Blog Tour · Family · Giveaway · Indiva · Realistic Fiction

[Review + GIVEAWAY] Sajak Rindu – S. Gegge Mappangewa

Judul: Sajak Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penyunting:
Muridatun Ni’mah
Penerbit: Indiva
Tebal: 296 halaman

Sajak Rindu dibuka dengan cerita kepercayaan masyarakat Bugis tentang manusia reptile. Manusia reptil ini dipercayai sebagai kembaran anak-anak orang Bugis yang lahir bersamaan tapi hidup di dunia berbeda.

Setelah itu, ceirta berlanjut tentang Bu Maulindah, seorang pengajar SMP. Saat itu, saya pikir novel ini akan bercerita tentang kehidupannya sebagai pengajar di pedalaman. Namun ternyata saya salah. Karena semakin ke belakang, pembaca akan menemukan cerita tentang murid-murid SMP tersebut. Ada Vito yang selalu terlambat, Irfan si ketua kelas, Alif yang suka komentar lucu, dan masih banyak lagi.

Cerita tentang murid-murid ini silih berganti dengan pertemuan seorang gadis bernama Halimah dan pemuda bernama Ilham di tahun 1996 lampau. Kira-kira apa hubungannya ya?

Unsur Lokal

Sejak mulai membaca, pembaca akan langsung disuguhi cerita tentang kepercayaan penduduk setempat. Cerita ini terdengar sangat asing di telinga saya, tanda bahwa baru kali ini saya mengenal legenda itu.

Reptil itu, konon lahir dari rahim manusia. (h. 5)

Selanjutnya, pembaca akan dikenalkan pada tempat-tempat yang tak kalah asing. Desa Pakka Salo yang dikelilingi gunung, Danau Sindereng yang indah, dan kondisi bentang alam Sulawesi Selatan yang saya cukup jamin akan membuatmu ingin singgah. Saya rasa penulis berhasil menyuguhkan latar cerita yang hidup dalam Sajak Rindu ini.

Terlebih, latar cerita ini menjadi lebih hidup karena penulis menyisipkan berbagai budaya lokal dalam sudut-sudut cerita. Lengkap juga dengan istilah lokal dan bahasa penduduk lokal (yang selalu menyenangkan untuk diketahui seseorang seperti saya XD). Seperti ketika menceritakan tentang rumah panggung yang biasa dimiliki warga, penulis mengemukakan fakta kolong rumah bagi masyarakat Bugis.

Kolong rumah panggung orang Bugis ibaratnya sebuah gudang sebaguna. (h. 189)

Selain mengungkapkan budaya lokal (legenda-legenda lokal, adat pernikahan lokal, dsb.), penulis juga mengemukakan bagaimana kondisi desa Pakka Salo (yang dipedalaman itu) tidak lepas dari perkembangan modern. Di bagian awal, penulis bahkan memberikan deskripsi yang menyindiri, tapi terasa tepat sasaran.

Untuk membeli motor, banyak sekali perusahaan finance yang siap meminjamkan dan bisa dikredit. Tapi kuda? Sepertinya belum ada perusahaan finance yang memberikan peluang kepada warga kampung mana pun untuk kredit hewan ternak. (h. 11)

Jika menilik dari latar tempat dan budayanya, saya harus mengacungi jempol bagi penulis. Karena Sajak Rindu ini berhasil menghdupkan itu semua di dalamnya.

Cerita Keluarga

Ketika mulai membaca, saya rasa pembaca tidak akan tahu bahwa novel ini mengangkat cerita keluarga yang kental. Pasalnya, blurb pada bagian belakang novel itu tidak menceritakan apa pun. Lalu, cerita dibuka dengan legenda Bugis, yang kemudian dilanjutkan cerita tentang seorang guru di desa Pakka Salo.

Sejujurnya, bagian awal novel ini terasa tidak fokus. Pembaca akan dibuat bingung dengan arah Sajak RIndu. Saya pun bingung ketika mulai membacanya. Meski demikian, lama-kelamaan pembaca akan disuguhkan cerita petualangan para anak-anak SMP di pedalaman Sulawesi Selatan. Cerita keseharian mereka ini lucu-lucu ajaib gitu, apalagi soal Vito yang sampai mengaku-aku kakeknya meninggal agar diberi izin tidak masuk sekolah.

Nah, semakin ke belakang, pembaca baru sadar bahwa Vito adalah tokoh sentral dalam Sajak RIndu ini. Meski karakter-karakter lain juga punya porsi, misalnya Pak Amin, guru penjas mereka, dan teman-teman Vito. Akan tetapi, Vito adalah karakter paling utama. Begitu porsi Vito semakin besar, pembaca akan sadar soal kerinduan Vito terhadap sosok ayah.

Di dalam kamar mandi, Vito menitikkan air mata saat dia terkenang dengan bukti cinta yang pernah diberikan ayahnya padanya. (h. 29)

Meski beberapa sisi tampak seperti sinetron, Sajak RIndu cukup berhasil mengemas cerita kerinduan seorang anak dengan ayahnya dalam balutan unsur lokal. Sayangnya, saya rasa ceritanya sedikit meleber ke mana-mana sehingga pembaca punya kecenderungan merasa bosan.

Sayangnya lagi, saya nggak bisa relate dengan banyak humor di novel ini. Tingkah anak-anak SMP itu memang konyol, tapi saya nggak bisa tertawa lepas gitu pas baca. Aneh, ya. Haha.

Penutup

Secara keseluruhan, Sajak Rindu ini merupakan novel yang padat. Tebalnya memang mengecoh karena ternyata spasi antar barisnya cukup rapat. Dengan cerita yang penuh unsur lokal dan budaya, novel ini menjelma jadi novel yang penuh.

Saya rekomendasikan Sajak RIndu bagi mereka yang senang membaca novel dengan latar lokal dan penuh budaya lokal. Sajak RIndu adalah pilihan tepat!

Selamat membaca!


GIVEAWAY

Sekarang saatnya giveaway!

Pertama-tama, terima kasih kepada Penerbit Indiva atas kerja sama ini. Terima kasih juga buat rekan host blogtour. Akan ada satu Sajak Rindu yang dibagikan di tiap periode blogtour, pastikan kamu mengikuti semua periode agar kesempatan semakin besar. 😉

Nah, ini syarat dan ketentuan untuk memenangkan Sajak Rindu di Melukis Bianglala.

  1. Wajib follow twitter @penerbitindiva dan instagram @penerbitindiva. Juga Like fanpage Indiva Media Kreasi.
  2. Follow twitter @missfiore_ dan atau instagram @missfioree (boleh pilih salah satu atau keduanya, tapi kesempatan menang lebih besar bagi yang follow di twitter dan instagram).
  3. Bagikan informasi giveaway ini dengan tagar #SajakRinduGegge sambil mention @penerbitindiva dan @missfiore_
  4. Tinggalkan komentar di bawah ini berupa nama, akun twitter, akun instagram, domisili, dan jawaban pertanyaan:
    “Apa yang kamu tahu tentang masyarakat Bugis?”
  5. Terakhir, berdoa!

Giveaway hanya berlaku bagi yang memiliki alamat kirim Indonesia. Periode berlangsung dari 25 sampai 29 Januari. Entri ditunggu maksimal pukul 29.59 tanggal 29 Januari, ya. 😉

UPDATE PEMENANG

Ada tiga jawaban yang saya suka, tapi hadiahnya hanya ada satu 😦 Setelah berpikir keras dalam waktu lama, akhirnya saya memutuskan satu nama. Selamat kepada

Kitty (@WoMomFey)

Pemenang akan saya hubungi langsung. Untuk yang belum beruntung, bisa pantengin jadwal host yang lain, ya.

Semoga berjodoh dengan Sajak Rindu di lain kesempatan. 😀

Advertisements

13 thoughts on “[Review + GIVEAWAY] Sajak Rindu – S. Gegge Mappangewa

  1. Nama : Riza Putri Cahyani
    Akun twitter : @Zhaa_Riza23
    Akun ig : tidak punya
    Domisili : Bogor

    Jawaban :
    Yang aku tahu tentang masyarakat Bugis adalah orang-orang suku Bugis yg berasal dari Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis ini terkenal dgn jiwa merantaunya. Yg aku tahu juga ada strata gitu sama tradisi pernikahannya yg beruntun tapi aku gak hafal namanya. Yg paling aku ingat itu pas suami minta izin ke penjaga kamar istri buat masuk ke kamar istri.

  2. Nama : Aenun Nasyifa Z.A.
    twitter : @AenunNasyifaZA
    ig : @aenunn31
    domisili : Tegal,Jateng

    “Apa yang kamu tahu tentang masyarakat Bugis?”

    dari Sulawesi Selatan. Pakaian adat khas wanita Bugis Makassar adalah baju bodo. Baju bodo berupa kain sarung yang berwarna merah hati, biru, dan hijau. rumah adat suku Bugis berbentuk rumah panggung yang memanjang ke belakang. ada tari tarian buat nyambut tamu namanya Tari Paduppa Bosara. makanan khasnya yang enak salah satunya buras. adat siri dan adat pernikahan yg dipegang teguh, kapal pinisinya udah ada sejak zaman dulu, orang bugis kebanyakan pelaut dan mungkin karenanya dalam berbicara agak keras dan blak-blakan namun mereka sangat sopan dan ramah kepada orang lain. mereka sangat menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan nama baik. Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis), Ammateng (upacara kematian), mitos tentang manusia reptil yang konon katanya jika melahirkan seorang anak ia juga melahirkan seekor reptil yang diduga adalah kembarannya, belum ada yang membuktikan namun beberapa orang yang mencibir ditemukan meninggal di tepi sungai, orang percaya mereka dimangsa manusia reptil itu. sedikit bahasa bugis yang saya tau Si’di, Duwa, Tellu, Eppa’, Lima, Enneng, Pitu hehehe

  3. Nama: Ana Bahtera
    Twitter: @anabahtera
    Domisili: Aceh

    “Apa yang kamu tahu tentang masyarakat Bugis?”

    Hanya sedikit.
    Orang Bugis adalah masyarakat yg memiliki jiwa merantau yg tinggi, mereka berani berkelana meninggalkan tanah kelahirannya..salut sama sikap berani mereka tp syang jg krena mereka meninggalkan kampungnya dan sukses dkampung lainnya.

    Mudah2n ada ksempatan bagi aku tuk mempelajari Bugis dari novel ini.

  4. Nama :Siti nihlatul fuadah
    Twiter :@nihlafuadah09
    Ig :@nihlafuadah
    Domisili : Tangerang

    Jawaban:
    Suku bugis? Setahu aku suku bugid itu adalah salah satu suku yg berasal dr Sulawesi Selatan. Tapi bener ga sih? Masalhnya ada juga loh yg dr Malaysia. Satu yg aku tahu persamaan suku bugis Malaysia dan yg di Sulawesi Selatan yaitu junjungan harga diri yg tinggi. Tak suka direndahkan, tapi tak pelak halus nan lembut akan adat ketika ditanah rantau. Itu sih setahu aku.

  5. Nama: Marfa
    Twitter: @umimarfa
    Domisili: Banyumas Jateng
    Jawaban:
    Jauh dari kehidupan masyarakat modern, justru itu yang merekatkan kerukunan, gotong royong dan nilai budaya yang masih murni :3 no listrik, bisa dibayangin ya, waktu mereka akan produktif dan komunikatif, nggak ada gegoleran ngabisin hari buat main smartphone.

  6. Nama: Bety Kusumawardhani
    Akun Twitter: @bety_19930114
    Domisili: Surakarta

    Masyarakat Bugis merupakan suku etnik yg berasal dari Sulawesi Selatan yg memiliki keunikan tersendiri. Misalnya: Baju Bodo adalah pakaian adat suku Bugis yg diperkirakan sebagai salah satu pakaian tertua di dunia, makanan khas dari suku Bugis yaitu Buras semacam ketupat yg dicampur santan, rangakian acara mappabotting atau prosesi pernikahan yg konon jika tradisi ini tidak dilakukan oleh orang suku Bugis maka sang pengantin akan mengalami kemandulan.

  7. nama: insan gumelar ciptaning gusti
    akun twitter: @san_fairydevil
    akun instagram: @callmeinsan
    domisili: surakarta

    “Apa yang kamu tahu tentang masyarakat Bugis?”
    Kalau mencari di gugel atau buka buku lagi, pasti jawabanku panjang. Tapi karena ini mencari dari memori, hanya ada 2 hal yang aku tahu tentang Bugis yaitu sebuah suku di Sulawesi, yang aku lupa Sulawesi mana. Dan merupakan salah satu keragaman yang dimiliki Nusantara.

  8. Nama: Fira
    Twitter: @shaff_fath
    Domisili: Yogyakarta

    Kecapi Bugis dan Perahu Pinisi. Keduanya sangat lekat dengan tradisi merantau suku Bugis. Konon kecapi Bugis diciptakan oleh pelaut untuk menghibur di tengah perantauan. Namun, sayangnya tradisi itu sudah jarang ada sekarang. Merantau masih menjadi jiwa penduduk Bugis, meski sekarang menggunakan sarana yang lebih modern.-cmiiw hehe.

  9. Nama: Kitty
    Akun twitter & IG: @WoMomFey
    Domisili: DKI Jakarta
    Link share twitter: https://twitter.com/WoMomFey/status/825428142634397696
    Link share instagram: https://www.instagram.com/p/BP0hFjbDVKa/?taken-by=womomfey

    Jawaban:

    Kebetulan papaku berasal dari Tana Toraja dan bisa dibilang aku awalnya tau mengenai Suku Bugis ini dari beliau. Suku Bugis bisa dibilang cukup dekat dengan Suku Toraja karena mereka sama-sama menempati wilayah Sulawesi Selatan. Meskipun demikian, keduanya memiliki berbagai macam perbedaan mencolok.

    Jika suku Toraja mayoritas memeluk agama Kristen, maka sebaliknya suku Bugis justru banyak yang memeluk agama Islam. Jika suku Toraja kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani, maka suku Bugis justru lebih terkenal sebagai nelayan. Suku Bugis ini terkenal sebagai pembuat kapal yang hebat dan mereka juga termasuk pelaut ulung.

    Sejarah suku Toraja dan suku Bugis bisa dibilang cukup panjang. Meskipun cukup dekat, kedua suku ini pernah terlibat perang antar suku, yang untungnya bisa teratasi dengan baik pada akhirnya.

    Nah, hanya sekilas hal itu saja sih yang kuketahui mengenai suku Bugis dari penjelasan papaku saat aku masih remaja dulu. Harapanku sih aku bisa lebih mengenal suku Bugis lebih banyak lagi setelah membaca novel yang berlatar Bugis ini. Penasaran juga apakah disitu disinggung juga mengenai suku Toraja. Hehehe ^^

  10. Nama : R Tria Octasiana
    twitter : @Anaao98
    domisili : Brebes, Jawa Tengah

    Suku Bugis adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia. Mereka bermukim di Pulau Sulawesi bagian Selatan. Suku Bugis juga kental dengan adat yang khas: adat pernikahan, adat bertamu, adat bangun rumah, adat bertani, prinsip hidup, dan sebagainya. Dulunya menganut paham animisme (kalo gak salah) :3 jadi masih kental dengan mitos-mitos.
    Setau saya cuma itu.

  11. Nama: Lina Ernawati
    Twitter: @Linaernaw
    Instagram: @linaern
    Domisili: Tangerang

    Masyarakat bugis salah satu suku di sulawesi selatan. Orang-orang Bugis juga banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura yang telah beranak pinak dan keturunannya telah menjadi bagian dari negara tersebut. Karena jiwa perantau dari masyarakat Bugis, maka orang-orang Bugis sangat banyak yang pergi merantau ke mancanegara.
    kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

  12. Nama : Aminatuzzahra
    Twitter : @aminatuzzahra21
    Instagram : @aminatuzzahra255
    Domisili : Bogor

    “Apa yang kamu tahu tentang masyarakat Bugis?”

    Yang aku tau masyarakat Suku Bugis memiliki prinsip hidup yang selalu melekat di dirinya yaitu ‘siri’ atau dapat diartikan rasa malu. Prinsip hidup ini merupakan ciri khas masyarakat bugis yang selalu dibawa kemanapun, sehingga bila merantau dan melakukan kesalahan atau suatu hal yang kurang baik akan cenderung jujur dan mengakui kesalahan yang telah dilakukan dan siap bertanggung jawab menerima hukuman atas kesalahan yang telah dilakukannya sebagai konsekuensi yang harus diterima. Selain itu prinsip lainnya adalah ‘pacce’ yang artinya ‘tidak tega atau iba’, sehingga akan selalu merasa tidak tega bila melihat teman atau saudaranya yang mengalami kesulitan dan akan selalu membantu bila dibutuhkan. Masyarakat suku bugis ini pun memiliki karakter yang berani khususnya bila ada peluang untuk merantau maka peluang tersebut pun akan diambil. Selain akan menambah pengalaman yang berharga, mereka pun juga ingin mengangkat nama baik putra daerah yang sukses di kota lain tempatnya merantau. Karena memang suku bugis sendiri sering disebut-sebut sebagai suku perantau. Hal unik lainya mereka sebagian besar memiliki hobi adu ayam yang umumnya lebih sering dilakukan oleh lelaki khas bugis.

  13. Nama: Rizki Fitriani
    twitter: @Kikii_Rye
    instagram: @keeptrianif
    domisili: Sidoarjo

    yang aku tahu tentang masyarakat bugis selain berasal dari sulawesi adalah title yang melekat sebagai suku perantau yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s