Love Trip: Pencarian Cinta dari Denver Hingga Praha

Judul: Love Trip
Penulis: Putu Kurniawati
Penyunting: M. Adityo Haryadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 halaman

Pada kunjungan penelitian ke Universitas Kyoto, Cakra bertemu Luna, seorang mahasiswa dari Indonesia sepertinya. Pertemuan itu membuat keduanya dekat dan menjalin hubungan meski terpisah jarak ketika Cakra harus kembali ke Denver.

Tak lama kemudian, Luna menyelesaikan kuliahnya di Jepang dan memilih pulang ke Indonesia, ke Bali. Cakra pun menyusul tak lama. Sayang, tidak seperti Luna, lelaki itu memilih menetap dan bekerja di Denver karena alasan masa lalu yang tidak dia ceritakan pada Luna.

Sayangnya, kehidupan percintaan mereka segera diambang kehancuran ketika Luna tidak lagi bisa dihubungi Cakra. Gadis itu meninggalkan keterangan find me dan membuat Cakra harus menjelajahi berbagai tempat untuk mencari keberadaannya. Akankah keduanya dipertemukan lagi? Apakah hubungan mereka memang tidak akan bersatu?

Premis yang Menarik

Love Trip punya premis yang menarik, tentang seseorang yang menjelajahi kota-kota untuk mengejar cintanya. Blurb-nya pun membuat premis Love Trip terasa semakin menarik. Lengkap dengan kover yang cantik, saya berhasil dibuat penasaran sama novel satu ini.

Sayangnya, rasa penasaran saya langsung pupus ketika memasuki bagian Dua (ya, novel ini dibelah-belah menjadi beberapa bagian). Hubungan Cakra dan Luna ini terlalu cepat. Saya tidak merasakan peningkatan hubungan mereka. Saya tidak mendapati ketertarikan Cakra perlahan berubah menjadi cinta di paruh awal. Tahu-tahu saja, keduanya sudah jadi sepasang kekasih. Belum lagi ada banyak kebetulan di antara mereka.

Tokoh-TokohΒ yang Sulit Dipahami

Selain hubungan mereka yang tiba-tiba, karakterisasi mereka juga kurang lengkap, apalagi Luna. Love Trip ini terpusat pada Cakra. Penulis tidak memberikan ruang bagaimana sebenarnya Luna ini. Bahkan latar pendidikan keduanya yang di luar negeri pun terasa tempelan. Cakra dibilang sibuk dengan kuliahnya, tapi saya tidak mendapati β€œkesibukan” itu dalam Love Trip. Pun begitu bagi Luna dan karakter-karakter sampingan lain di Love Trip.

Semakin ke belakang, saya dibuat semakin bingung. Pasalnya, karakter-karakter kita ini tidak ditunjukkan kesehariannya. Pekerjaan mereka apa, bagaimana, kesulitan dalam pekerjaannya gimana, kondisi rumah mereka, keadaan keluarga mereka, dll. Semuanya hanya sekilas dan selewat lalu. Saya bahkan semakin bingung karena karakter-karakter dalam Love Trip ini lalu melakukan perjalanan ke berbagai tempat, dalam dan luar negeri. Wow. Sebenarnya Cakra ini kerjanya apa sejak berhenti di Denver? Lebih bingung lagi sama Junot, sahabat Cakra, yang tidak digambarkan bagaimana keluarganya dan pekerjaannya, tapi ikut ke mana-mana Cakra mencari Luna.

Bukan hanya kenyataan soal mereka berjalan-jalan. Ketika Luna lulus pun, Steve, sahabat Luna, bertanya kenapa Cakra tidak datang ke Jepang. Saya cuma mikir, apa karakter-karakter dalam Love Trip ini jetset semua? Emang Denver ke Kyoto itu satu-dua jam sampai? Emang biaya pesawat semurah apa sih sampai mereka semua bisa berada di mana pun yang mereka mau? 😐

Bukan hanya pas itu. Pas Luna ke Denver, lalu pas Luna lagi upacara potong gigi, dan seterusnya dan seterusnya. Saya nggak bakal heran jika mereka kalangan jetset (seperti di novel-novel Christian Simamora itu), tapi karakter Love Trip ini nggak seperti kalangan jetset. Cakra tinggal bareng Junot. Kehidupan mereka pun tidak terlihat mewah-mewah (kecuali fakta soal mereka bisa terbang ke mana pun tanpa memikirkan biaya).

Belum lagi karakter sampingan seperti Lala dan Sasha yang kebetulan muncul. Juga Dara dan Elang. Dan yah, banyak kebetulan lain. Karakter-karakter Love Trip sendiri tidak dewasa, apalagi Steve. Saya bingung banget sama karakter Steve ini, yang aneh banget. Sebenarnya Steve ini mau dibawa ke mana sama penulis? :/

Hal ini membuat Love Trip tidak meyakinkan. Hal ini juga yang membuat saya selalu mengerutkan kening ketika membaca. Sayang sekali padahal Love Trip punya premis yang menarik.

Terakhir

Saya lebih banyak kecewa daripada puas sama Love Trip. Premisnya sudah menarik. Gaya menulisnya pun lumayan. Sayangnya, segalanya terlalu cepat dan terlalu mudah, sehingga tidak realistis. Label young adult-nya pun tidak terasa pas di novel ini karena saya tidak menemukan cerita yang kompleks. Love Trip ini punya karakter yang mirip di sinetron-sinetron sehingga eksekusi premisnya membuat saya kecewa. 😦

Novel ini padahal punya poin menarik, soalΒ nyentana danΒ sentana. Ini budaya Bali yang menyatakan laki-laki ikut keluarga perempuan ketika menikah. Soal ini pun mempengaruhi cukup banyak bagian novel ini. Sayang, budaya Bali ini sekilas lalu doang dan tidak ditunjang dengan budaya-budaya Bali lainnya. Jadi rasanya ketika kata ini muncul, mendadak sekali.

Saya tidak merekomendasikan novel ini bagi kamu pecinta young adult (apalagi pembaca YA luar negeri), saya cukup yakin kamu bakal sama kecewanya dengan saya. Akan tetapi, jika kamu penikmat teenlit atau novel yang penuh romance dengan latar berbagai negeri, mungkin kamu bakal suka.

Selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Love Trip: Pencarian Cinta dari Denver Hingga Praha

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s