Gramedia Pustaka Utama · Remaja · Resensi

Trisula Mentari: Teenlit Rasa Lockwood & Co.

Judul: Trisula Mentari
Penulis: Shandy Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman

Trisula Mentari punya kelebihan, dia bisa mendengarkan suara-suara tak kasat mata. Bukan hanya itu, keberadaan dirinya pun bisa membuat roh-roh itu menjadi semakin kuat. Berkat kelebihannya ini, Trisula dijauhi teman-temannya, hanya Mikaela yang senantiasa hadir di sisi Trisula.

“Karunia seperti yang kumiliki termasuk kategori aneh, kalau nggak bisa dibilang menakutkan.” (h. 121)

Suatu hari, seorang murid pindahan datang dan memilih duduk dekat Trisula. Murid pindahan bernama Alfa itu bahkan menolak Kristal, sang maharatu, dan lebih memilih duduk bersama Trisula. Saat itu, Trisula berpikir bahwa siapa tahu Alfa berbeda dengan orang-orang lain dalam hidupnya sampai Trisula datang ke rumah Alfa dan mendapati rumah itu dihuni roh jahat.

Apa yang harus Trisula lakukan?

Rasa Lockwood & Co.

Bagi pembaca buku middle grade dan fantasi, khususnya penggemar Jonathan Stroud, bakal sangat tidak asing dengan seri Lockwood & Co. Seri ini berkisah tentang remaja-remaja yang melakukan pembasmian hantu. Para remaja ini punya kemampuan khusus untuk bisa merasakan roh dan kemudian mengusirnya. Nah, keberadaan Trisula ini persis seperti itu.

Pada awalnya, ketika kemampuan Trisula masih sebatas bisa mendengar, berinteraksi, dan merasakan saja, saya pikir teenlit satu ini bakal sebatas teenlit dengan sentuhan supranatural. Namun, ketika Alfa mulai hadir dan roh jahat di rumah Alfa mulai semakin terlihat (mulai mengganggu bahkan menyerang), teenlit ini bertambah unsur aksi dan terasa mirip Lockwood & Co.

Trisula mencari tahu soal roh jahat itu dan berusaha mengusirnya. Bahkan langkah-langkah yang dilakukan Trisula untuk mengusir sang roh itu mengingatkan saya pada seri Lockwood & Co. Saya nggak tahu apakah penulis sudah membaca seri yang sama, yang jelas, Trisula Mentari ini ibarat Lockwood & Co. rasa lokal tanpa ada wabah hantu.

Terlepas dari itu, ada banyak yang nggak percaya kalau Trisula benar-benar bisa berkomunikasi dengan roh. Seisi sekolah bahkan para guru. Sebenarnya saya bingung, emang mereka pada nggak percaya kenapa sih? Takut? Seram? Saya pribadi percaya kalau ada entitas lain di dunia ini, dan yah memang ada orang-orang yang ‘peka’ semacam Trisula. Tapi kok seisi sekolah Trisula ini nggak ada yang percaya sih? Kenapa gerangan?

Perihal ‘Keanehan’ dan Persahabatan

Trisula Mentari sendiri merupakan cerita tentang seorang gadis yang dianggap aneh dan bagaimana gadis tersebut tidak percaya pada orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Keanehan Trisula ini memang berbentuk kemampuan yang cukup bikin merinding, tapi pada kenyataannya, ‘keanehan’ ini bisa muncul dalam berbagai wujud, misalnya mental illness atau memang sikap yang tidak sesuai stereotipe. Saya jadi ingat berita mengerikan soal remaja laki-laki yang dikeroyok hingga meninggal oleh teman-temannya karena dinilai terlalu lembut. 😦

Baiklah, kembali ke Trisula Mentari. Nah, orang-orang di sekitar Trisula ini sudah mengenal Trisula sejak kecil sehingga ‘keanehan’ gadis itu sudah terkenal dan akhirnya dia dijauhi. Kemudian, muncullan karakter Alfa. Karakter yang sama sekali tidak mengenal Trisula. Karakter Alfa ini hadir dan membuat Trisula kembali percaya bahwa ada orang yang bisa menerima ‘keanehan’ dirinya.

“Manusia normal nggak berkeliaran dengan misi menyakiti orang lain.” (h. 117)

Atau, begitulah yang saya harapkan dari Alfa.

Sayangnya, saya kecewa berat pada perkembangan karakter Alfa. Pada akhirnya, karakter Alfa membuat saya percaya bahwa nggak ada yang namanya cowok baik (dalam hidup Trisula). Lebih lagi, saya tidak mendapati penjelasan kenapa Alfa bersikap begitu pada Trisula. Karakter Alfa jadi mirip karakter orang-orang lain dalam hidup Trisula yang gampang termakan gosip dan berakhir ketakutan pada ‘keanehan’ Trisula.

Terakhir

Secara keseluruhan, Trisula Mentari merupakan bacaan remaja yang kental unsur klenik (tapi nggak horor), dilengkapi pembasmian hantu yang menegangkan. Dengan bumbu cerita keluarga dan banyak persahabat sejati.

Satu kutipan kesukaan saya dari novel ini adalah sebagai berikut:

“Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi.” (h. 49)

Novel ini direkomendasikan untuk mereka yang butuh bacaan ringan dengan percakapan karakter suka ajaib dan bikin ngakak, tapi ceritanya penuh aksi.

Selamat membaca!

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s