Teka-Teki Terakhir – Annisa Ihsani

Teka-Teki Terakhir - Annisa IhsaniJudul: Teka-Teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Penyunting: Ayu Yudha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman


Teka-Teki Terakhir bisa kamu dapatkan di Bukupedia


Rumah tua besar di pinggir sungai Littlewood ditinggali pasangan suami-istri Maxwell, yang kabarnya seorang penyihir—atau ilmuan gila atau pelarian. Laura kecil selalu takut melewati rumah itu. Namun, ketika mulai SMP, Laura tidak lagi menaruh minat pada rumah tua Maxwell. Bagi Laura, ada lebih banyak hal untuk dicemaskan, misalnya nilai nol di kuis matematika.

Selama bertahun-tahun aku dan Jack mengamati rumah itu, Tuan Maxwell tidak pernah menampakkan diri. Sekarang dia keluar dari cangkang misteriusnya hanya untuk melambai-lambaikan kertas kuisku dan memberikan buku tentang nol. (h. 23)

Akan tetapi, nilai nol tersebut justru membawa Laura mengenal pasangan Maxwell, yang ternyata lebih biasa dan normal dari gosip tentang mereka. Perkenalan itu bukan hanya membuat Laura tertarik dengan matematika—dan memperbaiki nilai-nilainya—tetapi juga membuat Laura memiliki teman-teman baru serta mengenal Teorema Terakhir Fermat.

Matematika dan Anak 12 Tahun

Membaca Teka-Teki Terakhir ini sangat menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena penulis menceritakan dari sudut pandang Laura yang berusia 12 tahun. Meski di beberapa tempat Laura terkesan dewasa untuk usianya, tetapi saya mendapati banyak bagian yang sangat relevan dengan gadis 12 tahun. Masalah yang dihadapi Laura dalam novel ini pun sederhana, tentang persahabatan, sekolah, dan sedikit cinta.

Namun, yang paling menyenangkannya justru adalah matematika dalam novel ini. Saya jadi ingat An Abundance of Katherines -nya John Green. Seru sekali membaca matematika dalam novel yang ringan, dengan tokoh seorang gadis berusia 12 tahun. Pantas saja Annisa Ihsani ini disebut sebagia John Green Indonesia, novel Teka-Teki Terakhir ini terasa seperti novel-novel John Green. Tidak melulu soal cinta, dalam, dan kaya.

Tuan Maxwell akan mengajarkan Laura tentang matematika, ada logika sederhana hingga Teorema Terakhir Fermat. Meski beberapa penjelasan terdengar njelimet karena dituliskan (saya tipe yang belajar matematika nggak pakai banyak tulisan sih ya), matematika yang terdapat dalam Teka-Teki Terakhir ini bakal bisa dipahami bahkan oleh mereka yang tidak suka matematika (meski mungkin harus baca dua kali sih).

Yang paling mengesankan soal percakapan Laura dan Tuan Maxwell soal matematika itu sendiri adalah ini:

“Lalu apa kegunaan teorema ini, Tuan? Maksudku di dunia nyata?”
“Kegunaan? Dunia nyata? Matematika murni tidak ada hubungannya dengan dunia nyata, Nona Muda! Matematika murni adalah tentang kebenaran dan keindahan. Siapa peduli dengan kegunaan.” (h. 74)

Keren! Dedikasinya luar biasa. Tokoh-tokoh di sekitar Laura ini punya hal yang sudah ditekuni sedari dini. Ada Tuan Maxwell dengan matematika dan Teorema Terakhir Fermat, ada Jack (kakak Laura) dengan astrofisika, dan ada Katie (sahabat Laura) dengan melukis. Sungguh bukan hanya Laura yang terbantu dengan dedikasi orang-orang di sekitarnya, pembaca juga (saya buktinya).

Menyoal Masyarakat

Latar novel ini memang tahun 1992, latar ceritanya juga mungkin terasa membosankan karena gitu-gitu saja. Namun, ada banyak hal yang masih relevan dengan kehidupan kita di masa kini. Misalnya saja soal gosip keluarga Maxwell dan bagaimana Laura menghadapi gosip-gosip tersebut.

“Beberapa orang lebih suka menyendiri, itu saja, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.” (h. 26)

Atau juga soal gosip yang menimpa Laura sendiri.

“Dengar, apa pun yang kau lakukan, akan selalu ada orang yang menganggapnya salah. Jadi, sebaiknya, lakukan saja yang kau suka, oke?” (h. 171)

Teka-Teki Terakhir memberikan pembaca pengalaman Laura, seorang gadis 12 tahun, menghadapi kehidupan sosialnya di masa-masa awal remaja. Menyenangkan sekali membaca bagaimana Laura menghadapi itu semua. Bukan hanya menyenangkan, ada banyak hal yang bisa dipetik dari segala hal itu.

Terakhir

Harus saya katakan bahwa riset yang dilakukan Annisa Ihsani ini tidak main-main. Matematika, Teorema Terakhir Fermat, Andrew Wiles, dan nama-nama yang muncul dalam buku ini nyata adanya. Yang lucu, nama James Maxwell itu pun benar-benar ada, tetapi tidak seperti Tuan Maxwell dalam novel ini, James Maxwell yang ini lebih terkenal di dunia elektromagnetika. 😀

Teka-Teki Terakhir mungkin ditujukan oleh remaja, terbukti dengan label teenlit di sana. Namun, novel ini bakal sama serunya jika dibaca mereka yang lebih dewasa. Buktinya saya.

Meski banyak yang kecewa dengan akhirnya, saya merasa cukup puas dengan segalanya. Karena, jauh di lubuk hati yang terdalam, saya tahu bahwa memang akhirnya harus begitu.

Terakhir, biarkan saya memberikan kutipan favorit.

“Baiklah. Kalau begitu anggaplah alam semesta akan berakhir. Tetapi aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Jadi, apa yang harus kulakukan dengan hidupku sekarang? Tentu saja, aku bisa menghabiskan waktuku tanpa melakukan apa-apa, berpikir toh semua akan sia-sia saja. Tetapi bukankah lebih menyenangkan mengisinya dengan menanam tomat, membaca buku, dan membuktikan teorema?” (h. 219)

Selamat membaca! Selamat menghabiskan waktu dengan hal yang tidak sia-sia!

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Teka-Teki Terakhir – Annisa Ihsani

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s