Resensi · teen@noura · Thriller

Tiga Sandera Terakhir – Brahmanto Anindito

Judul: Tiga Sandera Terakhir
Penulis: Brahmanto Anindito
Penyunting: Hermawan Aksan, Miranda Harian
Penerbit: Noura Books
Pinjam Mba Dila


Bisa kamu dapatkan di Bukupedia


Lima orang turis disandera dari penginapan Mama Kasih. Kabarnya pelakunya adalah OPM. Namun, OPM tidak mengaku menjadi tersangka dalam penyaderaan itu. Kolonel Larung Nusa beserta pasukannya diperintahkan untuk menyelamatkan sandera tersebut. Akan tetapi, yang menyambut Nusa di lapangan bukanlah pasukan biasa-biasa saja. Para penyandera adalah pasukan terlatih dengan senjata benar-bukan senjata rampasan atau rakita.

Konflik semakin memanas setelah seorang sandera ditemukan tewas. Bentrokan tidak terhindarkan. Namun, siapakah sebenarnya lawan Nusa dan pasukannya di sini?

Tentang Militer dan Papua

Tiga Sandera Terakhir bercerita proses yang dilakukan Nusa dan pasukannya untuk menyelamatkan sandera.

Berhubung tokoh utama kita, Nusa, adalah bagian militer, sedari awal cerita, pembaca akan diberikan banyak sekali info kemiliteran. Mulai dari satuan Nusa, jabatan-jabatan, bagian-bagian militer, dan lainnya yang banyak sekali. Saya harus mengakui bahwa saya tidak ingat detail semunya. Terlalu banyak info kemiliteran yang saya dapat.

Selain itu, penyampaiannya pun tidak cukup menarik. Gimana ya, terlalu kaku gitu lho penjelasan militernya. Terus banyak istilahnya pula. Saya jadi baca sembari lewat saja pas penjelasan kemiliteran diberikan.

Lalu, dengan latar Papua, ada banyak soal Papua juga yang diberikan oleh penulis. Mulai dari adat, kebiasaan, budaya, suku-sukunya, hingga keadaan Papua saat ini (pembangunannya yang tertinggal hingga kondisi masyarakatnya) yang bukan rahasia umum lagi.

Membaca Tiga Sandera Terakhir ini bukan hanya mendapatkan cerita konspirasi, thriller, dan militer, melainkan juga ada banyak informasi.

Ketegangan yang Terlambat

Bagi saya pribadi, alurnya terlalu lambat. Nyaris separuh novel ini berisi awal-awal penyanderaan dan bagaimana Nusa berusaha menyelamatkan sandera dengan jalan damai maupun persiapan Nusa di lapangan. Ketegangan aksinya datang terlambat sehingga saya sudah nyaris bosan.

“Saya … hanya tidak ingin ada pertumpahan darah yang tidak perlu, Jenderal.” (h. 48)

Tentu saya setuju bahwa sebaiknya tidak ada pertumpahan darah yang tidak perlu. Sayang, sinopsis buku ini nyaris membeberkan separuh cerita utama (tidak detail memang, tapi kan pembaca sudah tahu ada sandera yang bakal tewas dan para penyandera itu bukan orang biasa). Jadi, saya pikir, tidak heran saya merasa bosan.

Ketegangan mulai hadir lagi ketika Ambo, salah seorang sandera, dipanggil menemui para penyanderanya.

Yah meski, menurut saya pribadi, ketegangan baru benar-benar terjadi ketika operasi militer berakhir dan Nusa tinggal untuk menghabisi sisa-sisa penyandera yang kabur. Nah, ini baru tegang yang sebenarnya! Sayang, porsinya dikit. Cuma sepertiga cerita kali ya. Itu juga nggak ada konspirasi berlapis atau twist nggak tertebak. Meski misteri dibalik jenderal penyandera itu bikin penasaran sih.

Setelah Usai

Novel ini ditulis dengan banyak kalimat informatif, yang sedikit membosankan. Namun, novel ini cukup berhasil menggambarkan kondisi sandera ketika mereka mulai disandera hingga penyelamatan.

Sayang, nggak banyak cerita selepas penyelamatan itu yang diungkapkan. Bagaimana respon masyarakat, bagaimana kondisi dunia, bagaimana keadaan sandera, bagaimana-bagaimana yang lain. Padahal nyaris separuh cerita pembaca diajak mengenal mereka. Namun, separuh akhir cerita pembaca hanya disuguhkan cerita Nusa (dan jenderal penyanderaan itu). Saya jadi merasa ada yang kurang.

Penulis juga tidak menceritakan banyak selepas kejadian di akhir. Penutupannya terlalu cepat dan pembaca tidak diberikan sebanyak di awal. Padahal di awal itu cukup detail dan lambat. Namun, akhirnya terasa gitu tok. Saya jadi kecewa.

Untungnya, rekan-rekan Nusa dalam operasi yang terakhir itu berhasil bikin ketawa. Akhirnya juga bikin senyum, meski banyak yang masih membuat pertanyaan.

Keseluruhan, novel ini cukup menarik. Khsususnya buat kamu yang penasaran soal kemiliteran atau tertarik isu Papua. Juga buat kamu yang senang cerita aksi, serta kamu-kamu yang nggak masalah dengan banyak detail kemiliteran.

Untuk menutup, saya berikan satu kutipan favorit saya.

“Dinding punya telinga, Bapak.” (h. 184)

Selamat membaca!

Diikutsertakan dalam

Banner Posbar 2016

Advertisements

4 thoughts on “Tiga Sandera Terakhir – Brahmanto Anindito

  1. wah, temanya sih menarik banget yaah.. tentang konflik papua masih jarang dibahas soalnya. hanya saja gaya penyampaiannya mungkin terlalu seperti textbook ya, hihi… tapi tetep penasaran juga nih aku.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s