Genduk – Sundari Mardjuki


Judul:
Genduk
Penulis: Sundari Mardjuki
Penyunting: Lana Puspitasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 halaman

Novel ini bercerita tentang seorang anak yang dipanggil Genduk. Dia tinggal berdua bersama Biyung (ibu) di lereng Gunung Sindoro. Sejak kecil Genduk tidak pernah mengenal ayahnya. Biyung-nya tidak pernah membicarakan lelaki itu walaupun Genduk merengek ingin tahu. Hal ini membuat kerinduan terhadap sosok ayah begitu besar dalam diri Genduk seiring waktu.

Di sisi lain, seperti penduduk desa di lereng Sindoro, kehidupan ibu-anak ini disanggah oleh tembakau. Namun, tidak seperti kebanyakan petani lainnya, tanah pertanian ibu-anak ini tidaklah seberapa. Meski dulu biyung Genduk adalah salah satu anak petani tembakau terbesar, sejak menikah dengan ayah Genduk, hidup wanita itu menjadi sulit. Tahun ini pun mereka harus berharap pada hasil tanah yang tidak seberapa. Ditambah dengan semakin sulitnya menjuah tembakau dan utang yang tak kunjung habis, ibu-anak ini harus bertahan di tengah gempuran kehidupan.

Tentang Petani Tembakau

Genduk berlatar tahun 1970-an, di mana saat itu banyak petani tembakau yang terlilit utang karena ulah gaok dan tengkulak. Penulis sendiri mengaku melakukan riset langsung ke petani-petani tembakau untuk mendapatkan kisah petani tembakau yang nyata untuk Genduk.

Sepanjang membaca Genduk, penulis membuktikan risetnya memang bukan sekadar menjadi latar. Penulis berhasil menyajikan kehidupan petani tembakau tahun 1970-an dengan sangat hidup dalam Genduk. Mulai dari fakta bahwa para petani tembakau memulai bertani dengan modal berutang (h. 24), yang sering kali masih ada utang-utang dari penanaman tembakau tahun-tahun sebelumnya.

Musim tembakau adalah musim labuh. Apa yang dimiliki petani dipertaruhkan agar penanaman tembakau hingga panen nanti berhasil. (h. 23)

Penulis juga menyajikan pertumbuhan tanaman tembakau dan perlakuan petani terhadap tanaman itu agar semakin rimbun (h. 69), fakta bahwa semua warga (termasuk anak-anak) turun ke pertanian ketika musim panen (h. 90), jenis-jenis tembakau (h. 90), proses panen tembakau (h. 90-91), musim hujan yang menjadi momok bagi tanaman tembakau (h. 92-94), kehidupan petani yang sangat bergantung apda giok, hingga soal tembakau srintil (h. 212-215).

Berbagai istilah lokal terkait pertanian tembakau pun disajikan oleh penulis dengan apik. Seperti nanjaki, di mana bening tembakau harus dijaga agar tidak kalah dengan gulma (h. 23). Atau punggel, memotong bunga tanaman tembakau, agar daun tembakau semakin subur (h. 70). Hal ini membuat latar petani tembakau terasa sangat-sangat hidup dalam Genduk. Latar yang juga menambah wawasan pembaca.

Penulis juga berhasil menghidupkan kondisi rumah-rumah para petani (h. 15), kehidupan sederhana warga desa di lereng gunung, hingga adat yang mengakar seperti ritual Among Tebal (h. 47) di tahun 1970-an itu dengan gaya bahasa yang apik. Saya harus mengangkat topi untuk penulis yang berhasil menyajikan Genduk dengan tata bahasa puitis.

Genduk dan Pak’e

Sayangnya, kepiawaian penulis menghadirkan latar petani tembakau ini tidak berhasil menyatu dengan baik dengan tokoh utama kita, Genduk. Selain mengkhawatirkan biyung-nya yang mengurus pertanian tanpa lelah, Genduk juga merindukan sosok ayahnya, Pak’e.

Tahukan kalian bahwa sebuah keluarga tanpa bapak itu bisa dilihat dari bentuk rumahnya? (h. 15)

Penulis berusaha menyajikan kehidupan petani tembakau dan kerinduan Genduk terhadap Pak’e secara beriringan. Berganti-ganti, penulis menuturkan kedua hal itu. Sayangnya, saya tidak berhasil mendapatkan kerinduan Genduk yang amat sangat itu terbangung dengan baik di antara keributan panen tembakau. Penulis bahkan terkesan tergesa-gesa ketika membuat tokoh Genduk mencari tahu soal ayahnya seorang diri.

Perlu dipahami sebelumnya bahwa Genduk adalah seorang anak SD. Usianya paling baru 11-12 tahun. Dia sejak kecil hidup di desa. Desanya bahkan termasuk pelosok. Oleh sebab itu, melihat Genduk mencari tahu ayahnya seorang diri terasa sangat-sangat tidak masuk akal. Dari mana keberanian Genduk tumbuh? Darimana anak sekecil itu punya kekuatan dan keberanian untuk berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenalnya padahal selama ini pun di desa dia lebih banyak bersama teman sebaya? Lain ceritanya jika Genduk mulai jadi remaja tanggung.

Fakta bahwa Genduk masihlah anak SD juga membuat novel ini terasa kelewat dewasa. Genduk terlalu tahu banyak hal, tentang pertanian tembakau, tentang kehidupan, bahkan tentang obrolan orang dewasa. Saya tidak berhasil mendapatkan “jiwa anak-anak” dalam novel ini.

Lebih-lebih, si karakter antagonis dalam novel ini pun berakhir terlalu cepat. Sejak awal saya pikir karakter antagonis ini akan memainkan lebih banyak konflik dan kegelisahan dalam diri Genduk, tapi ternyata tidak. Pembaca tidak disuguhi gejolak dalam diri Genduk sehabis insiden itu. Genduk pun hanya disebut-sebut akan membalas dendam tanpa benar-benar melakukan sesuatu. Lalu, akhirnya begitu. Saya jujur saja sangat kecewa dengan perkembangan karakter antagonis yang diolah penulis.

Sama seperti saya kecewa pada kada kerinduan Genduk terhadap Pak’e yang tidak berhasil membuat saya terenyuh. Padahal saya ini paling lemah sama cerita keluarga, tetapi hubungan biyung-Genduk, pun Genduk-Pak’e tidak berhasil menumbuhkan empati dalam diri saya. Saya rasa penyebab utamanya adalah penulis terlalu detail menceritakan soal pertanian tembakau. Penulis tidak memberikan ruang yang cukup bagi perasaan Genduk, perasaan seorang anak kecil, untuk benar-benar tumbuh dan mendamba sosok ayahnya.

Terakhir

Genduk bisa dibilang sebagai sebuah buku yang tidak cukup berhasil mengeksplorasi karakter bocah sang tokoh utama. Meski demikian, Genduk memang memiliki gaya bahasa yang sangat-sangat indah. Genduk juga diperkaya dengan informasi yang sangat informatif terkait tembakau—dan fakta seputar kehidupan petani.

Saya rasa, situasi yang dihadapi petani tembakau dalam Genduk ini masih relevan hingga waktu ini untuk petani apa pun, tidak hanya petani tembakau. Miris sekali membaca bagaimana petani sulit lepas dari utang. Lebih miris lagi ketika melihat para petani langsung menghamburkan uangnya begitu masa panen untuk membeli hal-hal yang sejujurnya tidak membuat pertanian mereka semakin maju, seperti kulkas, vespa, dll.

Benar sekali kutipan yang saya dapatkan dari novel ini.

“Duit memang bisa membuat siapa saja senang. Nggak tua, nggak muda. Nggak mikir utang dan kebutuhan yang lain, sing penting senang-senang dulu.” (h. 100)

Kita sepertinya terlalu menjadi manusia konsumtif yang sangat materialis.

Selamat membaca! Mari merenung.

Advertisements

5 thoughts on “Genduk – Sundari Mardjuki

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s