Gramedia Pustaka Utama · Resensi · Romance

Love in City of Angels; Balada Hidup Gadis Penggila Kebebasan

Judul: Love in City of Angels
Penulis: Irene Dyah
Penyunting: Donna Widjajanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 216 halaman

Ajeng adalah gambaran wanita masa karir ideal. Cantik, independen, supel, dan tentu saja berprestasi. Akan tetapi, Ajeng juga gambaran wanita yang skeptis pada cinta sejati, belahan jiwa, takdir, apalagi komitmen. Ajeng percaya bahwa kebebasan adalah segalanya baginya.

Yang aku yakini adalah, bahwa setiap wanita di dunia ini berhak memilih kepada siapa dia akan menyerahkan diri seutuhnya, untuk pertama kali. (h. 88)

Sampai suatu hari dia terbangun dalam keadaan telanjang bersama seorang pria asing. Oh, Ajeng memang senang gonta-ganti pacar dan tebar pesona sana-sini, tapi dia memegang prinsip kuat untuk urusan keperawanan. Lantas, terbangun dalam keadaan seperti itu dengan pria asing seperti jelas seperti melemparnya dalam neraka.

Belum lagi, di sudut kota Solo yang jauh dari Bangkok, saat ini sedang rujuk dengan lelaki yang meninggalkannya dan Ajeng bertahun-tahun. Belum lagi, seorang pria tampan mempesona bernama Yazan sedang bergerilya mendekati Ajeng untuk sesuatu yang serius, sesuatu yang tidak Ajeng sama sekali.

Lengkap sudah kedamaian mengusik hidup Ajeng.

Tentang Ajeng dan Yazan

Love in City of Angels ini ditulis dari sudut orang pertama, dari sisi Ajeng. Dan seriusan, saya dibuat naksir sama cara penulis mengemas cerita dari sisi Ajeng. Ajeng ini seorang narator yang asik. Karakternya sebagai seorang wanita karir yang supel dan skeptis pada komitmen tergambar jelas lewat cara Ajeng menuturkan cerita. Good job banget buat penulis!

Pernikahan itu jebakan seremonial. Seremonial yang mengubah manusia dari sepasan individu asing, berevolusi jadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. (h. 4)

Selain karakter Ajeng yang hidup dalam narasi di novel ini, penulis juga berhasil mengemas gaya bercerita Love in City of Angels dengan kocak. Ajeng ini beneran saya nobatkan sebagai heroine cerita yang sarkas dan sinis, tapi sekaligus mengundang tawa. Coba aja baca secuplik paragraf yang saya nukil di bawah ini.

Sungguh pagi ini aku bukan seorang Ajeng yang normal. Jangan-jangan aku sedang tertukar dengan Ajeng yang lain. Yang loyo, sibuk mengasihani diri sendiri, lupa car abersenang-senang. (h. 40)

Selain Ajeng, karakter utamanya adalah Yazan. Yazan adalah seorang pria India yang diberi gelar Master Yoda. Oh, bukan berarti Yazan ini nggak tampan. Yazan ini justru tampan, sukses, keren, dan gimana ya digambarkan seperti sosok dewa yang sulit disentuh.

Bagaimana lagi. Rakyat jelata memang seyogianya tidak menjamah seorang Yoda. (h. 57)

Saya selalu ketawa ketika membaca gaya bercerita penulis ketika Ajeng tengah membicarakan Yazan. Bikin sneyum-senyum gaje! XD

Nah, kedua karakter kita ini punya sifat yang cukup bertolak belakang. Ajeng yang mencintai kebebasan dan Yazan yang dibilang konservatif (bukan dari sisi taat beragamanya sih, tapi dari kenyataan Yazan meski jalan-jalan berdua sama Ajeng nggak pernah asal kontak fisik). Meski demikian, keduanya berakhir punya interaksi yang โ€ฆ manis. Seriusan saya dibuat naksir sama tingkah Yazan ke Ajeng. Jadi kepingin punya Yazan sendiri. ๐Ÿ˜ฆ

Keduanya punya chemistry yang bagus. Saya paling menikmati ketika Ajeng ketar-ketir sendiri menyangka Yazan marah dan menghindarinya padalah aslinyaโ€ฆ. Wkwkwk. Lucu.

Yang jelas, keduanya (khususnya Ajeng) punya perkembangan karakter yang menarik begitu mulai berinteraksi. Bikin saya lupa waktu ketika membaca novel ini.

Memaafkan dan Memperbaiki Diri

Nah, konflik yang diangkat dalam novel ini itu banyak menyoal komitmen. Masalah ini ditunjukkan terang-terangan lewat prinsip Ajeng tidak ingin berkomitmen. Masalah ini juga dihadirkan lewat konflik Ajeng di keluarganya, dengan ibu dan ayahnya. Kedua hal ini sambung-menyambung dalam satu tali-temali.

Saya baru pernah membaca novel penulis berjudul Complicated Thing Callled Love, selain novel ini, dan keduanya punya napas yang mirip. Masih memuat latar Solo (tapi di sini secuplik doang), dengan kisah percintaan bertema komitmen dan pernikahan. Juga berisi pengkhianatan akan cinta.

Bagaimana mungkin seorang wanita bisa begitu saja menerima kembali orang yang pernah meninggalkanya? Bahkan pernah muncul di depan hidungnya menggandeng wanita lain! (h. 21)

Karakter Ajeng ini seperti karakter Nabila diย Complicated Thing Called Love, tidak cukup percaya pada komitmen dan cinta sejati. Untungnya, keduanya punya sifat yang berbeda, yang membuat kedua novel ini punya napas yang berbeda.

Lalu, lebih daripada novel Irene Dyah yang sebelumnya saya baca,ย Love in City of Angelsย ini punya tempo cerita yang lebih cepat. Juga punya penyelesaian konflik yang lebih saya suka. Apalagi konflik dalam keluarga Ajeng.

โ€œKadang merasa peduli dan merasa sayang saja tidak cukup. Kita harus menunjukkannya, dengan kata-kata, dengan perbuatan. Tidak semua orang bisa membaca apa yang kamu pikirkan di sini, yang kamu rasakan di sini.โ€ (h. 146)

Satu lagi yang membuat novel ini lebih saya suka adalah soal tema memperbaiki diri yang diambil.ย Love ini City of Angelsย ini punya unsur religi yang cukup kental, lewat karakter Yazan. Meski Yazan di beberapa titik terlalu menceramahi (tapi Ajeng juga defensif banget sih), saya suka bagaimana penulis mengemas interaksi keduanya dan mengangkat masalah memperbaiki diri ini.

โ€œManusia selalu punya khilaf, tapi manusia juga selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri.โ€ (h. 203)

Oh, lebih-lebih, penulis tahu bagaimana membuat pembaca klepek-klepek pada pesona seorang karakter seperti Yazan.

โ€œAjeng, aku tidak peduli dengan masa lalumu. Yang terpenting adalah kamu mengizinkan aku menemanimu sekarang dan di masa depan.โ€ (h. 112)

Penutup

Novel ini punya gaya bahasa yang asik, dengan karakter yang nggak kalah asik. Suka banget bagaimaan penulis menjalin kisah yang padu lewat sudut Ajeng yang sering bikin ketawa. Oh, tentu juga suka sama sindirian Ajeng yang bikin saya geleng-geleng kepala mulu.

Percaya tidak percaya, di depan wanita, otak kaum pria lebih sering pindah ke dalam celana. (h. 43)

Novel ini saya rekomendasikan bagi kamu yang membutuhkan bacaan romance dengan karakter wanita yang asik dan karakter laki-laki yang bikin naksir. Juga bagi kamu yang menggemari tema seputar komitmen, atau kamu yang skeptis pada cinta sejati dan pernikahan seperti Ajeng. Mungkin sudah saatnya kamu bertemu seorang Master Yoda. XD

Saya cuplikkan kutipan favorit saya nih.

Master Yoda, Anda mencuri pertanyaan saya. (h. 107)

Hihi, selamat membaca!

 

 

Advertisements

One thought on “Love in City of Angels; Balada Hidup Gadis Penggila Kebebasan

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s