Tempat-Tempat (Tidak Disangka) Bisa Baca Buku

Nggak sangka sudah masuk bulan akhir September Oktober! Woah, tanpa terasa waktu telah berlalu begituuuu cepat. Rasanya baru kemarin berniat rutin ikut Posbar BBI tahun 2016 ini. Eh ternyata sudah sampai posbar ke-9. XD

Tema posbar bulan September adalah #TempatBaca. Meski rerata pada memberikan tempat baca favorit, saya sendiri memilih menuliskan tentang “tempat-tempat (tidak disangka) bisa baca buku”.

Tempat-tempat bisa baca buku mah ada banyak ya. Kasur jelas tempat baca favorit saya. Namun, sebagai seorang yang kerjanya ngalor-ngidul ke sana-sini, saya jadi sering membaca di mana pun. Bahkan mungkin di tempat-tempat yang terkesan ajaib buat beberapa orang, haha. (Meski kayaknya sesama pembaca buku pun pernah membaca di lokasi-lokasi seperti yang saya cantumkan ini.)

Bank (dan tempat-tempat mengantri lainnya)

sumber gambar di sini

Saya memang nggak sering-sering banget datang ke bank. Namun, belum pernah saya tidak mengantri ketika datang ke tempat satu iniΒ  meski saya sudah datang pukul delapan pagi. T.T

Nah, kegiatan mengantri ini jelas membutuhkan waktu lama. Belum lagi kalau cuaca panas luar biasa, ditambah beban pekerjaan yang belum selesai atau deadline yang semakin mencekik, plus ada orang-orang sewot yang antri di belakang kita. Duh, rasanya mengantri ini bagai siksaan!

Nah, solusi untuk segala hal ini adalah membaca, Saya tergolong seseorang yang jika telah sibuk dengan kegiatan saya sendiri cenderung abai pada lingkungan sekitar. Jadi, meski kaki saya pegal-pegal habis berdiri, paling tidak buku yang selalu terselip dalam tas nggak cuma jadi beban tambahan sehari-hari.

Kegiatan antri-mengatri ini pernah membuat saya berhasil menyelesaikan sebuah buku dengan tebal 300an halaman! Wow! Luar biasa sekali penantian yang saya lakukan ya. :”D

Bisokop (atau tempat-tempat menunggu lainnya)

Selain mengantri, menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan. Menunggu yang paling menyebalkan tentu saja menunggu teman tukang ngaret yang tak kunjung datang.

sumber gambar di sini

Saya bukan pengunjung setia bioskop, tetapi terbilang adalah satu-dua kali saya ke bioskop dalam satu tahun. Nah, meksipun saya pergi menonton bersama teman, seringkali saya selalu datang seorang diri. Entah karena saya ada kegiatan sebelumnya, atau lain hal. Oleh sebab itu, terbilang sering saya duduk ngaso di ruang tunggu bioskop.

Selain saya tentu saja ada banyak orang-orang lainnya. Mereka bergerombol, mengobrol, main gadget. Berhubung saya sendiri, kan nggak mungkin saya mengobrol. Kecuali saya mau disangka kurang waras. Alhasil, buku senantiasa menjadi teman saya paling setia.

Rumah Makan

Zaman sekarang, sering kali kita berkumpul dengan teman-teman lalu berakhir … saling sibuk dengan gadget masing-masing. Memang benar katanya bahwa teknologi itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

sumber gambar di sini

Saya sering mengeluarkan buku ketika teman-temann makan saya pada sibuk dengan gadget sendiri. Atau ketika saya sedang makan sendiri dan menunggu pesanan diantarkan. Lumayan bisa dapat beberapa lembar.

Yang jangan dilupakan adalah segera menyimpan buku ketika ingin menyantap makanan. Kamu nggak mau ada noda makanan tersisa di buku-bukumu kan?

Angkutan Umum

sumber gambar di sini

Perjalanan, terlebih perjalanan jauh lewat darat dengan kendaraan beroda, seringkali membuat kita seakan menyia-nyiakan waktu. Masalah macet, jalan yang berliku, dsb masih menghantui. Saya memang bukanlah pengguna kendaraan umum rutin, karena sehari-hari saya menggunakan motor. Namun, saya terbilang seringlah menggunakan angkutan umum yang berjalan di jalan-jalan aspal.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika membaca di angkutan umum semisal bus, angkot, minivan, mobil travel, dan saudaranya yang mirip itu ada dua: 1.) Perut terisi dan 2.) Penerangan cukup.

Perut terisi ini akan mencegah kita merasa mual dan ingin muntah ketika kendaraan bermanuver sedang kita sedang membaca. Berkat perut yang kenyang, dalam perjalanan Jogja-Jepara saya bisa menghabiskan separuh buku The Cuckoo’s Calling.

Lain lagi soal penerangan. Kalau yang ini hal wajib, ya. Kendaraan yang punya penerangan cukup ketika malam tiba itu palingan kereta dan pesawat. Kendaraan bermotor jelas bakal mengganggu jika punya penerangan yang mumpuni untuk membaca ketika melakukan perjalanan di malam hari. Oleh sebab itu, pastikan kendaraan yang kamu tumpangi punya penerangan cukup supaya kegiatan membaca pun bakal menyenangkan dan perjalanan tidak lagi terasa.

Itulah beberapa tempat yang bisa dipakai penggila buku untuk membaca buku versi saya. Tempat-tempat ini tanpa disangka berhasil membuat saya bisa membaca dimanapun dan kapanpun.

Kalau kamu, adakah tempat yang kamu tidak sangka bisa membaca buku dengan leluasa?

Tulisan ini diterbitkan untuk:

Banner Posbar 2016

Advertisements

6 thoughts on “Tempat-Tempat (Tidak Disangka) Bisa Baca Buku

  1. Aku setuju sama tempat2 yg kamu tuliskan ini. Haha. Emang sambil nunggu itu enaknya baca buku, jadi ga ngerasa buang waktu.. tapiiii masalahnya tiap baca buku sering lupa diri. Haha. Aku pernah keasyikan baca sampe lewat jauuuuuh banget dari tempat tujuan pas naik angkot, dan rasanyaa itu.. malu, lucu dan sebel juga.

    • Wah memang kalau di angkot harus sadar waktu dan tempat sih, kalau kebablasan kan gawat. Tapi kejadian sekali biasanya jadi pelajaran terus nggak terulang lagi nanti. XD

  2. aduuuh, aku kalo di angkutan umum atau kendaraan bawannya pusing dan mual hahaha… kecuali kereta sama pesawat kali ya soalnya mayan stabil. hebat lho kamu bisa baca di angkot πŸ˜€

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s