Wonderful LIfe – Amalia Prabowo

Judul: Wonderful LIfe
Penulis: Amalia Prabowo
Penyunting: Hariadhi & Pax Benedanto
Ilustrator: Aqillurachman A.H. Prabowo
Tebal: vii + 169 halaman

Wonderful Life merupakan cerita pengalaman Amalia dan anaknya, Aqil, yang menderita disleksia.

Buku setebal 169 halaman ini disajikan dengan penuh ilustrasi detail dan format menyerupai  picture book anak-anak. Perpaduan kisah nyata yang menyentuh dan format buku tidak biasa ini membuat Wonderful Life menjelma buku yang menarik. Belakangan saya baru sadar bahwa ilustrasi dalam buku ini dibuat oleh sang anak penulis. ((Kadang saya memang lemot ya :””DD))

Wonderful Life dibuka dengan sedikit kisah masa lalu penulis. Bagaimana lingkungan penulis tumbuh. Bagaimana keluarga penulis membesarkannya. Bagaimana penulis percaya pada dirinya sendiri untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Orang bisa bergunjing apapun perihal keluargaku, namun bagiku mereka tidak punya hak dan kuasa menentukan jalan hidupku. Masa depanku, hidupku, sepenuhnya milikku! (h. 6)

Awalan ini membuat pembaca mengenali Amalia, sang penulis, dengan baik. Pengenalan ini jugalah yang membuat pembaca serasa diceritakan langsung oleh sang penulis. Pengenalan ini juga yang mencegah pembaca untuk menghakimi bagaimana seorang Amalia berpikir dan bertindak ketika tahu anaknya, Aqil, menderita disleksia.

“Dalam keadaan seperti ini, seringkali anak berkebutuhan khusus yang disalahkan, dan menjadi fokus terapi. Padahal yang poerlu disembuhkan pertama kali justru orangtuanya, lingkungannya.” (h. 77)

Begitu tahu Agil menderita disleksia, Amalia tidak ingin percaya. Terlihat sekali bahwa penulis menolak kenyataan itu. Setelah bergulat dengan perasaannya sendiri dan mendapatkan pencerahan dari seorang supir taksi, akhirnya toh Amalia menyerah. Amalia menerima rencana Tuhan yang satu itu dan berjuang bersama Aqil.

“Ya, saya ndak tahu musibah Ibu. Tapi apalah artinya musibah jika dibandingkan berkah yang Ibu dapat.” (h. 93)

Di sinilah dimulai kehidupan yang baru bagi Amalia. Amalia, gadis yang dibesarkan dengan keras dan mendewakan akademis, harus mulai menatao hidup dengan cara yang baru. Cara yang membuatnya bisa memahami anaknya, Aqil. Cara yang membuat Amalia seakan keluar dari cangkang hidupnya menuju dunia yang lebih berwarna.

Perjalanan hiking, yang harus kutempuh dengan duduk berlama-lama di dalam angkot berbau matahari dan keringat, menyadarkanku bahwa ada orang lain dalam pusaran hidup kita, ada sisi dunia yang lain yang tak pernah kusadari. (h. 120)

Menyenangkan sekali membaca Wonderful Life ini. Perjalanan hidup Amalia bersama anaknya ini mengandung banyak sekali inspirasi dan kejutan. Sebagai pembaca, saya dibuat menanti-nantikan bagaimana kelanjutan perjuangan Amalia dan Aqil, juga nasib adik Aqil, Satria.

Kehidupan adalah petualangan yang penuh kejutan. (h. 129)

Ceritanya sendiri diceritakan dengan terlalu cepat. Banyak kejadian-kejadian yang terasa bolong dalam sejarah singkat hidup penulis. Namun, buku ini toh sebenarnya menceritakan hidup penulis dan anaknya, jadi saya bisa menerima bagian-bagian bolong ini (meski tetap saja saya penasaran).

Kekurangan lain dalam buku ini yaitu pemilihan font-nya yang tidak cukup ramah mata. Begitu mulai membaca, saya berulang kali terganggu dengan bentuk huruf-hurufhnya (meski memang bentuk hurufnya cocok sama ilustrasinya, sih). Juga pada peletakkan tulisa dalam buku ini yang suka miring kanan-kiri (meski saya juga semacam sadar belakangan bahwa ini mungkin antara nilai estetika dan menyesuaikan dengan ilustrasi). Namun, kekurangan-kekurangan yang tampak ini perlahan tidak lagi saya pedulikan karena penasaran dengan kisah Amalia dan Aqil (juga Satrai, yang sayangnya nggak terlalu diangkat).

Kekurangan yang saya sebutkan di atas sama sekali tidak mengurangi hal utama yang ingin disampaikan penulis. Tentang mengharagi anak-anak dan bakatnya, tentang tidak mendewakan akademis, tentang kehidupan yang penuh keindahan jika kita mencoba melihat dari sisi berbeda, tentang ketentuan Tuhan, dan tentang Aqil yang membuka dunia Amalia. Begitu menyelesaikan buku ini, saya ingin sekali bertemu Aqil dan mengorbrol dengannya untuk sekadar tahu bagaimana caranya menatap kehidupan sehingga gambarnya penuh kehidupan itu sendiri. :”)

Wonderful Life ini penuh inspirasi dan motivasi. Motivasi yang paling nyata tentu saja ditunjukkan oleh sang penulis, dengan segala pencapaiannya.

Aku, Amalia—anak daerah yang tak pernah mengenyam sekolah di luar negeri—telah membuktikan bahwa impian tidak datang dari langit.

Juga sang penulis dan anaknya yang berhasil membuat saya terenyuh begitu mengakhiri buku tipis penuh ilustrasi ini. :”)

Sebelum menutup, saya bakal menunjukkan beberapa contoh isi dan ilustrasi dalam buku ini. Biar pembaca mendapat gambaran secuil tentang hal-hal yang saya bicarakan.

wonderful-life-screenshot-1

Screenshot yang satu ini merupakan salah satu bagian kesukaan saya dari buku ini. Bagian yang membuat saya terenyuh. :”D

wonderful-life-screenshot

Wonderful LIfe bakal cocok dinikmati kamu-kamu yang menyukai buku motivasi. Atau kamu-kamu yang senang melihat buku penuh ilustrasi. Juga kamu-kamu yang sedang berusaha meraih mimpi. Dan kamu-kamu yang sedang (atau akan) membesarkan anak-anak peradaban.

Terakhir, saya tutup dengan kutipan kesukaan saya.

Alam tak pernah sibuk meributkan persaingan. Tidak ada kriteria, tak juga klasifikasi apa yang pantas dan tak pantas. Ia dengan begitu saja berjalan. Ia akan dengan senang hati menyediakan tempat saat kita mengingnkan ruang. (h. 142)

Selamat membaca! Selamat melihat dunia dari sisi berbeda!

PS. Penasaran sama edisi 2016-nya. Ilustrasinya berubah nggak ya?

Advertisements

2 thoughts on “Wonderful LIfe – Amalia Prabowo

  1. Wow😱 Reviewnya keren bnget kak. Smpe ngebayangin sndri gmna kehidupan yg Amalia jalanin. Thanks bnget infonya kak.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s