDOfY
  4. https://twitter.com/hurufkecil/status/733518640167817216
  5. Grup WA BBI Joglosemar dan percakapan pribadi

Tulisan ini dibuat dalam rangka:

Banner Posbar 2016

Advertisements

18 thoughts on “Benarkah Minat Baca Indonesia Rendah?

  1. berdasarkan data Ikapi, minat baca indonesia yang 1/1000 itu masih jauh lebih kecil dari jumlah penduduk kelas menengah Indonesia yang hampir 100 juta lebih jumlahnya. Mungkin memang benar bahwa minat baca Indonesia masih rendah..
    Tapi harapan menuju lebih baik itu akan selalu ada πŸ˜€

  2. Aku pernah buat penelitian minat baca jadi tahu kalau penelitian soal minat baca ini tricky sekali karena satu alasan utama: persebaran fasilitas di Indonesia masih terpusat di Jawa saja.

    Waktu aku bikin penelitian itu, dosenku secara spesifik bilang, “Kamu mau teliti minat baca bagaimana? Ambil sampel mana? Buku yang dibaca apa?” Karena kalau aku mau meneliti minat baca dengan sampel mahasiswa, jelas minat baca akan tinggi, karena mereka memang “dituntut” untuk lebih banyak membaca, jadi mereka akan cenderung baca yang compulsory read untuk pelajaran mereka. Selain itu, daerah urban jelas beda dengan daerah rural, orang daerah urban akan lebih tinggi minat bacanya karena akses mereka terhadap pengetahuan (privilege, privilege) lebih besar, dan bisa dilihat sendiri lebih banyak mana antara dua jenis daerah itu di Indonesia.

    Jadi selama masih di Jawa saja, tentu masih banyak bahan untuk membantah mengenai tingkat baca yang rendah, karena Jawa termasuk pulau dengan privilege yang besar dibanding pulau-pulau lain. Perpustakaan digital tidak dipungkiri mempermudah akses masyarakat untuk membaca, tapi kembali lagi, berapa persen rakyat Indonesia yang punya akses internet? Jawabannya, kalau nggak salah pas terakhir ngecek, hanya 13%, itu pun sebagian besar bukan jenis internet yang bisa memudahkan mereka untuk akses situs-situs “berat” macam iJak (iJak itu berat cuy huks).

    Jadi, yah, kenyataannya memang minat baca di kita masih sangat rendah, karena aksesnya masih kurang banget itu tadi. Kalau kenyataan di sekeliling kita berkata lain, itu biasanya karena kitanya yang ada di lingkungan penuh privilege. :’)

    1. Woah thank you Kak Yuu!
      Bener-bener memberikanku pandangan lain hehe

      Kalau dipikir iya juga sih, aku masih di kampus ya jadi baca buku nggak aneh
      Jadi inget pengalaman masa KKN yang buku aja…. jauh lebih mahal dari motor
      Jadi sadar deh. Pengen ngedit artikel ini deh nanti kalau udah selo, nambahin pengalaman KKN dan …. mungkin nanti aku bakal ketampar ya pas udah terjun di masyarakat :”

  3. Aku justru miris, beberapa orang di sekitarku banyak mengkonotasikan pembaca buku sebagai orang yang cupu.

    Nyesek banget tau. Aku tidak yakin jika dunia literasi kita akan mampu menyamai negara2 maju. Karena sejatinya kita negara berkembang, yang mana kebutuhan perut lebih penting dari segalanya. Sama dengan apa yang dikatakan Kk Luckty di postingan ini >> http://ach-bookforum.blogspot.in/2016/05/ada-apa-dengan-indonesia-dan-buku.html << berkunjung juga ya kk Wardah :))

    1. Yah Bin di mana-mana mulai dari diri sendiri
      Pertama yakin aja dulu, pede sama banyak doa
      Nggak ada yang tahu soal masa depan :’

  4. Nah, aku rasa komen Ayu sudah merangkum apa yang ada di benakku juga :-). Terkait minat baca memang sebaiknya tidak terlalu menelan mentah – mentah fakta yang diberikan ya. Karena memang banyak faktor yang mempengaruhi.

    Aku sendiri melihat geliat untuk meningkatkan minat baca sudah mulai meningkat. Euforianya sudah mulai terasa sejak acara di Mata Najwa yang (semoga) membuka mata masyarakat tentang pentingnya membaca. Semoga ga cuma tancap gas di awal aja tapi lama – lama melempem ya πŸ™‚

  5. Terima kasih, Wardah! Pengumpulan data dengan menanyakan kepada informan yang bersangkutan membuat artikel yang kamu buat lebih meyakinkan. Dan sekali lagi, sedih mengetahui kalau minat baca di Indonesia (masih) rendah.

  6. Topik ini hangat banget ya…
    Minat baca tinggi kok…tapi baca apa dulu… Kalau baca buku ya memang masih rendah.
    Satu lagi yang penting, di Indonesia budaya membaca tidak ditanamkan sejak kecil. Anak2 usia sekolah diberi beban tugas yang banyak, saya yakin hanya sedikit dari tugas itu yang menuntut mereka untuk membaca literatur. Di rumah, orang tua tidak memperhatikan apakah anaknya membaca buku atau tidak, malah kalau baca buku dimarahin karena tugas belum selesai.

  7. lha kadang aku juga nggak percaya gitu aja sama hasil penelitian dari lembaga beken. soalnya, darimana mereka dapet data itu, metodenya gimana? samplingnya gimana? *maaf, yang nulis ini lagi kepikiran skripsi*

    aku masih yakin kok minat baca orang indonesia gak semenyedihkan itu. ya yakin diyakin yakinin sih πŸ˜€

  8. Harapan baik itu selalu ada. Setidaknya, menimbun buku masih jauh lebih baik ketimbang menimbun utang. Ayo semangat semuanya.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s