The London Eye Mystery – Siobhan Dowd

The London Eye Mystery - Siobhan DowdJudul: The London Eye Mystery
Penulis: Siobhan Dowd
Penerjemah: Yoga Nandiwardhana
Penyunting: Primadona Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman
Pinjam Mbak Hani

“Salim tidak ada di sini,” kataku.
Lalu aku bilang, “Salim menghilang.” (h. 50)

Kehidupan keluarga Spark mulai berantakan ketika tante mereka, Gloria, dan anaknya, Salim, datang berkunjung setelah lima tahun tidak bertemu. Ibu dan anak itu berkunjung ke London sebelum pindah dari Manchester ke New York.

Di hari pertama kedatangan mereka, semua masih baik-baik saja. Anak-anak Spark, Ted dan Kat, mulai akrab dengan sepupu mereka yang telah lama tidak berjumpa itu. Sayangnya, pada hari kedua, ketika mereka berjalan-jalan untuk menikmati pemandangan di London Eye, Salim menghilang. Salim masuk ke dalam salah satu kapsul, tetapi Salim tidak pernah keluar.

Hari berganti, polisi sudah dihubungi, berita hilang disebar. Namun, tidak ada petunjuk keberadaan Salim. Di mana Salim?

Ted dan Anak Hilang

Sejak awal, bahkan sebelum kedatangan Salim, pembaca akan langsung diberi tahu bahwa narator cerita kita, Ted, adalah seseorang yang ‘berbeda’.

“Ada sesuatu di otakku.”
“Ya?”
“Aku bukannya sakit.”
“Bukan.”
“Atau bodoh.”
“Aku tahu itu.”
“Tapi aku tidak normal.” (h. 33)

Sampai cerita ini habis, sayangnya Ted tidak menyebutkan dengan jelas sindrom yang dideritanya. Setelah melalui pencarian, saya baru tahu sindrom yang dimiliki Ted disebut Sindrom Asperger. Sindrom ini menyebabkan otak Ted bekerja seperti komputer dan dia tidak kesulitan memahami komunikasi nonverbal dan kata-kata yang banyak arti.

Karena Ted yang menjadi narator, gaya bercerita dalam London Eye Mystery ini semacam kaku. Tidak ada banyak emosi. Di awal saya bahkan mengira Ted itu yang jauh lebih tua daripada Kat. Saya merasa seperti membaca dari sudut orang dewasa, hingga sampai pada keingintahuan-keingintahuan ala anak-anak yang diungkapkan Ted.

Gaya bercerita yang cukup kaku dan lambat ini, mungkin akan membuat beberapa orang bosan. Saya pun sempat merasakannya. Ditambah keberadaan Salim yang entah di mana itu, jadi gregetan banget. Namun, serius, saya usulkan untuk menarik napas, bersabar, dan lanjut membaca. The London Eye Mystery ini merupakan novel misteri anak-anak dengan paket lengkap. Ada thriller, suspense, dan tentu saja ala detektif.

Saya tidak pernah tahu bahwa kasus anak hilang bisa membuat semua orang—bahkan pembaca—merasa cemas, waswas, khawatir, dan merana. Ini bukan kali pertama saya membaca cerita dengan tokoh yang hilang, tetapi (sepertinya) ini kali pertama saya membaca cerita anak hilang dari sisi si-bukan-yang-hilang. Misalnya saja Narnia atau Alice in Wonderland deh, ceritanya bisa dibilang soal anak hilang, tetapi tidak ada ketegangan yang tercipta karena tokoh utama kita hilang. Yang ada justru petualangan.

Inilah yang membuat The London Eye Mystery terasa tegangs sekaligus membuat saya merana dan frustrasi.

Anak-Anak dan Orang Dewasa

Dalam The London Eye Mystery, pembaca akan diajak bertualang dalam kepala Ted dan aksi Kat. Kedua kakak-beradik Spark ini berusaha mencari Salim, tentunya dengan gaya mereka sendiri yang masih anak-anak.

Sebelumnya, harap jangan memberikan banyak ekspektasi. Tidak ada petualangan yang bebas, kendaraan sendiri, atau bahkan petualangan semacam dalam novel detektif anaknya Enid Blyton (saya cuma baca satu atau dua sih, dan udah cukup lama, semoga nggak salah). Penyelidikan Ted dan Kat ini terhambat berbagai macam hal. Mulai dari cuaca, dana, hingga orang tua. Hal ini yang membuat The London Eye Mystery terasa nyata dan dekat.

Nah, di tengah penyelidikan ini, sebagai seorang pembaca, jelas saja saya senantiasa merasa gregetan karena Ted maupun Kat tidak didengarkan oleh orang dewasa di sekitar mereka. Nasib jadi anak-anak selalu saja seperti itu.

“Anak-anak muda harus lebih didengar ketimbang orang-orang tua.” (h. 246)

Padahal, bisa dibilang baik Ted maupun Kat ini lebih jeli ketimbang siapa pun (atau ini karena cerita dituliskan dari sisi Ted ya?).

Terakhir

Bab 39, Hujan Malam, itu membuat air mata saya berderai. Serius. Saya nangis. Saya baca ulang bagian akhirnya saja pun, saya nangis lagi. Padahal saya sudah tahu, tapi air mata saya tetap mengalir. Huhuhu, Ted, Kat, Salim… *peluk-peluk*

The London Eye Mystery ini bisa saja disebut novel anak-anak, tetapi, saya yakin orang dewasa pun akan bisa menikmatinya. Terlebih mereka-mereka yang mencintai cerita misteri. Cobalah datang ke kepala Ted dan rasakan ketegangan di rumah keluarga Spark.

Selamat membaca!

 

Advertisements

One thought on “The London Eye Mystery – Siobhan Dowd

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s