I Want to Eat Your Pancreas: Sicklit yang Tak Sehoror Judulnya

Judul: I Want to Eat Your Pancreas
Penulis: Sumino Yoru
Penerbit: Haru
Tebal: 309 halaman

Bacanya udah sejak April lalu, tapi review-nya baru sempet dirapiin dan disalin di blog πŸ˜₯

Novel ini berceritaΒ tentang pertemuan ‘aku’ dan Yamauchi Sakura. Pertemuan di rumah sakit itu membuat ‘aku’ tahu rahasia penyakit Sakura dan akhirnya mereka menjadi dekat. Mereka makan bersama, berjalan-jalan ke kota, bahkan melakukan perjalanan dengan kereta.

Meski demikian, teman-teman sekelas mereka tidak percaya bahwa ‘aku’, si murid pendiam yang keberadaannya tidak terasa dalam kelas, bisa dekat dengan Sakura, gadia ceria yang supel luar biasa. Setelah kedekatan ‘aku’ dan Sakura terbongkar di sekolah, banyak yang berubah pada keseharian ‘aku’ yang membosankan. Mulai dari disapa ‘selamat pagi’ hingga kehilangan barang-barang kecil.

Di sisi lain, untuk kali pertama, ‘aku’ harus berhadapan dengan seorang manusia dan sesuatu yang buruk terjadi pada Sakura.

“Aku mau makan pankreasmu.”
“Jiwa kanibalmu tiba-tiba bangkit, ya?” (h. 8)

Nama Tokoh “Aku”

Novel ini diceritakan dari sudut orang pertama, yang namanya baru ketahuan menjelang akhir cerita. Selama cerita, dia dipanggil bermacam-macam, “Teman Sekelas yang Akrab”, “Teman Sekelas yang Pendiam”, “Teman Sekelas yang Tidak Mencolok”, dll.

Nah, selain itu, novel ini jugaΒ punya gaya penulisan percakapan yang sering membuat bingung. Percakapan dalam novel ini jarang diikuti keterangan “kata A” atau “A berucap” dll. Percakapannya sering beruntun tanpa ketahuan siapa yang berbicara. Lengkap dengan penggunaan sudut orang pertama sebagai pencerita, yang seringkali tidak menyebut nama orang-orang di sekitarnya. Jadi, saya rasa hal ini akan membuat pembaca kebingungan dan kesulitan masuk dalam cerita.

Namun, begitu sudah mulai terbiasa, saya yakin kamu bakal menikmati. ‘Aku’ dan Sakura punya interaksi yang manis, juga percakapaan-percakapan yang membuat merenung.

“Memangnya tidak boleh ya kalau aku memilih tubuhku dimakan saja oleh orang-orang setelah meninggal nanti?”
“Bisa tidak kita jangan membicarakan perlakukan terhadap mayat sambil makan daging begini?” (h. 32-33)

Haha, seram-seram gimana gitu ya. Tapi kalau dipikirin lebih dalam, yah gitulah :””

Perkembangan Karakter “Aku” dan Sakura

Alur I Want to Ear Your Pancreas ini tergolong lambat. Tidak ada cukup banyak kejadian yang terjadi. Interaksi ‘aku’ dan Sakura bahkan terjadi hanya beberapa kali.

Namun, setiap interaksi itu dituliskan dengan banyak. Percakapan keduanya dan bagaimana cara ‘aku’ memandang dunia, pendapat Sakura, serta hal-hal di sekitar mereka.

Meski alurnya sedikit lambat, ketika ‘aku’ telah berinteraksi dengan Sakura, saya justru merasa hal itu cepat sekali berlalu. 😣

Hal ini disebabkan karakter ‘aku’ ketika bersama Sakura jadi sangat menarik. ‘Aku’ yang pendiam dan merasa berhubungan dengan orang lain bukan hal yang penting perlahan-lahan terpengaruh oleh Sakura. Apalagi kenyataan Sakura menderita sakit membuat gadis itu jadi lebih dewasa dari seharusnya.

“Kalau ada hal yang bisa kusyukuri karena berhadapan dengan kematian… adalah hal itu. Setuap hari, aku menjalani hidup sambil berpiiir bahwa aku hidup.” (h. 64)

Kedua karakter yang berbeda ini dibenturkan dalam kejadian demi kejadian. Yang membuat keduanya berkembang dengan sangat baik seiring waktu. Bisa dibilang novel ini merupakan salah satu novel dengan perkembangan karakter yang baik.

“Yang mempertemukan kita adalah pilihan yang telah kau buat, juga pilihan yang kubuat sampai saat ini. Kita bertemu atas keinginan kita sendiri.” (h. 189)

Lengkap dengan cerita yang membuat perasaan pembaca naik-turun dan akhir yang … tidak disangka, novel ini sangat saya rekomendasikan bagi penikmat sicklit. Juga bagi mereka yang menyukai seri Your Lie in April. Keduanya punya aura yang serupa.

Terakhir

Secara keseluruhan, novel ini merupakan salah satuΒ sicklitΒ yang saya suka. Saya suka banget sama interaksi karakter ‘aku’ dan Sakura. Suka juga sama bagaimana karakter mereka berkembang ketika berinteraksi. Terlebih, saya suka banget sama cara novel ini ditutup. Bikin mewek, tapi lega. πŸ˜₯

Mungkin selama tujuh belas tahun aku telah menunggu agar kau butuhkan. (h. 264)

Selamat membaca!

love wardah

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s