Perfect Pain – Anggun Prameswari

perfect-pain-anggun-prameswari

Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penyunting: Jia Effebdu
Penerbit: GagasMedia
Tebal: viii + 316 halaman

Seperti yang kubilang sebelumnya, meja makan merekam kisah-kisah yang ada di sebuah keluarga. Kadang-kadang aku bertanya, kalau meja makan bisa bicara, apa benda itu akan memohon untuk berganti pemilik, sehingga bisa merekam kisah-kisah yang lebih bahagia? (h. 20)

Sudah lama Bi dipukuli Bram, suaminya. Sudah lama pula sosok Bram dalam kepala Bi berubah dari malaikat penyelamat menjadi malaikat kematian. Bi mungkin memilih mengakhiri hidupnya jika tidak ada Karel, anak semata wayangnya.

Bi bertekad untuk bertahan demi Karel. Namun, takdir mengantarkan Bi dan Karel pada Sindhu, seorang pengacara yang kerap membela korban-korban KDRT. Takdir juga membawa Bi untuk membuka masa lalunya yang kelam di rumah kedua orang tuanya. Takdir juga memaksa Bi untuk berubah dan bertindak, sebelum Bi kehilangan segalanya.

Isu KDRT

KDRT bukanlah isu yang jarang diangkat dalam fiksi. Isu-isu ini umumnya diangkat dalam cerpen-cerpen koran Minggu atau novel sastra. Dalam novel populer pun isu KDRT pernah beberapa kali saya baca. Namun, Perfect Pain adalah novel pertama yang berusaha mengulas isu ini dari sisi korban sebagai karakter utama. Bukan lagi karakter pendukung atau pelengkap atau orang tua tokoh utama.

Dalam Perfect Pain, pembaca akan menemukan Bidari alias Bi. Perempuan tipikal korban-korban KDRT. Dipaksa lemah. Dipaksa bergantung. Dipaksa meyakini dirinya tidak berharga.

“Kalau kamu kuat dan mandiri, kamu tidak akan mudah disakiti.” (h. 150)

Ditambah dengan masa lalu Bi yang tumbuh di keluarga dengan Ayah keras dan tidak melimpahkan Bi dengan kasih sayang, lengkaplah karakter lemah lahir di diri Bi.

Isu KDRT yang dibawa dalam Perfect Pain ini berlapis-lapis dan banyak. Ada dalam rumah tangga Bi dan Bram. Ada dalam rumah kedua orang tua Bi. Ada dalam rumah tangga-rumah tangga karakter-karakter lain, yang melengkapi jalah hidup Bi.

“Aku nggak mau pulang. Aku mau di sini sama Om Sindhu.”
“Karel!”
“Aku bisa mati kalau pulang. Mama juga.” (h.52)

Bacaan yang Suram

Novel ini bakal menjadi sebuah bacaan yang penuh makna bagi siapa pun. Saya yakin pembaca akan ikut merasakan sakit dan pilu yang diderita Bi. Pembaca juga akan merasa gregetan dengan pilihan-pilihan salah yang dibuat Bi.

Dengan karakter utama korban KDRT dan isu yang diangkat, Perfect Pain sukses menjadi bacaan yang suram. Saya menghabiskan waktu cukup lama membaca novel ini. Saya juga sempat meninggalkan novel ini beberapa waktu lama di tengah-tengah karena membaca kehidupan Bi membuat saya merasa begitu helpless sekaligus sebal atas Bi yang pasif, tidak percaya diri, dan lemah.

“Bi, setiap orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu.” (h. 187-188)

Ditambah dengan fakta hubungan Sindhu dan Elena yang rusak setelah itu, saya merasa perlu mengambil jeda. Saya tahu bahwa Bi tidak mendapatkan banyak kebahagiaan. Saya juga cukup yakin bahwa Sindhu dan Elena sebenarnya tidak begitu cocok. Namun, saya merasa gimana gitu begitu sampai bagian ini.

Hal lain yang membuat saya sedih adalah tidak ada yang berakhir bahagia dengan kesempatan kedua. Seperti Bunda Roem, saya percaya bahwa setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua untuk berubah menjadi lebih baik.

“Setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua,” jawabnya. “Apa orang bisa berubah? Bisa iya,bisa tidak.” (h. 202)

Sayangnya, dalam Perfect Pain tidak ada yang memiliki akhir bahagia dengan hal ini. Sayang sekali. Padahal hal ini bisa memperkaya Perfect Pain sebagai sebuah novel yang mengangkat isu KDRT.

Terakhir

Perfect Pain berusaha menyampaikan asal-mula KDRT bisa terjadi dan bagaimana hal ini bisa seperti lingkaran setan jika kedua belah pihak tidak benar-benar berubah. Perfect Pain menyadarkan kita bahwa terlepas apa pun gender-mu, seorang manusia haruslah kuat. Dan seorang manusia tidak punya hak mengambil hak manusia lain.

Sebagai penutup, biar saya berikan kutipan kesukaan saya.

“Jangan jadikan orang lain sebagai alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya, manusia itu sendiri. Kita labhir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian.” (h. 91)

“Maafkan dulu semua yang menyakitimu. Maafkan juga dirimu sendiri karena selama ini membiarkan dirimu disakiti.” (h. 205)

“Kita hidup di detik ini, bukan sedetik yang lalu atau sedetik yang akan datang.” (h. 267)

Mari memaafkan diri sendiri dan selamat hidupkan hidup! Selamat membaca!


Buku ini bisa kamu dapatkan di Bukupedia.


PS. Saya baca buku ini via google play book dan merasa begitu nyamaaaaan. Jadi pengin review google play book. Semoga kesampaian.

Advertisements

2 thoughts on “Perfect Pain – Anggun Prameswari

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s