Somewhere Called Home – Dhamala Shobita

Somewhere Called Home - Dhamala ShobitaJudul: Somewhere Called Home
Penulis: Dhamala Shobita
Penyunting: Avifah Ve
Penerbit: de TEENS
Tebal: 260 halaman


Bisa kamu dapatkan di Bukupedia


Perjalan Ben dimulai dari pertemuan dengan seorang gadis bernama Lila di Sipora. Saat itu Ben sedang ada acara dengan teman-temannya, tetapi Ben justru lebih sering menghabiskan waktu bersama Lila. Dari kebersamaan itu, Ben mendapati mimpi Lila untuk menemukan Dila, kakaknya yang terpisah sejak tujuh tahun lalu. Mimpi yang dilanjutkan oleh Ben ketika suatu hari yang mendadak Lila menghilang dari resort dan tidak akan pernah kembali.

“Lo pikir seberapa suci lo sampai-sampai nggak mau ingkar janji sama cewek yang sudah mati.” (h. 75)

Perjalanan Ben mencari Dila tidaklah mudah. Bekal yang dimiliki Ben hanyalah jurnal berisi perjalanan Lila mencari Dila, serta sebuah foto lama. Hanya itu. Meski demikian, Ben tetap melakukan perjalanan mustahil tersebut.

Selama perjalanannya menelusuri jejak-jejak Lila—yang mengikuti Dila—Ben bertemu seorang gadis. Ris, namanya. Entah bagaimana, gadis ini selalu ada di tempat-tempat yang dikunjungi Ben. Dan entah bagaimana, gadis itu perlahan membuat Ben melepaskan kenangan Lila, juga mengurai benang kusut di tempat yang disebut rumah.

Bukan Sekadar Novel Romance

Bab-bab awal Somewhere Called Home ini mengingatkan kita pada novel-novel romance. Lengkap dengan karakter cowok blasteran jago selancar dan gadis cantik yang menantinya di pesisir. Dengan latar pantai, matahari terbit atau terbenam, angin laut, dan yah itu semua, novel ini persis membangun kesan tersebut.

Namun, perlahan, ketika perjalanan Ben sudah dimulai, pembaca akan dikenalkan pada lebih banyak hal. Tentang rumah yang ditinggalkan, keluarga yang tercerai-berai, masa lalu, serta harapan akan masa depan.

Karakter utama kita, Ben, terlihat seperti seorang pemuda jatuh cinta yang rela melakukan apa pun demi gadis pujaannya, di awal. Semakin ke belakang, kita akan mengetahui bahwa bukan hanya cinta Ben pada Lila yang membuat Ben melakukan perjalanan itu. Ada hal-hal yang ingin Ben lupakan dan tinggalkan.

“Kenapa kakak nggak pernah betah di rumah?” (h. 204)

Ada cerita tentang keluarga di Somewhere Called Home ini. Cerita keluarga yang cukup bikin saya pusing karena hubungan yang rumit. Cerita keluarga yang sayangnya tidak diceritakan dengan lebih gamblang oleh penulis (saya masih bingung dengan fakta soal Calvin Murray dan bagaimana Ben memanggil “Dad” sementara di sisi lain ada, yah gitu).

Karakter kesukaan saya sendiri Dyas, adiknya Ben. Anak itu pendiam, perhatian, dan sering kali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menohok pada Ben. Seperti pertanyaan ini:

“Kalau mimpi Kakak sendiri saja belum bisa Kakak wujudkan, bagaimana Kakak bisa membantu mewujdukan mimpi orang lain?” (h. 234)

Sayangnya, Dyas bukanlah pusat cerita. Padahal saya cukup yakin perkembangan psikologis Dyas di tengah keluarganya bakal menimbulkan cerita yang seru untuk diikuti. Dan sayangnya, hubungan Ben dengan Dyas itu rada-rada dingin, padahal menurut saya mereka seharusnya dibuat lebih akrab dengan kenyataan seperti itu—yah meski memang bisa berakhir dingin sih, tapi nyatanya Dyas masih peduli banget gitu sama Ben.

Hal-Hal yang Disayangkan

Somewhere Called Home ini punya cara penceritaan yang cukup unik. Di antara perjalanan Ben, yang kadang diselipi adegan flashback, ada bagian-bagian yang berisi jurnal Lila. Jadi, ada meskipun Lila telah meninggal, “suara” gadis itu masih menghantui hingga penghujung buku.

Sayangnya, bagian jurnal Lila ini tidak ditulis dengan jenis font yang berbeda. Sehingga tidak jarang pembaca akan mengerutkan kening—seperti saya. Meski ada tanggal di bagian atasnya, tetap saja rasanya pengalaman membaca jadi berkurang karena jenis tulisan yang sama persis dari awal hingga akhir. Kenapa ya jurnal Lila tidak dibedakan jenis tulisannya? :/

Lalu, saya tahu penulis berusaha membeberkan sedikit demi sedikit kepada pembaca. Sayangnya, saya justru merasa timeline novel ini membingungkan. Di tambah fakta bahwa Ben itu pindah-pindah ke mana-mana, saya jadi semakin bingung. Separuh awal, saya masih berusaha memahami Ben ini ada di Indonesia bagian mana, berapa lama, dan sedang apa. Namun, di separuh awal, saya sudah tidak peduli. Sayang sekali padahal jika ditulis lebih rapi, saya rasa novel ini akan semakin membuat penasaran.

Hal lain yang saya sayangkan adalah hubungan Ben dan Lila yang … dangkal. Entahlah, saya tidak mendapatkan interaksi kebersamaan keduanya di awal-awal buku. Rasanya dangkal, tanpa ada bagaimana keduanya mulai dekat dan alasan apa yang membuat Ben tertarik pada Lila. Atau sebaliknya. Tentu, kecuali cerita masa lalu mereka.

Kemudian, tak lama, Lila meninggal. Dan Ben melanjutkan perjalanan Lila. Padahal saya belum merasakan keduanya sedekat itu—karena ketika Lila menghilang, Ben yah, tidak tahu apa-apa. Ben juga tidak tahu soal penyakit Lila, kan?

Poin terakhir adalah soal Ris. Ben melakukan perjalanan ke berbagai tempat, yang jelas cukup ramai dikunjungi turis. Namun, kenapa dia selalu bisa bertemu dengan Ris? Selalu, yang … selalu pas gitu lho waktunya. Saya tahu Ris ini penting bagi kelanjutan cerita begitu bertemu lagi sama Ben, tetapi ya gimana sih pertemuannya itu bikin gemas.

Saya pernah ke Banyuwangi, di satu destinasi saya bertemu rombongan yang sama, dan esoknya kami punya rencana menuju tempat yang serupa. Namun, kami tidak papasan lagi tuh. Ya, memang sih, saya beramai-ramai dan Ben serta Ris ini sendirian, tetapi namanya tempat wisata kan nggak mungkin segitu sepi pengunjungnya sampai mereka bisa papasan di momen dan tempat yang pas, kan?

Selain pertemuan tidak sengaja berturut-turut Ben dan Ris yang membuat saya jengah. Saya sendiri heran sama kedua orang ini. Mereka sudah papasan berulang kali, tapi baru berkelanan… setelah menginap di tempat yang sama beberapa hari. Kok bisa sih nggak saling memperkenalkan diri? -_-

Terakhir

Yah, terakhir, sebelum saya menutup review ini, biarlah saya memberikan kutipan kesukaan saya—seperti biasa (meski belakangan saya lupa buat menyisipkan haha).

“Manusia melihat apa yang ingin mereka lihat, mendengar apa yang ingin mereka dengar.” (h. 229)

Somewhere Called Home ini saya rekomendasikan bagi mereka yang suka cerita perjalanan. Penulis berhasil menyajikan cerita perjalanan yang terasa dekat, ada interaksi dengan masyarakat, destinasi wisata, kegiatan wisatawan, dan lainnya. Saya salut pada penulis yang berhasil menggambarkan kegiatan masyarakat di tempat-tempat tersebut dengan nyata.

Somewhere Called Home ini juga saya rekomendasikan bagi mereka yang menyukai cerita dengan misteri, atau bertema keluarga. Atau juga cerita yang penuh dengan kenangan.

Bukankah kenangan dapat dilupakan dengan menciptakan kenangan baru? (h. 213)

Selamat membaca! Selamat membuat kenangan!

Advertisements

3 thoughts on “Somewhere Called Home – Dhamala Shobita

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s