Gramedia Pustaka Utama · Resensi · Young Adult

Replay – Seplia

replay-seplia

Judul: Replay
Penulis: Seplia
Penyunting: Didiet Prihastuti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 216 halaman
Pinjam dari Mba Ina


Replay bisa didapatkan di Bukupedia


Sejak sang ibu meninggal dunia, Nada meninggalkan rumah. Gadis itu pindah ke apartemen dan tinggal seorang diri, meninggalkan rumah, ayah, dan seorang perempuan perebut kebahagiaan keluarga Nada bernama Diana. Nada ingin hidup dengan tenang dan menjauh dari orang-orang yang sudah membuat ibunya pergi selamanya.

Namun, di apartemen barunya, Nada justru bertemu Audy dan pacarnya Nino. Kedua orang itu justru membuat Nada harus mengingat trauma soal kematian sang ibu yang bunuh diri. juga membuat Nada harus menghadapi kenyataan ayah yang akan menikahi Diana, selingkuhannya yang membuat Nada kehilangan segalanya.

Nada, si Karakter Utama

Replay bercerita tentang Nada, seorang gadis yang mempunyai pengalaman menemukan tubuh ibunya yang bunuh diri. Juga seorang gadis yang punya tetangga sering mencoba bunuh diri. Jadi, isu bunuh diri cukup akrab diangkat dalam novel ini.

Menemukan ibunya bunuh diri membuat Nada mengaku trauma dengan hal-hal berbau bunuh diri. itulah sebabnya Nada berjanji tidak akan membiarkan ada orang di sekitarnya lagi yang bunuh diri. Sayangnya, ketika membaca Replay, saya tidak mendapatkan “trauma bunuh diri” dalam karakter Nada. Nada juga berjanji akan membantu Audy, tapi saya pikir Nada akan berbuah lebih dari itu jika dia memang benar-benar ingin mencegah orang di sekitarnya bunuh diri.

Tidak ada bagian Nada berusaha memahami atau mengutuk ibunya yang bunuh diri dan meningalkannya. Nada juga tidak sebegitu membenci ayah dan Diana, yang bisa dibilang secara tidak langsung membuat Nada kehilangan sang ibu. Mungkin Nada memang sudah melewati masa berkabung atas pilihan kematiaan sang ibu ketika penceritaan Replay dimulai, tetapi hal itu pasti akan membekas dan mengubah hidup seorang Nada, kan?

Memang Nada digambarkan sebagai karakter yang sinis, tetapi karakternya sendiri suka tidak stabil, mirip Audy (yang dituliskan penulis punya masalah kejiwaan dengan kebiasaannya mencoba bunuh diri melulu). Nada ini terlalu ingin tahu dan ikut campur. Dia juga mendadak begitu menuntut dan lancing (meski akhirnya dia sadar) ketika bersama Nino sehingga karakternya yang sinis dan getir selepas kehilangan segalanya terasa lenyap. Nada juga terlalu senang menghakimi (menghakimi ayah dan Diana masih bisa saya pahami, tetapi meski Audy menyebalkan kenapa Nada tidak bisa simpati pada Audy padahal Audy sedikit-banyak mirip ibunyakan? Nada juga langsung menghakimi Nino begitu tahu soal masa lalu Nino dan Audy) sehingga sulit untuk simpati padanya. Padahal Nada ini punya masa lalu yang bisa membuatnya lebih simpati pada orang-orang lain. Atau justru karena hidupnya yang bahagia mendadak rusak dan berubah, dia berubah menjai gadis apatis?

Namun, kalau Nada berakhir apatis dan misalnya jadi hanya peduli pada karir tarinya, kenapa Nada justru saat itu masuk ke kamar Audy? Jujur, saya nggak bisa memahami tindakan Nada dalam Replay ini untuk urusan yang berhubungan dengan bunuh diri dan Audy. Nada juga tidak berusaha memahami alasan paling mendasar Audy mencoba bunuh diri dan langsung saja berkata “begini, begitu” kepada Audy.

Isu Bunuh Diri

Meski banyak yang bilang novel ini mengupas isu bunuh diri, bagi saya pribadi, tidak banyak yang dieksplor dari isu ini. Karakter ibu Nada hanya muncul sekilas lewat kilas balik ingatan Nada ketika menemukan tubuh ibunya bersimba darah. Karakter Audy sendiri tidak banyak dibahas karena cerita dikisahkan dari sudut Nada. Bahkan, karena Nada jauh lebih dekat dengan Nino ketimbang Audy, isu bunuh diri ini makin tenggelam.

Alasan Audy mencoba bunuh diri memang sudah dibeberkan penulis, tetapi penyelesaikan yang diberikan terkait Audy dan bunuh diri ini terlalu tergesa. Terlebih tidak ada tanda-tanda bahwa Audy berusaha memahami dirinya dan masalah bunuh dirinya, padahal dia kan mahasiswa psikologi (saya pikir jika dia berkuliah dengan benar, tentu saja dia akan belajar mengenali dirinya dan masalahnya, kan?) Ditambah lagi akhir yang, yah, fairy tale like banget dalam percintaan Nada dan Nino ini.

Saya jadi merasa bahwa daripada isu bunuh diri, isu orang ketiga, perselingkuhan, memaafkan masa lalu, cinta, dan keluarga adalah yang lebih mendominasi kisah di Replay.

“Ada dua jalan yang dipilih manusia jika ditimpa masalah. Bangkit dan melanjutkan hidup, atau tetap berlimang duka dan menyiksa diri sendiri.” (h. 198)

Terakhir

Sebagai novel berlabel young adult, tema yang diangkat dalam Replay ini memang lebih dewasa. Sayangnya, banyak adegan yang kurang smooth, terlebih di awal. Interaksi Nada dan Nino di ruang rahasia itu juga tidak terasa lancar (saya masih penasaran, di kampus mana sih ada ruangan yang bisa jadi ruang rahasia gini? Ngiri!). Tumbuhnya perasaan Nada dan Nino juga terlalu cepat, telebih dengan fakta keluarga Nada kan?

Replay masih ditulis dengan kurang smooth, terlebih interaksi karakter-karakternya di awal-awal. Orang-orang di sekeliling Nada pun banyak disebut dengan “teman Nada”. Dosennya pun disebut “dosen”. Ditambah lagi banyak kalimat yang cukup njelimet dan berputar-putar.

Meski demikian, Replay cocok menjadi bacaan yang cukup berat dan membuat berpikir. Replay juga berusaha mengangkat isu-isu yang cukup tabu, perselingkuhan, pre-marital sex, dan bunuh diri.

Sebelum menutup, saya cantumkan kutipan-kutipan yang saya suka.

“Bisa jadi kalian malah saling menyalahkan. Semua pasti berlagak menjadi korban. Berharap belas kasihan dan terhindar dari kebencian.” (h. 112)

“Kalau suatu saat kebahagiaan tak memihak, masih yakin kamu akan jadi orang baik?” (h. 143)

“Kita hanya berpura-pura semuanya tampak baik.” (h. 175)

“Untuk mendapatkan cinta yang bertahan sampai akhir hayat itu tidak datang dengan sendirirnya, melainkan diciptakan bersama.” (h. 204)

Selamat membaca! Mari lebih aware dengan isu bunuh diri!

Advertisements

2 thoughts on “Replay – Seplia

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s