Petir – Dee Lestari

Petir - Dee LestariJudul: Petir
Penulis: Dee Lestari
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: viii + 328 halaman


Petir bisa kamu dapatkan di Bukupedia


Seperti Akar, Petir juga terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, satu bab—atau pada seri Supernova ini disebut keping—bercerita kelanjutan cerita Gio dan hilangnya Diva, serta Reuben dan Dimas dari KPBJ. Pada bagian kedua, bercerita tentang kehidupan Elektra, sekaligus menceritakan judul buku ketiga seri ini. Dan bagian terakhir merupakan kelanjutan dari akhir Akar sekaligus pembuka Partikel.

Elektra, “Gadis Berlistrik”

Pada Petir, saya mendapati gaya bercerita yang mirip-mirip dengan Akar. Dee senang sekali ngalor-ngidul. Elektra ini menceritakan kisah hidupnya dengan cerita ke mana-mana. Saya jadi ingat ngelanturnya Bodhi di Akar. Namun, bebeda dengan Akar, Petir ini lebih mengundang tawa. Sudut padangan orang pertama dari Elektra ini renyah sekali.

Kini aku hanyalah kutu air yang menetap di sela-sela jempol kakinya. (h. 180)

Sedari awal, kita akan diperkenalkan pada ajaibnya pikiran Elektra. Elektra kecil yang suka menatap petir sambil berhujan-hujanan. Elektra yang lebih senang menonton kehidupan. Elektra yang merana ditinggal ayahnya meninggal dan kakaknya menikah. Elektra yang bingung tujuh keliling soal masalah karir. Elektra yang ditawari pekerjaan jadi asisten dosen sekolah gaib. Dan Elektra yang menemukan keluarga—serta rumah—berawal dari perkenalan dengan era millenium, internet.

Sampai separuh awal, saya cukup yakin bahwa Petir ini akan kental unsur mistisnya. Bagaimana tidak jika ada surat tawaran pekerjaan dari sekolah ilmu gaib gitu dan Elektra yang pergi ke orang pintar. Lain dengan sensai ketika membaca Akar, dalam Petir hal-hal supernatural ini justru terasa seram-seram gimana. Mengingatkan pada cerita horor.

Untungnya, begitu memasuki pertengahan dan Elektra berkenalan dengan internet, segala kekhawatiran saya soal klenik langsung lenyap. Berganti dengan cerita dari sudut Elektra soal perkembangan internet di masanya, tahun 2002 lalu.

Perkenalan itu membawa Elektra bertemu dengan orang-orang lain. Ada Kewoy, Mi’un, Bang Yono, dan Mpret alias Toni. Keseharian Elektra begitu tokoh-tokoh di atas muncul itu membuat Petir, yang awalnya bernada getir tapi mengundang tawa, menjadi lebih cerah-ceria. Karakter Mpret dan filosofi hidup pemuda itu soal uang sukses membuat saya jatuh hati padanya.

“Orang yang menukar jiwanya sama duitlah yang bikin duit punya nyawa.” (h. 190)

Dan saya suka banget sama interaksi Mpret dengan Elektra.

Hal-Hal Domestik

Membaca Akar memberikan saya pengalaman yang terasa jauh. Perjalanan Bodhi ke mancanegara dan ceritanya yang kental dengan unsur spiritual sedikit susah nyambung dengan saya yang kerjanya lebih banyak bengong dalam kamar. Namun, Petir ini berkebalikan dengan Akar. Elektra menceritakan segalanya dengan gaya asyik, dari sudut pandang seorang gadis yang selama ini lebih banyak mengurung pikirannya.

Saya bisa menghubungkan banyak bagian kehidupan saya sendiri dengan kehidupan Elektra. Mulai dari mainan rusak yang diperbaiki sendiri—tentu tidak seperti Elektra yang punya ayah tukang listrik, mainan saya diperbaiki seadanya dan akhirnya jadi rongsokan.

Dedi selalu berhasil memperbaiki segalanya. Yang kami miliki hanyalah manula-manula berjiwa muda. Kabel baru, IC baru, baterai baru. (h. 15)

Mulai masalah nilai-nilai rapor masa sekolah, kegalauan seorang sarjana yang tak kunjung punya pekerjaan, hingga kemalasan yang terus dipelihara meski sudah tahu itu tidak baik.

Sampai cara pandangan Elektra soal kehidupan pun bisa saya pahami dan maklumi—serta setujui.

Kang Atam itu orang kaya dan punya kerjaan tetap, dan kalian semua membosankan! Mau-maunya dikurung dalam sangkar emas padahal diperah kayak sapi! (h. 65)

Membaca Petir itu membuat saya berandai-andai, apakah saya bisa seperti Elektra. Menjodohkan hal yang disukainya dengan karir.

Penutup

Tidak seperti KPBJ atau Akar, Petir ini serius membuat saya penasaran dengan akhirnya. Kemunculan Bong, interaksi Bong dengan Mpret, Mpret itu sendiri, dan hal-hal lainnya itu membuat saya penasaran. Akan dibawa ke mana cerita ini? Seperti apakah kelanjutan hidup Elektra?

Dalam hati saya tahu jawabannya tidak akan saya temukan dalam Partikel. Entahlah. Segala rahasia itu gosipnya disumpel dalam IEP yang tebalnya ampun-ampunan itu. Harapan saya sih cuma satu, Mpret nggak hilang begitu saja. Saya sayang banget sama karakter Mpret—serta interaksinya dengan Elektra ini. >.<

Terakhir, sebuah kutipan favorit saya.

Waktu adalah uang, tetapi waktu yang terlalu luang merupakan bentuk lain dari kemiskinan. (h. 16)

Selamat membaca!

PS. Foto hanya pencitraan, haha. Aslinya nggak dibaca sampai tamat pas lagi di sana. Taken by @Hssnaaj

Advertisements

3 thoughts on “Petir – Dee Lestari

  1. […] Saya baru baca seri Supernova sampai Petir, tapi saya pikir saya bakal paling suka buku ini meski sudah baca buku-buku berikutnya (iya, saya PD banget haha). Pasalnya di buku ini saya naksir sama interaksi Etra dan Mpret. Manis banget! Saya juga suka Petir katimbang KPBJ atau Akar karena cerita Etra ini tuh … terasa dekat gitu. Mungkin karena Etra di hadapkan pada dunia selepas kuliah yang terasa dekat sama kondisi saya, ya. Yah, lengkapnya baca di sini aja. […]

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s