Blog Tour · Elex Media Komputindo · Wawancara

[Blogtour Reuni] Tanya Penulis

blogtour-reuni

Seperti biasa, ketika saya membaca, ada pertanyaan-pertanyaan yang timbul di kepala. Kenapa begini, kenapa begitu, gimana penulis bergulat dengan tulisan, dsb. Untungnya, ketika membaca Reuni ini, penulisnya bersedia saya tanya-tanya! Yay!

Nah, supaya pertanyaan-pertanyaan ini nggak cuma berhenti di saya, saya akan membagikannya denganmu juga. Yang menjawab ketiga-tiganya, lho! ๐Ÿ™‚

Sebelum mulai, saya akan perkenalkan sedikit tiga penulis Reuni ini.

Brigida Alexandra Marcella (BA) adalah lulusan Komunikasi Massa yang mengidap Attention Deficit Disorder (mungkin). Cerita selalu menjadi faktor yang dapat menghidupkan pikirannya. Bree bisa dikontak di brigida.alexandra@gmail.com dan instagram/twitter @brigidaalexandra.

Joe Andrianus (JA) telah menerbitkan cerpen berjudul “3-Some” dan “18+” serta novelet “Jendela” pada rentang tahun 2012-2014. Joe sendiri bisa dihubungi lewat instagram @joeandrianus.

Hally Ahmad (HA) berprofesi sebagai Freelancer Film Publiscis dan Event Specialist. Tulisan pertamanyaย  terbit tahun 2010 dengan judul “Malam Ini Aku Cantik”. Penulis dapat disapa lewat instagram @hally1noly.

Nah, itulah sedikit perkenalan ketiga penulis yang akan kita tanya-tanyai. ๐Ÿ˜€

Sekarang, mari mulai menelusuri pertanyaan-pertanyaan yang mengendap dalam kepala saya sejak membaca Reuni.Penulis Reuni kan ada tiga, bagaimana awalnya tiga penulis ini bertemu dan berniat menulis satu kisah bersama? Bisa diceritain sedikit nggak.

BA: Saya kenal Joe dan Hally sudah cukup lama. Saya tahu tulisan-tulisan Joe dan Hally yang sudah dipublikasikan sebelumnya sejak saya masih jadi wartawan. Tahun lalu, Joe sedang mencari penulis lain untuk kolaborasi. Di situ kita ngobrol and started an idea, karena kebetulan saya juga sedang ada ide untuk sebuah cerpen. Kemudian Hally also came onboard with us.ย 

Tapi ternyata, it also went twisted—kami nggak jadi buat kumpulan cerpen bertiga. Tapi we receive a challenge untuk buat novel bertiga. So I proposed to them, bagaimana kalau kita buat tiga cerita yang berjalan sendiri-sendiri tapi berkaitan, menceritakan suatu insiden yang sama dari angle yang berbeda-beda. So that’s Reuni you’ve read by now =)ย 

JA: As Bree said, saya kenal Bree dan Hally sudah cukup lama. Bahkan setiap buku yang saya jadi bagian dalam penulisannya, Bree dan Hally membantu acara launchingnya. Saya dan kenal Hally pernah berada dalam satu project buku “Q Book Stories” tahun 2009 dan saya kenal Bree semenjak Bree masih menjadi wartawan. Saya amati Bree dan Hally tidak asing dalam dunia “tulis-menulis”, lalu saya ย membuka ide untuk membuat buku fiksi bersama. Untuk cerita selanjutnya, sudah dijelaskan oleh Bree ๐Ÿ™‚

HA: Wahhh…ini mah sahabat lama semua, awalnya ngomongin tulisan satu sama lain sampai akhirnya Joe mencetuskan ide untuk menulis bareng Reuni ini yang kemudian tentunya saya sambut baik dong, menulis bersama dengan orang-orang berbakat yang sudah lebih dulu memulai berkarya tulis dibandingkan saya. Mau banget tentunya…

(Ini menjelaskan banyak hal! Sepertinya asyik ya menulis sama orang-orang yang udah dikenal lama gini. XD)

Dalam proses penulisan Reuni, secara ini ditulis oleh tiga orang, apakah ada perselisihan yang terjadi? Kalau ada, bagaimana cara tiga penulis ini mengatasinya.

BA: We’ve been friends for a long time. Bahkan kita nggak cuma tahu karakter masing-masing, tapi tahu kekuatan dan kelemahan tulisan masing-masing, berikut pola pikir. Kalau ada perbedaan, kita bisa overcome untungnya. Kesulitannya terletak di jadwal kita bertiga yang agak lumayan complicated. Saya sendiri memiliki 2 – 3 pekerjaan lain di samping pekerjaan utama. Menulis untuk novel ini menjadi tricky part untuk saya. Hingga saya memutuskan resign, novel ini baru bisa lumayan dikejar. (Wah! Sampai resign!)

Kesulitan lainnya adalah all of us wrote at the same time for each chapter. Joe duluan selesai, jadi saya harus estafet mengejar dan menyesuaikan jalur cerita. Tentunya ada beberapa hal yang sudah diinginkan kedua penulis dan tidak sesuai dengan apa yang ada di kepala saya, mau tidak mau harus saya ikuti untuk penyeimbangan cerita. Penafsiran kami bertiga tentang Arsha saja berbeda-beda, sementara tantangan saya adalah menciptakan karakter pria yang menggabungkan dua karakter lain yang terlibat dalam sebuah konflik.

JA : Perselisihan sih tidak, tetapi memang jadwal kita bertiga yang memang complicated. Saya memang agak lebih mengingatkan mengenai deadline karena kalau semakin lama melenceng dari deadline, maka -sesuai pengalaman- semakin lama juga proses cerita ini menjadi sebuah buku. Dan brief tentang masing-masing karakter dan alur cerita harus terus disamakan supaya tidak ada penulis yang melenceng dari brief semula. (Sepertinya Kak Joe bisa dibilang sebagai orang yang cerewet dalam proses penulisan, ya? XD)

HA: Sudah dijelaskan semua diatas itu detail, memang pada akhirnya deadline yang kadang bikin “kenceng-kencengan”, karena faktor kesibukan masing-masing yang berbeda jam kerja. Sama paling kalau buat saya (karena memang saya pelupa) mengingatkan alur cerita yang terkadang bikin Joe mungkin lebih banyak gemas sama saya tuh, ya kan Joe?? Hehehe. ย 

Reuni bercerita tentang tiga orang juga, seperti jumlah penulisnya. Apakah masing-masing penulis menulis satu tokoh? Apakah tokoh-tokoh yang ada diciptakan oleh seorang penulis saja atau dirembukkan bersama?

BA: Kami masing-masing menulis tokoh kami sendiri. Awalnya kami merembukkan gambaran besar cerita dan karakter sesuai dengan yang saya propose ke kedua penulis. Sisanya, pengembangan kami sendiri, termasuk adanya influence dari penafsiran dan pengembangan penulis lain.

JA : Untuk karakter masing-masing, kita mendiskusikannya supaya ada kesamaan persepsi tentang sifat dan permasalahan yang dialami masing-masing tokoh. Saya menulis tokoh Gita. Bree menulis tokoh Arsha. Hally menulis tokoh Ivanka. Untuk jalan cerita masing-masing tokoh, setiap penulis mendiskusikannya. Dengan begitu, penulis lain lebih dapat mengerti karakter, pergulatan permasalahan. Ini memungkinkan ada input dari penulis lain, dan memunculkan ide tambahan bagaimana akhir dari cerita Reuni ini.ย 

HA: Tampaknya sudah dijelaskan cukup detail sama Joe dan Bree diatas, kira-kira sama lah sama saya.ย  (*ikut setuju mangut-mangut*)

Tokoh-tokoh dalam Reuni ini punya masa lalu yang rumit, misalnya Arsha dengan ayahnya dan Ivanka dengan pengalaman buruknya. Apakah ada riset khusus yang dilakukan untuk mengembangkan karakter mereka?

BA: Untuk Arsha, saya riset sedikit saja dari pengalaman orang dan buku mengenai kondisi keluarga yang rumit dan kontradiktif. Sisanya hanya sebatas imajinasi saja.

JA: Saya rasa saya tidak menemukan kendala yang berarti untuk menulis bagian Gita karena saya mengibaratkan cerita Gita sebagai “makanan pembuka’; tidak berat, tidak berlebihan, but intriguing. (Istilah yang tepat banget. Beginilah yang saya rasakan setelah menamatkan bagian Gita.)

HA: Riset khusus sih ngga terlalu dalam ya, tapi yang pasti selama saya jadi teman curhat semua orang, lumayan lah ya bisa jadi referensi dalam menulis dan mengembangkan karakter Ivanka. (Berarti Kak Hally pendengar yang baik ya, asik diajak curhat nih.) Selain itu salah satu sahabat baik saya juga kemudian menjadi inspirasi saya dalam menghidupkan karakter Ivanka di novel Reuni ini. Paling ya sedikit beban sebagai “Dessert” ini lah yang bikin saya musti memberikan sentuhan yang lebih manis, sedikit asam dan ada asin-asinnya. ๐Ÿ˜€

Lalu, bagaimana cara tiga orang penulis menulis kisah ini menjadi padu? Mungkin bisa berbagi pengalaman sedikit pada pembaca.

BA: Kami menulis setiap chapter untuk masing-masing karakter bersama-sama. Joe biasanya selesai duluan… sementara saya dan Hally lumayan bersaing antara menjadi yang selesai kedua atau yang paling terakhir. Hahaha. Maklum jadwal kerja saya dan Hally agak absurd, dan saat itu saya sedang proses mencari kerja baru. Setelah setiap chapter selesai, kita selalu submit di email thread yang isinya ada kami bertiga. Lalu ada beberapa pertemuan untuk adjusting isi cerita masing-masing, ending untuk Arsha pun agak berubah dari cerita awal saya karena menyesuaikan cerita dari penulis lain.ย 

JA: Karena harus ada benang merah diantara ketiga tokoh, setiap penulis wajib dan kudu membaca bagian penulis lainnya. Dua bab terakhir yang lumayan berat karena dua bab itu kami menyamakan ide dan gaya penulisan.ย 

HA: Akhirnya ketemu itu adalah jalan terbaik sih kalau buat saya, jadi clear dalam hal menyamakan ide dan gaya. kadang pas ketemu juga akhirnya malah saya jadi punya ide baru buat menyamakan cerita atau kasih ide-ide buat jembatan penghubung antara saya dengan Bree dan Joe.

Cerita dalam Reuni ini banyak mengandung isu-isu yang sensitif, seperti tentang perselingkuhan, kehidupan seks, pelecehan seksual, dll. Darimana penulis mendapatkan ide untuk isu-isu tersebut?

BA: Isu-isu tersebut memang sensitif, however, kalau kita lebih jeli melihat lingkungan sekitar, it’s actually around us. Hanya saja tertutup dengan sangat rapi. Saya memilih untuk membuka kondisi yang ada di cerita, tanpa menghakimi, I’m trying to be open minded and put myself in characters I’m writing, how would they think and react? Selain itu, saya sangat concern untuk pemahaman orang mengenai isu gender equality dan cara orang di Indonesia melihat fenomena tersebut yang masih sangat rigid. (Setuju sama Kak Bree.)

JA : Dari buku saya yang pertama sampai yang terakhir sebelum “Reuni”, saya memang mengangkat tema-tema yang dianggap tabu di masyarakat. Entah kenapa tema seperti itu sepertinya kurang populer diantara penulis, jadi saya ingin mengajak pembaca untuk aware bahwa isu-isu ada di sekitar kita. Bahkan di buku novelete “Jendela”, di bagian cerita saya; saya mengangkat isu transgender. Saya mengajak Bree dan Hally karena kami bertiga mempunyai kesamaan pikiran dalam memandang isu-isu sensitif tersebut, sehingga kami terbuka dalam ide isi cerita dan memudahkan kami untuk mengeksplore karakter masing-masing. Tapi sejujurnya, saya cukup terkejut sewaktu Bree dan Hally mengangkat isu-isu tersebut karena saya tidak menggiring mereka berdua untuk menulis isu-isu tersebut :). Saya senang karena isi cerita menjadi lebih kaya.

HA: Saya sebenarnya ngga pernah merencanakan cerita jadi musti mengangkat isu sensitif dari awal, tapi entah kenapa ujung-ujungnya pasti nyerempet atau malah tenggelam ke arah yang sensitif. Tapi mungkin karena pekerjaan saya terdahulu yang membuat saya cukup concern pada isu-isu minoritas, gender dan masalah didalamnya lah yang membuat kemudian tulisan saya selalu mengangkat karakter yang “beda”. Lebih kebetulan lagi saya bertemu dengan Bree dan Joe yang juga isi kepalanya ngga mainstream, nah kan cocok jadinya.ย 

Berapa lama sih proses penulisan Reuni? Dan apa sih suka duka yang dialami ketiga penulis dalam proses penulisan buku ini?

BA: Saya sih efektifnya dua bulanan. Suka dukanya mungkin lebih kepada kejadian-kejadian atau fase hidup yang saya alami menjelang penulisan hingga selesai. Saat itu, seperti yang sudah saya bilang, I left my job, I re-question my past choices in life, I tried to fix everything dan mencoba tantangan baru. Semua itu terjadi campur aduk dan saya harus tetap bisa ‘menghidupi’ย complicated lifeย orang lain di buku ini. (Tapi semua terbayar kan ya, Kak, begitu novelnya terbit? :”D)

JA: Saya sebulan dalam menulis tokoh Gita. Sebenarnya saya tidak menemui kesulitan berarti dalam menulis tokoh Gita, karena saya memposisikan bagian saya adalah “makanan pembuka”. Intrik lebih rumit dan isu-isu sensitif memang berada pada bagian Arsha dan Ivanka, jadi sepertinya saya “terbebas” dari bagian yang sulit hehehehe. Tetapi saya akui memang menulis satu cerita dengan tiga kepala itu tidak mudah. Believe me! (Percaya Kak! Kerja sendiri aja nggak mudah apalagi bertiga.) Butuh effort tinggi dan kesadaran untuk menurunkan ego. Tetapi beruntungnya saya menulis dengan dua teman lama yang saya sudah tahu seperti apa. Jadi ngerti saja kalau ada yang lagi tensi tinggi -biasanya saya- atau agak mundur dari deadline.

HA: Sebulan lah ya kira-kira, cuma beberapa bagian tulisan memang sudah mengendap lama di laptop saya yang kemudian bisaa digabungkan dan dikembangkan buat karakter saya, Ivanka. Karena memang kebiasaan saya yang suka menuliskan dulu apa yang ada dikepala saya terus saya endapkan dulu, nah saat-saat saya musti menulis biasanya sudah tinggal liat lagi dan mengembangkannya. Itu mungkin yang bikin prosesnya jadi lebih singkat. Paling sampe nunggu terbitnya yang lama hehehehe. (Oh berarti novelnya sudah selesai dari lama ya? Hooaa.)

Apakah ada rencana ketiga penulis untuk menulis bersama lagi setelah ini?

BA: I think the possibility is there, but we’re not sure for now.

JA: Actually, I’d love to write with Bree and Hally. It’s been an amazing journey with both of them. Semoga editor akan menyatukan kami di project-project berikutnya *finger cross*

HA: Semuanya mungkin terjadi kok, kita liat saja nanti kedepannya gimana.

(Waiting for it!)

Terakhir, apa pesan dan kesan untuk calon pembaca dan pembaca Reuni?

BA: This is my first fiction, I really hope people would simply love it.

JA: Semoga suka dengan isi ceritanya dan menikmati pergulatan batin dan konflik ketiga tokoh di dalamnya. Pesannya : open minded, ya ๐Ÿ™‚

HA: Hampir sama kaya Joe dan Bree, tapi tambahannya, semoga cerita setiap karakter dalam reuni dapat menginspirasi banyak orang untuk lebih jujur pada diri sendiri, tidak mengharapkan harus selalu dicintai dan bisa menerima diri sendiri.ย 

Yeah!

Sebenarnya pertanyaan yang saya ajukan nggak terlalu banyak, tapi ternyata ketiga penulis Reuni menyambut pertanyaan saya dengan begitu hangat. Jawabannya panjang dan detail dan memuaskan! Alhasil, tulisan ini jadi cukup panjang.

Semoga kamu nggak bosan membacanya, ya, meski panjang banget.

Setelah ini, jangan lupa tetap pantengin Meluksi Bianglala, karena saya bakal menerbitkan review Reuni, tentu saja kamu bakal punya kesempatan membawa pulang buku ini juga, lho. ๐Ÿ˜€

Advertisements

24 thoughts on “[Blogtour Reuni] Tanya Penulis

  1. Aku tadinya ngga tau kalau Reuni ini ditulis bertiga,kirain kak Joe Andrianus aja.
    Bagi saya susah menyatukan 3 orang,yg pastinya ada 3 pemikiran juga dan tak akan lepas dari ego masing2. Memang sangat dibutuhkan karakter yg sudah saling mengenal dengan baik Salut untuk kakak-kakak bertiga hingga bisa menyelesaikan karya yg bagus ditengah kepadatan kerja.
    Ditunggu kak reviewnya๐Ÿ‘

  2. Wah.. seru banget ya kalo punya temen nulis yang satu pikiran gitu, bisa buat proyek nulis bareng.

    Aku pribadi penasaran dengan isu sensitif yang diangkat oleh para penulis dan eksekusinya dalam kata2..

  3. beberapa waktu lalu aku sempat baca novelet yang ditulis oleh beberapa penulis juga. keliatan banget tiap penulis punya warna menulisnya sendiri. aku pengin tahu apa Reuni kayak gitu juga. aku pengin tau warna menulis (atau bahasa kerennya style of writing) Brigida Alexandra, Joe Andrianus, dan Hally Ahmad bisa dibedakan atau gak hehe.

  4. Wah salut sama ke3 penulis ini. Nilai plus buat mereka karena mampu buat konflik dan pemecahan masalah dari 3 pemikiran berbeda kemudian bisa disatukan.

  5. Proses penulisannya seru, mengingat ketiga penulis memiliki kehidupan masing-masing dan otomatis ketiga penulis harus menyesuaikan jadwal masing-masing. Entah ya, ketiga penulis ini sudah berkeluarga atau belum. Rasanya bakal berat banget jika posisi sudah berkeluarga.

    Menulis sendiri kan bisa dilakukan kapan pun. Kalau bertiga, wah harus benar-benar saling mengerti. Salut dan hebat untuk ketiga penulisnya ๐Ÿ™‚

  6. Menulis sendiri saja sering membingungkan, menulis duet menyatukan pikiran dan keselarasan (itu sulit), menulis bertiga menurutku berat sekali, ketiganya harus benar-benar terhubung agar chemistry saat bercerita didapatkan dan sepanjang cerita itu sinkron, mengalir dan tak terpecah fokusnya. Ditambah tema yang diangkat memang sensitif bagi yang sudah lulus entah itu sekolah atau kuliah.

    Judul novelnya memikat hatiku, jadi pengen reunian sama anak-anak ๐Ÿ˜€

  7. Sempet kaget setelah baca perbincangan seru di atas. Ternyata novel reuni di tulis 3 orang. Dan yang pasti akan punya ide, dan karakter-karakter yang berbeda-beda. Waah, pokoknya salaut deh!! Persahabatan yang kreatif ๐Ÿ™‚

  8. 3 kepala menjadi satu itu susah banget, tapi juga bisa bikin cerita itu unik pastinya.
    Dan untuk 3 penulis ini aku kasih 10 jempol *6nya minta ke tetangga*

    Jadi penasaran gimana cerita Reuni ini.

  9. seru banget pengalaman menulis barengnya. aku juga dulu pernah bikin cerita berantai dgn teman-teman di grup medsos, seru sih, walau dulu kami menulisnya acak sesuai imajinasi masing2 tapi tetap berkaitan dengan cerita teman sebelumnya, walaupun tentunya tidak seprofesional ketiga penulis novel Reuni ini. ๐Ÿ˜€

  10. Ya ampun prosesnya seru banget ya sepertinyaaaa. Udah nggak sabar pengen baca buku ini. Gimana ya, cerita yang ditulis sendiri aja udah keren, apalagi gabungan 3 imajinasi liar yang dikurasi dan disatukan menjadi sebuah cerita. Pasti keren banget! Duh beruntung saya nggak sengaja liat info buku ini di Instagram :’)
    Iri deh rasanya. Pasti selain menghasilkan karya, kalian bertiga juga jadi makin dekat satu sama lain ya. Seru banget!
    Kalau boleh tahu, jika masing-masing penulis harus menggambarkan Reuni dalam 1-2 kata, apa kata yang tepat ya? Hehehehe (supaya makin penasaran untuk baca :3)

  11. Kita sendiri yang menulis sebuah cerita saja terkadang suka bergulat dengan diri sendiri. Entah soal tiba-tiba kepikiran ide lain atau apalah yang membuat jadi makin ruwet, bingung mau dibawa kemana ini cerita?

    Aku salut buat penulis Reuni (yang tadinya aku pikir cuma Kak Joe seorang) kerja keras dan pengorbanan kalian sungguh luar biasa (shock berat pas baca bagian kak Bree resign, what?). Dan, mereka bilang nulis cuma butuh waktu sebulan (sombong amat -,- waktu segitu mah bab 1 aku ngak kelar-kelar. Sampai sekarang malah T.T) Aku berharap bisa menikmati ceritanya…soon (semoga beruntung dapet gratisan ^.^). Jujur, aku belum pernah membaca tulisan kalian sebelumnya. Tapi aku yakin Reuni adalah hasil terbaik yang telah kalian lakukan!! Terima kasih.

  12. bisa dibilang ini pertama kalinya tau ada buku dimana penulisnya 3, bener2 wooowww. biasanya ada kolaborasi banyak penulis, tapi masing2 mereka bikin satu cerpen yg nantinya dijadiin dalam satu buku. gak sabar pengen bacaa huuu ๐Ÿ˜ฆ

  13. Tiga? Yang nulisnya tiga orang? Aku pikir cuma satu orang. Waah, dari penulisnya tiga orang aja udah bikin aku penasaran. Apalagi judulnya Reuni.

  14. i can’t imagine how complicated this project.. uwaaah ternyata novel ini hasil colabs:D kirain hanya satu penulis.
    cukup tercengang dengan konsep yg jarang diangkat penulis lain. ide cerita yg ringan dan disaat bersamaan cukup terasa berat

  15. Interviewnya rame ya? Haha..
    Seru sih, menyatukan banyak kepala dan berhasil melahirkan karya bersama patut diacungi jempol sih. Apalagi kak Bree, katanya pertama kali nulis fiksi tapi total banget. Penasaran deh, semoga bisa naca novel ini. Belum pernah baca yang dalam satu kisah utuh ditulis oleh banyak orang

  16. Bikin novel dengan 3 cerita yang punya jalan sendiri-sendiri? Hmmm mirip kayak project xxxduet itu bukan ya isinya? Langsung mau skip baca ke review-nya ajalah biar paham ๐Ÿ˜€

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s