[#BBIHUT6] Agar Buku Bisa Ditimbun Ratusan Tahun

Siapa di sini yang suka menimbun buku? Iya, yang setiap beli buku nggak langsung dibaca tapi justru disimpan (entah dalam rak buku, di dalam kotak, di bawah tempat tidur, atau digeletakkin masih dalam bungkus plastiknya).

Yah, berkarir(?) sebagai blogger buku meski seringnya males dan ujung-ujungnya gitu doang dan bergabung dalam keluarga BBI membuat saya tertular banyak sekali virus-virus. Virus rekomendasi buku, virus membeli buku diskonan, virus mengadopsi buku-buku bekas, bahkan virus mengoleksi buku “1000 buku yang harus kamu baca sebelum mati”. Nah, saya rasa, menjadi penimbun buku adalah sebuah keniscayaan bagi pembaca buku  yang berinteraksi dengan pembaca buku lainnya. Sepakat? 😀

Baiklah, sebagai penimbun (entah satu-dua buku saja atau mencapai ratusan), saya rasa kita semua akan menghadapi fakta buku-buku yang bisa rusak. Apalagi jika menyimpannya sembarangan. Oleh sebab itu, saya mencoba menuliskan beberapa kiat yang bisa kamu terapkan agar timbunanmu, yah katakan saja, bisa bertahan lama ratusan tahun.

1. Simpanlah buku timbunan dalam ruangan khusus

Kertas (apalagi kertas bookpaper yang kekuningan, ringan, baunya khas, ramah mata, dan jadi idola pembaca itu) cepat sekali rusak. Setelah disimpan cukup lama, biasanya akan mulai menguning atau berbercak kecokelatan. Bagi sebagian orang, buku yang kertasnya mulai menuning ini justru indah di mata. Namun, sebagian yang lain lebih suka buku-bukunya tidak memiliki bercak ini.

Jika kamu termasuk dalam kategori yang kedua, alangkah baiknya jika kamu menyimpan timbunanmu di ruangan khusus. Ruangan ini sebaiknya diperuntukan hanya untuk buku. Yep, bisa dibilang perpustakaan pribadi. Ruangan ini jika memungkinkan (dan kamu punya biaya) diatur suhu dan kelembabannya. Sebab suhu dan kelembaban ini berperan penting dalam membuat kertas menguning.

Kalau kamu tinggal di ruang kos sempit atau belum punya rumah sendiri sehingga tidak memungkinkan punya ruangan perpustkaan pribadi, jangan khawatir. Lanjut baca saja kiat-kita yang saya berikan di bawah, ya.

2. Jangan tumpuk timbunanmu

Ini salah satu hal sederhana tapi sangat berpengaruh pada kondisi buku timbunan. Jangan menimbun ke atas! Timbunlah ke samping.

Bingung? Lihat ilustrasi di bawah buat lebih jelasnya ya. 😀

Menimbun ke atas itu memiliki risiko lebih besar merusak jilid buku ketimbang menimbun ke samping. Hal ini disebabkan beban buku jadi bertumpuk. Lagi pula, menimbun ke atas itu membuat buku-buku jadi sulit diambil, ketimbang menimbunnya ke samping.

Yah, pengaturan ini paling optimal dilakukan jika kamu punya rak buku, tentu saja. Kamu nggak punya? Jangan khawatir, saya punya solusinya. 😉

3. Jangan buka segel timbunanmu jika belum mau dibaca

Nah ini aturan penting dalam hidup seorang penimbun. Segel buku, iya plastik yang membungkus buku itu, adalah salah satu hal paling penting yang memengaruhi timbunanmu bakal nambah satu-dua tahun usianya *lebay dikit*

Begini, buku yang masih terjaga segelnya, akan lebih sedikit terpapar udara luar. Hal ini berarti buku-buku tersebut akan lebih kecil mengalami oksidasi dan kertasnya jadi menguning (atau bahkan dirayapin). Oleh sebab itu, jika kamu membeli buku dan tidak ingin langsung membacanya, tolong tahan keinginanmu mencium aroma buku baru atau sensasi bahagia merusak segel buku. Segeralah simpan timbunan itu dengan baik jika kamu ingin dia bersamamu dalam jangka waktu yang lama.

Oh tapi jika timbunamu segelnya rusak, kamu harus lakukan kiat berikutnya yang saya berikan.

4. Sampullah timbunanmu, jika perlu bungkus lagi dia!

Nah, ini merupakan salah satu pekerjaan yang tidak asik. Tentunya lebih asik duduk lalu baca buku sambil minum teh hangat. Namun, langkah ini tidak akan kamu sesali jika kamu lakukan.

Buku yang disampul dengan plastik akan lebih durable. Apalagi jika bukumu itu punya kover yang tipis, lalu berwarna putih yang mudah kotor, dan yah, salah satu buku kesayangan. Sampul pastik buku ini akan menjadi pertahanan pertama bukumu jika terjadi apa-apa (bukannya saya mendokaan, tapi siapa yang tahu masa depan, kan?). Jadi, lebih baik jika buku-buku itu disampul plastik meski kamu harus rela mengorbankan sedikit waktu. Toh demi timbunan kesayangan, kan? 😄

Lalu satu lagi, jika kamu ingin buku-bukumu lebih terjaga, bungkuslah dia dengan plastik yang punya perekat *aslinya nggak tahu namanya*. Itu lho plastik yang suka dipakai buat bungkus undangan nikah itu. Kamu bisa cari plastik ini dengan isi banyak (seratus kalo ga salah) cuma berapa belas ribu di toko-toko plastik dan bahan kue di sekitarmu.

gambaran plastik berperekat

5. Nggak punya ruangan luas atau rak buku? Simpan bukumu dalam kontainer

Buat kamu yang nggak bisa memenuhi poin 1 dan nggak punya ruangan rak buku banyak, ini salah satu kiat yang bisa kamu lakukan. Hindari menyimpan buku dalam kardus, apalagi jika kamu masukkan ke kolong dipan dan mepet tembok dan lingkunganmu sering hujan. Hal ini memungkinkan rayap menyerang timbunamu dan menghancurkannya. Tentu saja kamu nggak mau hal ini terjadi, kan?

Nah, tempat penyimpanan paling optimal adalah kontainer. Sebab terbuat dari bahan yang tidak akan diserang rayap dan lebih terjaga kelembaban di dalamnya. 🙂

Jikapun kamu nggak punya biaya membeli kontainer, jangan khawatir, sejujurnya kamu bisa saja menyimpannya dalam kardus. Tentu saja dengan tips khusus, yaitu pastikan semua timbunamu terbungkus plastik lagi dan selipkan banyak silika gel dalam tempat itu.

6. Biarkan timbunanmu bernapas sejenak

Nah, kiat ini harus rajin kamu lakukan jika kamu menyimpan bukumu dalam kontainer atau kardus. Buku pun punya nyawa tapi bohong eng maksudnya butuh diberikan udara segar.

Oleh sebab itu, jemurlah bukumu di bawah sinar matahari dalam rentang waktu tertentu. Hal ini wajib dilakukan jika kamu menyimpan buku di tempat-tempat yang memiliki kelembaban tinggi, misal di kolong tempat tidur atau dalam lemari tertutup yang ada di pojok ruangan. Memang merepotkan, tapi melakukan hal ini bisa kamu sambi dengan mencatat buku-buku yang kamu miliki. Yah, pendataan buku itu penting banget lho! Jika malas melakukan secara manual, kamu bisa pakai aplikasi berbasis android. Mungkin kapan-kapan bakal saya ceritakan ya. 😀

7. Jangan biarkan timbunamu selalu jadi timbunan

Nah ini kiat terakhir dari saya. Menimbun buku jelas menyenangkan, apalagi jika kamu punya duit. Menimbun buku kadang bahkan lebih asik daripada membaca buku itu sendiri.

Namun, kasihan sekali buku-buku ini jika pada akhirnya hanya jadi timbunan. Apalagi timbunan yang dimasukkan dalam kardus dan diempet-empet di kolong kasur. Kalau timbunan yang dengan pede kamu pajang dalam rak kaca di ruang tamu sih, yah okelah nggak sekasihan itu haha.

Oleh sebab itu, janganlah biarkan buku-buku ini terus jadi timbunan. Marilah dibaca sedikit demi sedikit. Katanya, dikit dikit jadi bukit kok, jadi timbunan itu bakal terbabat (semoga).

Kiat-kiat ini ditulis berdasarkan berbagai sumber dan pengalaman pribadi. Meski demikian, penulis tidak menjamin timbunanmu benar-benar akan bertahan ratusan tahun karena usia timbunan penulis baru maksimal tiga tahun, haha. *kabur*

Apa kamu punya kiat khusus? Mungkin bisa berbagi di sini 😀

PS. Pengakuan, artikel ini diterbitkan bukan di tanggal 10 April sesuai yang tercantum, tapi ya nggak masalahlah ya~

Advertisements

14 thoughts on “[#BBIHUT6] Agar Buku Bisa Ditimbun Ratusan Tahun

  1. kok kayaknya terlalu mudah ya treatmentnya… beneran bisa sampai ratusan tahun? hehe
    jd kepingin kertas sekarang sama kertas jaman dulu lebih kuat mana ya… soalnya kalau di perpus naskah biasanya cukup ekstra perawatannya supaya bisa bertahan

    • Kalo disimpan dalam ruangan yang emang khusus, harusnya bisa-bisa aja. Yang paling pengaruh itu suhu dan kelembaban, selama dua variabel itu bisa dijaga, usia kertas bisa makin lama. Oh, sama tentu saja yah pembacanya pun harus siap merawat (misal tangannya selalu bersih, bukanya ga asal, ga dilipat, dll).

  2. Kalau aku, kuselipin kamper di lemari. Suka banyak serangga – serangga juga. Untuk yang ditumpuk, aku juga ga pernah numpuk lebih dari 3 baris. Selalu nyamping. Tapi itu juga karena tiap bagian rak lemariku, masih bisa buat ditumpuk nyamping. Ditumpuk horizontal hanya beberapa saja. Lagian, numpuk horizontal itu juga bikin ga enak ambil buku. Mendingan nyamping aja

  3. Wah! Sungguh tips yang sangat menarik! Aku biasanya simpan) buku di rak secara menumpuk ke atas (maklum terbatas spacenya) Tapi akan kucoba ganti posisinya. Hehehe

  4. Aaak, Wardah, pas banget nih tipsnya buat aku yg lagi nomaden dan blm punya rak buku lagi. Alhasil timbunanku kukekepin dlm kardus. Krn kardusnya mpe tumpuk 3, akhirnya ada beberapa buku yg melengkung gt (terutama yg di kardus paling bawah) 😥
    Jadi kepikiran buat ngeplastikin satu2, cos rmhku di kawasan rentan banjir 😥
    Oya, yg poin perlu dijemur sesekali itu, aku baru tahu. Makasih Wardah, infonya bermanfaat ~~

    • iya kalo ditumpuk dalam kardus itu risikonya banyak 😦 harus sering-sering dicek dan sebaiknya memang dibungkusin satu-satu supaya lebih terjamin

      sama-sama frida 😀

  5. Aaaahh ternyata selain bule2 yang hobi berjemur, buku juga perlu yaa (baru tahu info ini)

    Makasiihh kak tips-nya, semoga satu-satu dr tips kakak bisa aku laksanakan segera 🙂

    • iya, habis kalo nggak diberikan udara segar dan cahaya matahari sesekali, bukunya bisa bau, lengket, lembab, terus lama-lama rusak 😦

      sip sama-sama 😀

  6. Timbunanku yang ku dapat dari hadiah2 GA, malah kadang masih disampul coklat/bungkus dari yang ngasih hadiah, sampai bingung ini hadiah dari siapa aja ya mwahahaha…

    Aku paling masuk2in yang sudah kubaca ke kontainer, yang di lemari ku tumpuk ke samping, tapi kalo ada yang datang lagi, ya terpaksa ditumpuk ke atas 😦

    • ya ampun mbak itu masih bungkusannya ya, ckck, sini hibahin aja ke sini kalo malas bukanya *eh

      ahaha iya mbak aku juga, tiap nambah timbunan tuh bikin rak berantakan lagi ^^;;

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s