Random

Di Timbunan Terdalam

Niatnya tulisan ini ditulis begitu sampai di tempat tujuan. Apa daya begitu sampai rumah, yang ada malah lupa segala macam to-do-list yang sudah disiapkan dan malah sibuk melakukan hal-hal lain.

Pengakuan yang mau saya buat untuk posbar bulan iniΒ lalu terkait timbunan.

Saya baru jadi seorang penimbun di akhir tahun 2013. Saat itu juga saya masih menimbun dengan normal. Satu-dua buku saja. Segalanya berubah ketika negara api menyerangΒ tahun 2014 datang. Perkenalan dengan berbagai toko buku online serta bergabungnya saya dengan BBI, membuat peluang menimbun saya meningkat, secara eksponensial pula. Buku-buku yang belun saya baca, yang awalnya masih bisa dihitung dengan jari, jadi tidak lagi terhitung.

Timbunan saya memang kalah dari banyak member BBI lainnya. Timbunan saya hanya dua rak buku setinggi saya, serta dua kardus Aq*a. Namun, saya yakin timbunan saya itu jumlahnya banyak karena … banyak yang belum saya baca. Sampai tidak jarang segel buku timbunan dibuka teman-teman saya yang ingin meminjam. :’)

Nah, di antara sekian banyak timbunan itu, saya selalu merasa bersalah telah menimbun buku berseri. Bukan apa, jelas-jelas namanya buku berseri, pasti ada lebih dari satu buku. Jadi, kalau direnungkan, uang yang saya belanjakan untuk menimbun buku-buku berseri itu bisa saja berubah menggantikan hape saya yang wafat beberapa waktu lalu.

Dalam pengakuan ini saya mau memberikan list timbunan buku berseri yang … bisa dibilang sudah ada di masa-masa awal saya menjadi penimbun. Lengkap dengan foto (yang saya ambil langsung di rak buku saya karena malas bongkar-bongkar rak).

1. Inkheart – Cornelia Funke

Seri ini termasuk seri yang saya bawa pulang langsung sekali beli. Saya lupa harganya berapa. Yang saya ingat, seri ini tidak tersentuh sejak masuk ke rak buku.

2. IQ84 – Haruki Murakami

Saya ingat persis seri ini saya beli dengan harga 160.000 dari rak koleksi pribadi seorang penimbun juga. Sampai sekarang, seri ini bahkan belum saya keluarkan dari plastik pembungkusnya. Buktinya bisa dilihat di foto, masih ada karton di sudut-sudutnya.

3. Β The Mysterious Benedict Society – Trenton Lee Steward

Yang satu ini saya bela-belain beli lengkap padahal udah dapat seri 3nya duluan. Akhirnya seri 3 saya sumbangin buat taman baca di kampung halaman seorang teman.

4. Legend – Marie Lu

Saya beli Legend begitu tahu Sacchan perjemahnya. Pelan-pelan saya melengkapi seri ini. Satu demi satu. Sampai saya dapat Champion seharga diskon. Sayang, sampai sekarang tiga buku ini masih nangkring cantik juga.

4. Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer

Beda dengan seri lain, saya beli seri ini tanpa ada yang didiskon murah. Diskonnya cuma 25-15%. Saya melengkapinya dari Oktober-September 2015. Untuk buku serharga ratusan ribu ini, bisa dibilang saya berhasil mendapatkan buku ini tanpa menanti muncul di diskonan–karena saya tahu seri ini nggak bakal masuk diskonan. Apa saya sudah membacanya? Ya. Saya sudah membaca Bumi Manusia. Tapi bukan Bumi Manusia yang saya beli ini, melainkan Bumi Manusia yang saya pinjam dua tahun sebelum membelinya sendiri. :’)

Bisa dibilang, lima seri di atas adalah seri yang berada di timbunan terdalam saya. Usianya sudah sekitar separuh dari rentang saya menjadi seorang penimbun. Meski saya sudah sangat ingin membacanya, sampai sekarang belum ada yang tersentuh. Entah sampai kapan seri-seri ini bakal mengisi rak timbunan. Entah sampai kapan. πŸ˜‚

Nah, kalau kamu, apa buku berseri yang berada di timbunan terdalam milkimu?

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s