The Stardust Catcher – Suarcani

the-stardust-catcher-suarcaniJudul: The Stardust Catcher
Penulis: Suarcani
Penyunting: Didiet Prihastuti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 184 halaman

Apakah kamu percaya peri?

Di tahun kehidupannya yang ke-20, Joe tertimpa kesialan beruntun. Dia tertinggal rombongan kampusnya di Bali, di tempat yang asing. Dia nyaris terlempar ke jurang tanpa dasar. Dia dipalak penjual hingga duitnya tak bersisa. Dan dia dikejar-kejar polis karena membawa mobil orang lain kabur. Semua ini terjadi karena sesesok gadis cantik berbaju kuno mendadak muncul di hadapan Joe dan mengaku-aku sebagai peri jodoh Joe.

Yang benar saja! Bukannya bertemu sang jodoh, Joe justru tertimpa kesialan-kesialan ini semua. Bagaimana Joe mau percaya? Lagi pula, Joe tidak ingin percaya jodoh setelah mengetahui akhir hubungan kedua orang tuanya. Apa gunanya bersama jika akhirnya berpisah?

Begitu pikir Joe. Namun, sosok peri Jodoh bernama Sally itu memang benar mengantarkan Joe pada seorang gadis bernama Mala yang sekarat. Sally juga mengantarkan Joe pada kenyataan dibalik perceraian kedua orang tuanya.

Apakah Joe masih tidak percaya dengan peri jodoh setelah semua ini?

Petualangan Penuh Aksi dan Heroik

The Stardust Catcher ini tidak disangka-sangka ternyata sebuah buku berisi petualangan Joe yang penuh aksi dan heroik. Siapa yang tahu bahwa novel setebal 184 halaman ini akan penuh dengan kejadian-kejadian menegangkan?

Ditulis dengan gaya bahasa yang supel dan asik, The Stardust Catcher menjelma menjadi novel yang menyenangkan untuk diikuti. Penggunaan sudut pandang orang ke-3 juga membuat novel ini terasa punya porsi yang pas antara tiap karakter. Sebab narasinya dituturkan bergantian antara dua karakter paling utama, Joe dan Mela. Gaya bahasa dan penggunaan sudut pandang ini berhasil membuat pembaca merasakan perkembangan karakter-karakter dalam The Stardust Catcher.

Karakter yang paling terasa perkembangannya tentu saja Joe. Ditambah lagi penulis memberikan pengalaman tidak terlupakan bagi Joe—juga Mela, meski porsi Mela tidak begitu banyak. Meski pengalaman Joe terkesan sangat tidak mungkin dan fiksi (tapi toh ini memang karya fiksi), penulis berhasil meramu segala kemustahilan itu lewat latar dan karakter pendukung yang membumi. Sehingga pengalaman Joe terasa nyata. Latar Bali berhasil hidup dalam petualangan tersesat Joe semalaman.

Karena kota itu ada di sisi lain pegunugan, dan di Bali, pegunungan selalu diasosiasikan dengan hulu yang dalam hal ini adalah utara. (h. 78)

Tentang Keluarga

Isu cerita yang diangkat dalam novel ini sendiri terkait keluarga. Joe dengan keluarganya yang retak dan Mela dengan keluarganya yang tanpa orang tua. Lewat perjalanan tersesat di Bali, Joe dipaksa menyadari bahwa kebahagiaannya tidak mutlak berarti orang tuanya harus bersama. Lewat karakter Sally dan Mela, Joe dipaksa belajar soal kebahagiaan-kebahagiaan yang lain.

Meskipun karakter Sally, si peri, ini seringkali menyebalkan karena tingkahnya yang kekanakan. Sally terbilang lebih dewasa menyikapi beragam hal ketimbang Joe.

“Seandainya kamu memang hidup sendiri, beginilah orang-orang di sekelilingmu kelak. Mereka memang terlihat, tapi sesungguhnya mereka tidak hadir buat kamu.” (h. 99)

Yah, meski saya pun setuju sama Joe bahwa Sally termasuk salah satu hal yang membuat Joe tertimpa kesialan beruntun. Karekter Sally ini juga meyakinkan saya bahwa genre fantasi masuk ke dalam novel berlabel young adult ini.

Untuk unsur romannya sendiri, terbilang biasa saja. Awalnya saya penasaran bagaimana Joe dan Mela akan dijodohkan oleh Sally. Siapa yang tidak skeptis pada pertemuan jodoh ala-ala peri begini? Namun, semakin membaca, saya menyadari ada karakter-karakter lain dalam hidup mereka. Dan akhir yang diberikan penulis berhasil membuat saya merasa puas.

Kekurangan dalam novel ini paling terletak pada karakter Mela di rumah sakit yang sedikit menyebalkan. Memang sih Joe butuh disadarkan. Namun, entahlah, rasanya seperti terlalu digurui saking banyaknya petuah yang diberikan Mela. Lagi pula, Mela dan Joe juga baru bertemu, kan? Meskipun ada Sally, saya merasa Mela memang terlampau mencampuri hidup Joe.

Terakhir

The Stardust Catcher ini cocok banget dibaca kamu yang senang cerita penuh aksi dengan bumbu-bumbu komendi. Paling cocok dibaca oleh kamu, yang remaja menjelang dewasa, karena ada banyak yang bisa dipetik dari kehidupan Joe. Meski demikian, novel ini masih akan selalu relatable untuk kamu-kamu yang yang punya keluarga. Juga buat kamu yang percaya keajaiban.

Sebagai penutup, saya berikan kutipan yang dalam.

“Belajar bertangung jawab walaupun yang kamu lakukan itu bukan kesalahan.” (h. 145)

Selamat membaca! Selamat mencari kebahagiaan!

Advertisements

6 thoughts on “The Stardust Catcher – Suarcani

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s