Gramedia Pustaka Utama · Komedi · Resensi

#Ya Tuhan, kamu, aku, doa.


Judul: #Ya Tuhan, kamu, aku, doa.
Penulis: Adityayoga & Zinnia?
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 76 halaman

Buku ini adalah kelanjutan dari #Ya Tuhan, lapar, gosong, doa. yang telah saya ulas sebelumnya. Sesuai judul pada buku ini, tema yang diangkat pada buku puisi doa ini tentang hubungan “kamu dan aku” alias seputar cinta.

Doa pertama yang menarik perhatian saya adalah doa di bawah ini

Ya Tuhan,

Sebelum mereka mempertanyakan,
bolehkan Kaujawab pertanyanku,
“Kapan saya nikah?”

Amin (8)

Haha. Saya sendiri pun sering heran, kenapa pertanyaan itu selalu dan selalu saja dipertanyakan. Yah bukan soal nikah aja sih, tapi yang jelas pertanyaan “kapan” itu semacam jadi basa-basi di lingkungan kita. Padahal kan ya itu pertanyaan yang privat banget ya. 😐

Yah, sudahlah, kalau saya bahas, review ini bisa melenceng ke mana-mana dan saya nggak pengin itu terjadi. Sekarang mari lanjut ke aspek berikutnya.

Bisa dibilang pada puisi doa di buku ini, banyak hal seputar hubungan dan cinta yang sudah sering dicandakan, dibuat meme, ditertawakan, dll itu diangkat dalam puisi doa. Tentu saja banyak hal yang masih menyimpan rasa ironi, seperti pada dua buku sebelumnya.

Ya Tuhan,

Sebetulnya saya atau ponselnya sih
pacar dia, kayaknyak lebih banyak
perhatian ke ponselnya deh…. (20)

Atau misalnya yang satu ini,

Ya Tuhan

Buku nikah bisa dibeli online
nggak ya…. (22)

Haha, tapi yang itu rasanya desperate banget ya.

Meski demikian, mayoritas puisi doa di buku ini rasanya biasa saja. Tidak seperti puisi doa di dua buku sebelumnya yang terasa lebih menyentil. Saya pikir hal ini karena tema yang diangkat bukan sesuatu yang saya suka. Bisa dibilang saya sudah lelah dengan hal-hal seputar hubungan dan cinta yang dijadikan bahan komedi atau ironi. Makanya buku ini rasanya biasa banget. Nggak terlalu meninggalkan kesan dan nggak terlalu menimbulkan tawa.

Sebagai penutup, saya berikan satu doa yang berhasil membuat saya mengulas senyum.

Ya Tuhan,

Biar sepiring berdua saya rela…
asalkan saya boleh pesen dua mangkok
lagi buat saya sendiri.

Amin (58)

Selamat membaca!

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s