Rule of Thirds – Suarcani


Judul:
Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 halaman

Ladys meninggalkan karir fotografer dan ayahnya di Seoul untuk mengejar cinta dan komitmen pacarnya, Esa. Sayang, kenyataan di Bali tidak seindah itu.

Dias gagal berhenti jadi asisten fotografer karena keponakan bosnya bergabung di studio. Pemuda itu terpaksa menjadi kacung lagi, kali ini untuk seorang gadis. Ditambah ayahnya semakin tidak peduli, adiknya butuh dilindungi, dan seorang dari masa lalu terus hadir.

Novel ini bercerita pertemuan mereka. kedua orang yang memiliki latar keluarga mirip, sama-sama ditinggalkan sosok ibu. keduanya juga mencintai fotografer, meski awalnya bersiteru. Keduanya pun mengenal namanya dikhianati.

Cerita Keluarga dan Cinta

Udara yang saya hirup di umur sekarang, sudah duluan dihirup paru-parunya. Dia hampir selalu lebih tahu kebenaran. (h. 59)

Yang paling terasa dari karakter-karakter dalam Rule of Thirds ini adalah cerita keluarga yang membayangi mereka. Baik Ladys maupun Dias, keduanya punya masa lalu dengan hubungan orang tua mereka. Dalam novel ini, keduanya saling membantu untuk menghadapi masa lalu mereka. Hal ini membuat perkembangan karakter Ladys dan Dias begitu terasa. Mereka mendewasa seiring halaman, mengambil keputusan, berubah, menentukan langkah, dan menjadi hidup.

Termasuk di dalamnya adalah kisah cinta Ladys dan Dias. Kedua orang ini memiliki kisah cinta yang tak seindah dongeng. Pembaca pun dibeberkan dengan peristiwa demi peristiwa yang membuat kedua tokoh utama kita membuat pilihan.

Bagi saya, cerita cinta dalam Rule of Thirds ini berhasil diramu dengan baik oleh penulis. Ada aspek perselingkuhan yang dimasukkan, tapi penulis memberikan karakter-karakter yang punya cerita, punya alasan. Hal ini membuat pembaca tidak dengan mudah menuduh si ini begitu atau si itu begini. Mereka semua punya cerita masing-masing kenapa memutuskan melakukan hal tersebut. Termasuk juga kedua orang tua Ladys dan Dias di masa lalu.

“Cinta akan selalu memaafkan.” (h. 132)

Penulis berhasil menunjukkan bahwa cinta itu memang seringkali tidak bisa dipahami logika. Penulis juga berhasil menunjukkan hubungan orang dewasa itu rumit tanpa hal-hal menganjal yang tidak perlu. Saya salut sama cara penulis meramu kisah cinta kusut di keluarga Ladys dan Dias ini.

Hal lain yang membuat saya sulit melepaskan novel ini adalah interaksi Dias dengan adiknya, Tyas. Saya selalu lemah sama cerita persaudaraan. Sekarang, saya dibuat terenyuh dengan tindakan-tindakan Dias untuk adiknya. Ada banyak momen mereka yang membuat air mata saya susut, tapi favorit saya itu di halaman 43.

Tyas tergelak, menggodaku. Aku membiarkannya merancang angan untuk diriku, hanya agar dia tetap bercahaya seperti sekarang. Agar dia tetap bisa tertawa dan bahagia, karena dengan begitu, aku juga masih bisa tersenyum. (h. 43)

Saya rasanya meleleh ketika membacanya.

Tentang Profesi

Novel ini diceritakan dengan dua sudut padangan orang pertama. Satu dari sisi Ladys dengan “saya”, yang meski terkesan kaku, lama-lama pembaca akan terbiasa. Satu lagi dari sisi Dias, yang menggunakan “aku”. Penulis cukup berhasil memberikan suara yang berbeda di antara kedua tokoh. Saya angkat topi!

Untuk alurnya sendiri cukup penuh dan padat. Ada cukup banyak karakter yang mengisi interaksi Ladys dan Dias. Semuanya ditulis dengan alur maju yang tidak putus, jadi pembaca tidak akan sadar dengan rentang waktu yang berlalu.

Namun, yang paling menonjol di novel ini adalah fakta tentang profesi kedua tokoh, fotografer. Penulis berhasil menjadikan profesi di novel ini benar-benar hidup. Bukan hanya tempelan berupa pekerjaan tokoh. Bab-bab dimulai dengan istilah fotografi. Keseharian mereka sebagai fotografer pun berhasil terbayang jelas dalam benak saya ketika membaca.

“Dia produk dari mata kedua kamu, mata yang membuat otakmu tidak terpakai. Keindahan yang kamu lihat pada pola itu kenyataannya tidak ada.” (h. 209)

Penulis juga berhasil menggunakan istilah-istilah fotografi untuk membangun cerita. Hal ini memberikan nilai plus pada Rule of Thirds.

Ditambah lagi latar Bali yang digunakan penulis juga tergambar dengan baik. Saya mendapatkan pengetahuan tentang banyak hal soal Bali. Bahkan ada juga tentang adat yang mengakar di Bali.

Kalau kamu menikmati novel tentang profesi yang punya latar tempat bagus, Rule of Thirds wajib kamu baca. 😉

Terakhir

Rule of Thirds bisa dibilang bacaan akhir-tahun-menuju-awal-tahun yang sangat memuaskan! Saya suka sekali dengan cara penulis menuliskan akhir cerita Ladys dan Dias, terasa realistis sekaligus manis. Udah gitu, penulis pun berhasil membuat pembaca khawatir, cemas, sekaligus lega. Salut!

Saya merekomendasikan novel ini bagi penikmat cerita romance, apalagi jika kamu menikmati kisah yang cukup rumit dan realistis. Rule of Thirds juga bakal kamu nikmati jika kamu penggila cerita keluarga seperti saya. Ada banyak momen yang akan membuatmu mewek di novel ini, jadi persiapkan diri.

Sebagai penutup, saya mau memberikan kutipan favorit.

Kebenaran itu kadang adalah proses. Banyak orang yang menemukannya setelah seratus kali kesalahan sebelum akhirnya bisa memutuskan hal yang terbaik. (h. 124)

Selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Rule of Thirds – Suarcani

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s