Me, Earl, and The Dying Girl: Sicklit Kocak yang Emosional

Judul: Me, Earl, and The Dying Girl
Penulis: Jesse Andrews
Penerbit: Pop
Tanggal/Tahun Terbit: 31 Oktober 2016
ISBN: 9786024241933
Tebal: 334 halaman
Format: paperback

Greg Gaines selama ini invincible. Dia bisa berteman dengan semua kelompok-kelompok siswa di sekolah tanpa terikat dengan kelompok mana pun.

Kutekankan lagi bahwa aku bukan anggota kelompok mana pun, tapi aku juga bergaul dengan semua kelompok. (h. 11)

Di sela kehidupan sosialnya yang cukup rumit, Greg banyak menghabiskan waktu dengan Earl Jackson, satu-satunya orang yang bisa disebut teman. Meski Earl lebih cocok jadi rekan kerja menghasilkan film murahan, yang hanya mereka tonton berdua, di mata Greg.

Hidup Greg mulai berubah ketika ibunya meminta Greg berteman dengan Rachel, seorang gadis penderita leukimia yang sedang sekarat. Dulu, ketika keduanya masih kanak-kanak Greg dan Rachel sempat dekat. Namun, setelah insiden Greg berusaha menghindar terus-terusan dari Rachel, hubungan mereka rusak. Dan sekarang Greg diminta oleh ibunya untuk beteman baik dengan Rachel karena gadis itu sedang sekarat.

Novel Sicklit dengan Format Menarik

Kalo kamu berpendapat Me, Earl, and The Dying Girl novel sicklit penuh cerita cinta bermakna yang mengharu biru selayaknya kebanyakan novel sicklit, maka kamu salah. Novel ini lebih banyak mengundang tawa ketimbang novel sicklit mana pun.

Greg berhasil menjadi narator yang memang lucu. Bukan hanya lucu ketika berinteraksi dengan orang-orang karena karakternya lucu. Misalnya saja begini.

Demi buku yang jeleknya amit-amit ini, aku harus bicara singkat soal perempuan, jadi mari kita bahas saja topik tersebut cepat-cepat supaya aku tidak perlu menonjok mataku sendiri. (h. 23)

Nah, selain karakter Greg yang emang lucu, novel ini punya format menarik. Secara sekilas ada bab-bab yang terasa tidak nyambung, tapi akhirnya terikat satu sama lain di penghujung cerita. Bisa dibilang gaya penulisan novel ini terkesan kotak-kotak, mirip kepingan puzzle, yang akhirnya menyatu di akhir.

Selain itu, ada bagian yang ditulis kayak naskah drama dalam novel ini. Percakapan antara tokoh dibuat mirip drama, lengkap juga dengan deskripsi latar selayaknya dalam naskah. Akhirnya, Me, Earl, and The Dying Girl menjadi sebuah buku dengan format yang berbeda dan segar.

Satu lagi, Me, Earl, and The Dying Girl ditulis dengan sudut pandang orang pertama, sehingga tidak banyak yang bisa didapatkan dari karakter-karakter lain selain yang ditulis Greg. Namun, saya rasa karakter Greg yang lucu dan terlalu mempedulikan (perasaan, pikiran, pendapat) orang-orang di sekitarnya ini membuat novel ini berhasil mengungkapkan cukup dalam perasaan karakter-karakter lain.

Realistis sekaligus Emosional

Meski saya bilang novel ini kocak, memasuki paruh akhir, saya dibuat nyeri dan sedih dengan segala hal yang terjadi di sekitar Greg setelah berkenalan dengan Rachel.

Secara perlahan, Greg dipaksa menyadari bahwa apa yang dipertahankan olehnya sebenarnya bukanlah sesuatu yang berharga. Adegan di rumah sakit ketika Greg mejenguk Rachel itu berhasil membuat emosi saya diaduk-aduk. Saya merasa begitu malu, takut, khawatir, dan seolah-olah menjadi sosok Greg dan mengutuki diri sendiri melihat sikap Greg. Rasanya saya mau sembunyi dalam lemari ketika membaca adegan itu. Juga adegan ketika Rachel pulang ke rumah. Ya ampun. Greg. Rasanya pengin nonjok mukanya Greg deh, :”(

Satu lagi klimaks yang membuat hati saya seperti tercerai-berai dan merasakan kesakitan Greg itu adegan setelah Greg pulang dari rumah Rachel dan menemui Earl. AAAAARRGGGHHH!!! *asdfghjkl*

“Saking pedulinya pada pendapat orang, kau selalu main rahasia-rahasiaan, menjilat sana-sini, berpura-pura berteman dengan semua orang karena kau terlalu memikirkan pendapat mereka.” (h. 278)

Sepanjang membaca Me, Earl, and The Dying Girl, saya curiga Greg menderita social anxiety disorder. Habisnya dia sering kena serangan panik dan mendadak bengong ketika sedang berada di situasi sosial yang konyol atau memalukan. Meski akhirnya hal ini nggak dibahas banyak, saya bersyukur bahwa ada karakter seperti Earl di samping Greg. Meski juga Earl itu karakter yang rada sulit dipahami (apalagi dari sudut Greg ya), tapi karakter Earl dan Rachel ini membuat Greg harus keluar dari lingkaran nyamannya dan mulai belajar untuk “hidup”.

“Kita harus menolong diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.” (h. 324)

Terakhir

Yang jelas, Me, Earl, and The Dying Girl punya cerita yang begitu realistis tentang karakter yang sakit keras seperti Rachel. Tidak ada romansa yang terjalin mendadak karena sebentar lagi maut datang atau pun keajaiban tiba-tiba dalam cerita. Ini satu poin yang membuat Me, Earl, and The Dying Girl berhasil jadi novel sicklit yang snagat berbeda.

Kemudian, ceritanya begitu … sederhana. Ditulis dengan format yang menarik dan karakter narator yang kocak, lengkap dengan akhir cerita yang berhasil bikin saya spechless dan depresi. Rasanya membaca novel ini tuh seperti grafik datar yang perlahan naik, lalu mendadak terjun bebas. Salut sama cara penulis menutup kisah Greg. Terasa begitu realistis :”)

Sebagai penutup, salah satu dialog lucu sekaligus menimbulkan ironi dari novel ini.

“Yang paling menakjubkan darimu adalah kau bukan boneka kaus kaki.” (h. 199)

Salah satu YA terbaik yang pernah saya baca. Kocak sekaligus emosional. Sangan saya rekomendasikan kalau kamu butuh bacaan YA yang tidak biasa dan membuat perasaaan diaduk-aduk. Selamat membaca!

Diikutsertakan dalam:

love wardah

Advertisements

5 thoughts on “Me, Earl, and The Dying Girl: Sicklit Kocak yang Emosional

  1. Aku teracuni dengan resensi ini, sepertinya juga pernah liat buku ini mejeng di tobuk cuma menurutku sampulnya “biasa” (kebiasaan tidak baik, menilai buku dari cover) jadi sama sekali tidak tertarik bahkan baca blurbnya saja nggak ..

    Nama Greg, ngingetin aku sama tokoh utama Wimpy Kid, Greg Haffley. Wkwkwk..

    Oiya, btw wish u luck yahhh 🍀

    • Waa asik asik, ayo dibeli dan dibaca XD
      Kalo selera mirip sama saya, dijamin suka sama novel ini deh

      Hihi terima kasih banyak kak

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s