Deessert – Elsa Puspita

Deessert - Elsa Puspita

Judul: Deessert
Penulis: Elsa Puspita
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Pustaka


Bisa kamu dapatkan di Bukupedia


Deessert bercerita tentang Naya dan Dewa. Dua orang yang kembali ke kampung halaman dengan masa lalu belum selesai.

Naya adalah seorang presenter acara kuliner di televisi stwasta. Naya memutuskan berhenti dari karirnya dan kembali ke Palembang untuk ikut proyek sahabatnya, Lulu.

“Ini semua kayak udah takdir. Kamu udah niat resign pas aku sama Arfan baru mau jalanin proyek. Pertanda semesta, nggak boleh dibantah.” (h. 34)

Di sisi lain, Dewa yang telah menjadi  chef muda terkenal di Australia juga memutuskan pulang. Meski karirnya masih cemerlang dan punya kekasih cantik, Dewa tetap kembali ke Palembang.

Saat itu, baik Naya maupun Dewa tidak pernah tahu bahwa mereka akan kembali bertemu. Keduanya tidak tahu bahwa takdir akan memaksa mereka menyelesaikan masa lalu-masa lalu yang belum terselesaikan.

Cerita dalam novel ini dipenuhi dengan makanan. Food everywhere!

Bukan hanya Dewa yang seorang chef, calon suami Lulu, si Arfan juga seorang chef. Belum lagi orang tua Dewa dan Lulu ini punya katering. Lengkap dengan Naya yang mantan presenter dan hobi makan, Deessert menjadi salah satu buku yang nggak boleh dibaca saat kelaparan—atau kamu bakal ngiler setengah mati.

Dengan latar cerita pembuatan restoran, tentunya ada banyak makanan yang hilir mudik selama cerita. Makanan-makanan yang kalau saya sebut di sini, yakin deh bakal bikin ngiler. (Duh saya ngiler banget salmonnya!)

Nah, selain makanan, ada kisah cinta di Deessert.  Bisa dibilang inti dari novel ini adalah soal makanan dan kisah cinta. Kisah cinta utama tentu saja tentang Dewa dan Naya, yang belum selesai meski keduanya lantas punya kekasih—tepatnya mantan—ketika kembali bertemu. Selain mereka, ada kisah Arfan dan Lulu yang akan menikah. Juga cerita Damar, kakak Naya, yang belum yakin menikahi kekasihnya.

Kisah Dewa dan Naya sendiri sederhana. Namun, penulis berhasil mengemasnya dengan menarik. Pasalnya, gaya bercerita Elsa Puspita ini asyik. Ringan dan sering kali bikin ketawa.

Tuhan, dengan segala keajaiban-Nya, telah mengubah orang-orangan sawah menjadi salah satu model patung karya Michaelangelo. (h. 72)

Tanpa sadar saya sudah menghabiskan novel ini begitu saja dalam sekali duduk (tentunya dengan di sela kegiatan-kegiatan yang tidak bisa ditunda).

Penulis berhasil meningkatkan sedikit demi sedikit interaksi Naya dengan Dewa, serta membeberkan sedikit demi sedikit cerita dari pihak mereka. Pintarnya lagi, penulis berhasil menyajikan konflik demi konflik yang menunda penyelesaian kesalahpahaman di antara mereka.

“Kalian bisa sok nggak peduli, padahal dalamnya sama-sama berantakan.” (h. 111)

Nah, meskipun saya sangat menikmati gaya bercerita penulis, ada hal-hal yang mengganjal. Misalnya, tentang Ava yang dengan mudah muncul lagi di Palembang, di saat yang tepat pula padahal dia kan aslinya tinggal di mana. Selain itu, karirnya nggak bisa semudah itu ditinggal begitu lama, kan?

Ada juga soal tempat restoran mereka yang kok cepat banget sih dapatnya? Terlebih bukankah itu wilayah ramai? Nggak ada rebut-rebutan, kah? Bisa-bisanya langsung nemu begitu saja. Juga soal pendirian restoran yang kurang banyak gejolaknya. Saya memang belum pernah mendirikan restoran, tapi buat ngurusin stan makanan kecil di acara kampus saja ribetnya setengah mati apalagi bikin restoran, kan?

Hal lainnya itu soal bakery Dewa. Serius deh kok nggak se-“waw” yang saya bayangkan. Mungkin penulis memang sengaja merahasiakannya di awal-awal karena tokoh utama kita, Naya, belum melihat tempat itu. Namun, ketika Naya melihat tempat itu pun kok, gitu doang? Bukankah katanya sedari mereka SMA mereka sempat merancang bakery bersama?

Apa lagi ya? Kalau soal gaya bercerita sih saya suka ya. Cuma ya beberapa hal memang terlihat terlalu mudah dalam Deessert, termasuk pendirian bakery Dewa.

Meski demikian, novel ini punya cerita sederhana dengan gaya bercerita asyik yang nggak boleh dilewatkan. Tentunya lengkap dengan berbagai kutipan menarik—atau menohok?—soal pasangan (juga menikah).

“Satu hubungan itu harus berjalan dua arah, Dek. Nggak bisa cuma kamu, atau cuma dia. Harus dua-duanya.” (h. 243)

Saya merekomendasikan novel ini buat mereka-mereka yang menikmati cerita romantis. Saya jamin bakal naksir sama Dewa (seriously, dia terlalu sempurna! Meski saya lebih suka bayangan Dewa yang dulu, yang nerd—ahaha tokoh nerd dengan rambut berantakan dan berkacamata itu selalu bikin saya jatuh hati—Dewa ini tipe cowok idaman. Dikit bicara tapi penuh tindakan.

Sebelum menutup, biar saya berikan kutipan favorit saya.

Move on dengan balik ke kota asal sama kayak ngaku move on, tapi balkan sama mantan.” (h. 6)

Baiklah, apakah ini pertanda sebaiknya saya tidak pulang kampung setelah menyelesaikan studi? :)) *itu mah maumu haha*

Selamat membaca! Selamat menikmati!

Advertisements

One thought on “Deessert – Elsa Puspita

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s