Resensi · Sastra · Senja

Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti

Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah - Hamsad Rangkuti

Judul: Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah
Penulis: Hamsad Rangkuti
Penerbit: Senja
Tebal: 224 halaman

Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah adalah kumpulan cerpen karya Hamsad Rangkuti yang berisi 15 karya. Kumcer ini dibagi menjadi dua bagian (atau disebut belahan dalam buku ini). Belahan Pertama berisi 9 karya, sedang Belahan Kedua terdiri dari 6 karya dan 1 esai Seno Gumira Ajidarma.

Yang paling terasa dari cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti adalah kemiskinan. Ada berbagai macam kemiskinan yang dituliskan dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah oleh Hamsad Rangkuti. Ada perampok, gelandangan, orang pinggiran, dan kere-kere.

Dalam cerpen pertama di Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah yang berjudul Perbuatan Sadis misalnya, Hamsad Rangkuti menampilkan kemiskinan dalam dua karakternya: perampok dan wanita yang menggunakan perhiasan palsu. Dialog yang ada juga menunjukkan sindiran terhadap kemiskinan itu sendiri.

“Kau telah permainkan kami dengan kepalsuan. Sekarang kau harus menelan kepalsuian ini!” (h. 25)

Cerpen Perbuatan Sadis ini langsung saja berhasil menarik perhatian saya. Dengan twist berlipatnya, karakternya, dan penulisannya. Cerpen-cerpen yang hadir berikutnya pun menceritakan kemiskinan.

Dalam Sampah Bulan Desember, Hamsad Rangkuti menceritakan apa yang dilakukan oleh orang-orang ketika ada mayat seorang pria menyangkut di sungai. Mayat itu mengenakan jam tangan emas, cincin emas, dan bergigi emas. Orang-orang berusaha mendekati mayat itu, bukan untuk menyelamatkannya, melainkan untuk merampas harta bendanya. Sebuah cerpen sederhana yang bisa dengan mudah kita pahami.

Orang lupa pada bahaya karena ia mengininkan sesuatu. Bahaya tidak tampak, bila nafsu untuk memiliki sesuatu telah menguasai seseorang. (h. 43)

Cerpen ini sendiri ditutup dengan cukup mengejutkan—dan membuat saya semakin menyukai buku kumpulan cerpen ini.

Malam Tahun Baru di Sebuah Taman adalah cerpen ketiga. Cerpen ini kental dengan unsur magical realism. Bercerita tentang Sartiman yang rindu kampung halamannya dan melihat patung di pinggir taman kota mendadak hidup ketika tersambar petir.

Cerpen keempat berjudul Kalah. Bercerita tentang kematian adik Kasto. Cerpen ini tidak terlalu berkesan buat saya sih. Alasannya mungkin karena padanan kalimatnya membuat saya bingung dengan alur cerita yang terjadi. Sepertinya saya butuh waktu lagi untuk membaca ulang dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam cerpen Hamsad Rangkuti yang ini.

Karjan dan Kambingnya adalah judul cerpen kelima dalam Belahan Pertama buku Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti ini. Cerpen ini menceritakan sebuah peristiwa di hidup Karjan, seorang kere yang tinggal di dekat perlintasan kereta api. Suatu hari Karjan mendapati Parman, temannya turun dari kereta api. Parman yang telah sukses memberikan Karjan kambing untuk disantap oleh Karjan dan teman-teman lama Parman yang miskin. Lalu, cerpen ini ditutup dengan sebuah sentilan yang membuat saya menghembuskan napas berat.

“Orang kaya, temannya adalah orang-orang kaya. Orang miskin, temannya adalah orang-orang miskin. Orang miskin tidak mungkin memberi seekor kambing kepada orang miskin.” (h. 84)

Cerpen berikutnya berjudul Malam Takbir. Cerpen ini juga punya padanan kalimat yang membuat saya sedikit bingung. Meski pada akhirnya saya paham apa yang terjadi dalam cerpen ini. Ceritanya sendiri sederhana, tentang kejadian di malam takbir, sesuai dengan judulnya.

Selanjutnya ada Mimpi Buruk Marni. Bisa dibilang ini adalah salah satu cerpen kesukaan saya di kumcer Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah ini. Bercerita tentang orang tua Marni yang menemukan seorang anak diikat di depan rumah mereka. Surat yang membersamai anak itu meminta orang tua Marni merawat sang anak dan mereka akan diberi ganjaran atas perbuatan mereka. Sederhana bukan? Namun, Hamsad Rangkuti memberikan kejutan di akhir cerita.

“Kau mimpi?”
“Persisi seperti yang diceritakan orang yang datang pada waktu tengah malam menjemput anak perempuan yang terikat itu.”
“Kalau begitu, sekarang giliran kita!”
“Menjadi kaya?”
“Menjadi kaya!” (h. 105)

Kesalahan yang saya temukan dalam cerpen ini adalah penulisan nama Marni yang menjadi Mumi. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Saya sempat bingung apakah ini benar-benar kesalahan atau memang namanya berubah jadi Mumi?

Penyair Bahman adalah judul cerpen berikutnya dalam kumcer ini. Bercerita tentang Bahman, seorang penyair miskin yang karyanya ditolak, dari sudut seorang temannya. Cerpen ini menceritakan kegetiran dan kemiskinan hidup di ibu kota, seperti mayoritas cerpen-cerpen lain di buku ini. Sebagai akhir cerpen di Belahan Pertama, Penyair Bahman bisa dibilang sukses menutup bagian ini.

Selanjutnya, kita beranjak menuju Belahan Kedua. Cerpen pertama pada Belahan Kedua dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti ini berjudul Suara-Suara. Cerpen ini berisi seseorang yang mengingatkan teman-temannya agar “Jaga kesehatan. Kita tidak boleh kehilangan satu suara.” Cerpen ini ironis. Sekaligus menggelitik. Karena “suara” di sini berarti ganda.

Cerpen kedua pada Belahan Kedua adalah yang menjadi judul kumcer ini, Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah. Cerpen ini masih bercerita tentang kemiskinan, yaitu kisah wanita muda yang datang ke hotel mewah untuk menjual dirinya.

“Siapa yang tidak menjual dirinya saat ini, Ibu. Semua orang telah menjual dirinya. Karena semua orang mau menjadi pembeli.” (h. 143)

Selanjutnya ada cerpen berjudul Rencong. Cerpen ini sendiri dipenuhi kalimat-kalimat deskripsi dan narasi, sehingga membuat saya butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan (dan memahami ceritanya).

Di atas Kereta Rel Listrik adalah cerpen berikutnya dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti. Cerpen ini bercerita tentang kejadian pembunuhan di atas gerbong kereta rel listrik. Bagi saya pribadi, cerpen ini adalah cerpen paling sadis dan memilukan dalam kumcer ini. Cerpen ini juga yang membuat saya paling lama duduk diam dan merenung dengan akhirnya.

Cerpen berikutnya adalah Sukri Membawa Pisau Belati. Cerpen ini bercerita seperti judulnya, tentang Sukri yang membawa pisau belati untuk menemui kekasihnya (yang ternyata bersama lelaki lain). Alurnya membulat dan bisa dibilang cerpen ini cukup absurd. Namun, sebagai cerpen penutup, saya katakan cerpen ini cocok sekali. Karena cerpen ini berhasil membuat saya terkesima.

Untuk Siapa Kau Bersiul? adalah cerpen terakhir dalam buku kumcer ini.  Bercerita tentang seseorang yang menunjukkan duka dengan cara bersiul. Sebuah cerita yang syahdu yang menjadi penutup.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti ini bercerita tentang kemiskinan dan kehidupan kaum kere (saya baru kali ini dengar istilah kere digunakan begini) dengan jalinan cerita yang menyentil dan ironi. Sebuah kumcer yang cocok dinikmati dengan santai di sore hari sambil merenungi kehidupan.

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti

  1. Saya baru baca cerpen beliau yang Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu, dan Pispot, dan saya langsung jatuh hati 😦
    Kemarin dapat kumcernya yang Panggilan Rasul, belum sempat baca tapi hehehe~
    Kalau berkenan, boleh baca cerpen saya yang terinspirasi dari dua cerpen beliau?

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s