Negeri Para Roh – Rosi L. Simamora

negeri-para-roh-rosi-l-simamora
Judul:
Negeri Para Roh
Penulis: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 288 halaman

Semua perjalanan selalu ditutup dengan pulang. Entah perjalanan itu jauh dan panjang, ataukah hanya trip singkat akhir minggu, atau sekadar ke kantor setiap hari. Kita selalu butuh pulang. (h. 27)

Perjalanan dan alam bukan hanya tentang keindahan atau hubungan antarmanusia atau kepulangan dan rumah. Perjalan dan alam seringkali bercerita tentang petualangan spiritual. Itulah yang saya rasakan ketika membaca Negeri Para Roh, meski saya hanya duduk membaca.

Novel ini bercerita tentang petualangan lima orang kru film ke Asmat untuk merekam kehidupan suku di pedalaman tersebut. Petualangan yang berakhir pada amukan alam yang memecahkan mereka. Juga mendamparkan mereka di pulau tak berpenghuni tanpa apa pun.

Adalah Senna yang menjadi pencerita utama dalam Negeri Para Roh. Suara Senna yang paling dominan dalam penceritaan novel ini. Mulai dari awal perjalanan ke Asmat, kegiatan syuting ritual suku Asmat, hari-hari terdampar, hingga sembilan tahun berselang sejak peristiwa itu, sebagian besar diceritakan dari sudut Senna.

Senna jugalah yang membuat saya bertahan terus membaca sampai akhir. Karena saya penasaran alasan yang menyebabkan lelaki bernama Senna tidak bisa melupakan kejadian itu meski sembilan tahun telah berlalu.

Berapa lama kita terus memelihara kenangan? Berapa lama usia kenangan sebelum akhirnya luruh dimakan waktu? (h. 75)

Negeri Para Roh seperti kepingan puzzle yang tersebar. Alurnya acak. Meski pembaca diberitahu timeline kejadiannya, tetap ada yang terasa kosong ketika mulai membaca. Segalanya menjadi sempurna dan utuh ketika mencapai akhir buku. Dan harus saya katakan, penulis berhasil mengajak saya dalam petualangan Senna dkk. Entah bagaimana, saya seolah ada bersama mereka. Terdampar. Terasing. Putus asa.

“Jangan khawatir tentang hari esok, karena hai esok memliki kesusahannya sendiri.” (h. 200)

Juga merasa lega ketika akhirnya ditemukan. Saya bahkan tidak bisa menahan air mata yang mulai meleleh. Juga merinding atas segala sesuatu yang terjadi. :”)

Ditambah dengan gaya menulis yang aduhai, cantik sekaligus magis, saya yakin Negeri Para Roh menjadi novel yang membawa pada perenungan.

Yang menjadi kekurangan, menurut saya, adalah alasan dibalik perasaan melankolis Senna sepanjang cerita. Saya tidak berhasil memahami apa yang mendasari Senna tidak bisa melepaskan hal itu. Apakah perasaan bersalah? Kehilangan? Rasa penasaran? Hal-hal di luar logika yang sulit diterima? Gabungan semuanya? Atau apa?

Mungkin saya akan lebih memahami jika porsi interaksi Senna dan Bagus diperbanyak. Karena sepanjang cerita, saya lebih merasakan kedekatan Bagus dengan Hara.

Meski saya tahu benar, jika saya ada di posisi Senna, saya bakal merasa kehilangan yang teramat sangat juga. Namun, ya itu, sebagai seorang pembaca, orang luar, saya tidak berhasil mendapatkan alasan di balik sembilan tahun Senna tidak bisa melupakan. Saya merasaka ada yang kurang. Sesuatu tentang Bagus, sesuatu tentang pemuda itu di antara teman-temannya selama proses syuting.

Selain itu, penceritaan masa lalu karakter-karakternya terasa nanggung. Saya benar-benar menyadari bagaimana Totopras menatap hidup dengan pandangan berbeda ketika terdampar. Sayangnya, tidak banyak yang dieksplorasi dari masa lalunya yang pecinta takhayul. Seperti itu juga dengan masa lalu Sambudi yang menyebabkan lelaki itu getir. Atau bagaimana seorang Hara, gadis kota yang manja, sebelum dia menjadi presenter mereka.

Memang masa lalu mereka bukanlah hal paling penting dalam cerita ini. Namun, masa lalu itu jugalah yang membuat saya sadar bahwa mereka mendapatkan sesuatu selepas perjalanan ke Asmat. Dan masa lalu mereka yang terasa kurang banyak dieksplor menyisakan penasaran dalam diri saya.

Terlebih masa lalu Senna dan Bagus.

Selain perjalanan yang membawa pada perenungan, Negeri Para Roh ini kaya dengan kehidupan suku Asmat. Ada dongeng-dongeng suku Asmat yang telah beredar dari mulut ke mulut si pencerita. Ada budaya dan adat yang tergerus waktu. Ada sejarah yang menyimpan cerita tentang perubahan.

Ada sebuah kutipan yang sangat menyentil tentang suku Asmat dan dunia. Kutipan yang membuat saya tergugu sebelum mendesah panjang penuh penyesalan.

Mereka tidak pernah ditanya apakah ingin menjadi manusia modern, juga tidak diberi pilihan. Mereka dicap liar, kanibal, dan dipaksa berubah agar menjari serupa dengan dunia. (h. 82)

Terlebih karakter seorang Bagus berkata bahwa kita tidak boleh menghakimi adat dan budaya mereka yang terkesan sadis itu tanpa tahu alasan di baliknya. Dan alasan-alasannya tidak banyak dan gambalang ditulis di novel ini (mungkin keterbatasan segala macamnya juga ya, lagi pula ini kan novel). Saya jadi kepingin baca literature yang menceritakan budaya suku Asmat ini karena penasaran dan ucapan Bagus.

Selain itu, ada sentilan lain. :”)

Mengenaskan memang, ritual-ritual yang dulu begitu sakral dan hanya dilakukan dengan menaati siklus ritual yang ketat serta demi keseimbangan dalam roh dan alam mereka sendiri, kini menjadi komoditas komersial yang dapat diadakan kapan saja asalkan dibayar. (h. 145)

Secara keseluruhan saya menyukai Negeri Para Roh. Gaya penulisannya cantik sekali. Perasaan tokoh juga berhasil sampai kepada saya, pembacanya. Lengkap dengan tambahan budaya Asmat, yang meski saya cukup sedih karena sedikit dan cerita syuting mereka nggak banyak, juga kurang cerita dibalik asal muasal atau alasan ritual dilaksanakan (kalau banyak ntar jatuhnya mah ensiklopedia ya lol), novel ini berhasil menambah pengetahuan kekayaan budaya Indonesia.

Selain itu, novel ini juga membawa perenungan tentang kehidupan dan kematian. Juga Tuhan.

Sebelum menutup, biar saya berikan kutipan-kutipan lain favorit saya.

Ada percakapan-percakapan penuh racun, Bagus tahu benar, dan percakapan monolog yang dilakukan di dalam benak biasanya selalu beracun. (h. 61)

“Rumah-rumah senang menyimpan gema suara-suara penghuninya terdahulu. Begitulah cara rumah-rumah itu mencintai para penghuninya.” (h. 147)

“Tuhan berhak memutuskan apa saja yang Dia inginkan. Tidak ada hubungannya dengan kita, begitu kata Bagus.” (h. 190)

Selamat membaca! Selamat bertualang!

PS. Kovernya JUARA! Cakep banget!

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s