[#BBIHUT6] Cari Tahu Tentang Buku Bekas

Halooo! Siapa di sini yang suka beli buku bekas? πŸ˜€

Nah, sebetulnya buat hari ini saya mau cerita soal #BookCrossingID yang lagiΒ happening di jagat instagram, tapi sayangnya idenya datang terlambat dan wawancara dengan narasumber saya belum selesai, hiks. Oleh sebab itu, buat hari ini saya mau bercerita tentang buku bekas.

Apa itu “buku bekas”?

Buku bekas adalah buku bekas *ditendang* Buku bekas itu dilabelkan pada buku yang sudah tidak bersegel dan sudah dibaca (minimal sekali). Intinya sudah tidak cling-cling mengkilap lagi seperti yang dipajang di toko buku. Continue reading

[#BBIHUT6] Enam Tahun Sudah BBI Ada

Enam tahun sudah. Bisa dibilang tahun depan Bebi bakal mulai pakai seragam putih merah dan tiap pagi berangkat sekolah penuh semangat. Tapi Bebi bukan manusia, jadi tentu saja itu hanya angan.

Dari nomor member yang saya dapat, saya bergabung dalam keluarga BBI di Februari 2015. Nggak terasa ternyata sudah cukup lama berlalu. Sejujurnya, sampai detik ini saya nggak merasa jadi blogger buku yang makin kece sih dan saya tahu kenapa. Yah gimana mau makin kece kalau nggak diseriusin ya *menggelundung*

Namun, selama sekitar 2 tahun lebih ini … BBI jelas menjadi sesuatu yang sangatsangatsangat berarti dalam hidup saya. Continue reading

[#BBIHUT6] Agar Buku Bisa Ditimbun Ratusan Tahun

Siapa di sini yang suka menimbun buku? Iya, yang setiap beli buku nggak langsung dibaca tapi justru disimpan (entah dalam rak buku, di dalam kotak, di bawah tempat tidur, atau digeletakkin masih dalam bungkus plastiknya).

Yah, berkarir(?) sebagai blogger bukuΒ meski seringnya males dan ujung-ujungnya gitu doang dan bergabung dalam keluarga BBI membuat saya tertular banyak sekali virus-virus. Virus rekomendasi buku, virus membeli buku diskonan, virus mengadopsi buku-buku bekas, bahkan virus mengoleksi buku “1000 buku yang harus kamu baca sebelum mati”. Nah, saya rasa, menjadi penimbun buku adalah sebuah keniscayaan bagi pembaca buku Β yang berinteraksi dengan pembaca buku lainnya. Sepakat? πŸ˜€

Baiklah, sebagai penimbun (entah satu-dua buku saja atau mencapai ratusan), saya rasa kita semua akan menghadapi fakta buku-buku yang bisa rusak. Apalagi jika menyimpannya sembarangan. Oleh sebab itu, saya mencoba menuliskan beberapa kiat yang bisa kamu terapkan agar timbunanmu, yah katakan saja, bisa bertahanΒ lama ratusan tahun. Continue reading

2016 dalam Buku + Harapan 2017

 

2016-dalam-buku

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya berniat menuliskan kehidupan saya dan buku di 2016 silam. Pasalnya, ada begitu banyak hal yang terjadi antara saya dan buku di 2016. :”)

Tulisan ini ditulis sekalian untuk Posbar BBI. Awalnya mau dipisahin, habis tulisan ini banyak curhatannya, tapi susah buat memisahkan buku terbaik 2016 atau harapan 2017 dengan tulisan tentang kehidupan saya dan buku ini. Jadi, maafkan kalau tulisan ini panjang. Sila tinggalkan juga jika kamu merasa bosan dengan ocehan saya. I don’t mind.

Awal-awal tahun saya mulai dengan cukup semangat. Terbukti dengan cukup banyaknya buku-buku yang saya baca. Bahkan kalau tidak salah saya menghabiskan hari pertama dengan membaca, haha. Seperti tahun lalu, saya ikutan tantangan-tantangan yang mulai menjamur begitu tahun akan berganti. Continue reading

Baca … Di mana?

Tema posbar bulan November itu adalah tema paling susah. SUSAH BANGET!

Mau tahu kenapa?

  1. Saya pengguna kendaraan pribadi, jadi sangat amat sangat jarang saya ke tempat-tempat umum atau menggunakan kendaraan umum. Padahal lokasi-lokasi ini adalah lokasi yang katanya cukup banyak orang membaca di tempat umum.
  2. Aktivitas saya terbatas pada kampus, ruang dosen, dan kosan. Sekalinya lewat lobi kampus pun nggak menemukan orang yang membaca. 😦 Pas ke perpustakaan ada sih yang lagi baca, tapi baca diktat kuliah. Apa seharusnya saya foto aja?
  3. SAYA NGGAK KEMANA-MANA. Ini poin paling penting, Sebab, bulan lalu, ketika saya mengadakan perjalanan singkat ke Solo, saya menemukan satu-dua orang yang asyik membaca dalam kereta. Tentu saja saya nggak menyapa, karena saya juga asyik membaca. 😦

Saya sudah menyimpulkan bakal nggak ikutan posbar ini sampai suatu hari saya menemukannya! Continue reading

Wishful Wednesday [25]: Heartwarming Chocolate

wishful-wednesday

Belakangan ketinggalan WW. Untungnya ingat hari ini karena grup Joglo. πŸ˜„

Buat sekarang (dan sepertinya sampai berhari-hari ke depan), buku wishlist saya satu ini saja. Bukannya nggak punya wishlist lain, cuma sedang menghindari menambah buku inceran. Buku-buku goodreads choice award aja udah bikin mupeng, apalagi kalau lirik-lirik buku lain. 😦

Fokus saja sama yang lagi dikejar sekarang. Fokus juga sama buku yang udah dipunyai tapi belum dibaca ya. Kasian mereka, sedih cuma jadi pajangan. :”

Ahaha, sudah sudah. Lanjut ke wishlist saja. WW saya minggu ini itu,Β Heartwarming ChocolateΒ karya Prisca Primasari.

32705446

Alasannya sih sederhana. Karena saya sudah jatuh hati sama tulisan Prisca sejak lama. Tentunya saya nggak bakal melewatkan bukunya. Semoga berjodoh dengan si manis satu ini. :”)

Yuk, ikutan bermimpi di Rabu bolong. Kamu bisa cek di sini buat ikutan.

Perkembangan Fiksi Horor Dalam Negeri

Nyaris aja lupa menerbitkan tulisan ini! Nyaris saja ketinggalan posbar bulan Oktober. :”D

Nah, tema posbar Oktober adalah #BBISupernatural. Berhubung kecepatan membaca saya lagi rendah-rendahnya di bulan ini, saya memutuskan untuk menulis artikel terkait tema posbar kali ini. Meskipun temanya berupa supernatural (yang berarti ajaib atau gaib), saya mengkerucutkannya pada horor.

perkembangan-fiksi-horor-dalam-negeri

Horor sendiri berarti sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Menurut wikipedia, genre horor dalam fiksi berkembang dari cerita rakyat danΒ  tradisi keagamaan, yang berhubungan dengan kematian, kehidupan setelah mati, dan keberadaan setan. Inilah sebabnya horor identik dengan keberadaan entitas dari dunia lain, yaitu hantu.

Dalam dunia literasi, genre horor berkembang sejak abad 18, dalam bentuk gothic horror. Novel-novel horor abad 19 jauh lebih terkenal daripada abad sebelumnya, semisal Frankestein,Β  The Picture of Dorian Gray, sampai Dracula. Meskipun sejatinya genre horor menimbulkan rasa takut, genre ini tetap saja dicintai dan diburu pembaca. Terbukti dari semakin banyaknya buku-buku berlabel horor di dunia.

Lantas, bagaimana dengan buku horor dalam negeri? Continue reading

Tempat-Tempat (Tidak Disangka) Bisa Baca Buku

Nggak sangka sudah masuk bulan akhir September Oktober! Woah, tanpa terasa waktu telah berlalu begituuuu cepat. Rasanya baru kemarin berniat rutin ikut Posbar BBI tahun 2016 ini. Eh ternyata sudah sampai posbar ke-9. πŸ˜„

Tema posbar bulan September adalah #TempatBaca. Meski rerata pada memberikan tempat baca favorit, saya sendiri memilih menuliskan tentang “tempat-tempat (tidak disangka) bisa baca buku”.

Tempat-tempat bisa baca buku mah ada banyak ya. Kasur jelas tempat baca favorit saya. Namun, sebagai seorang yang kerjanya ngalor-ngidul ke sana-sini, saya jadi sering membaca di mana pun. Bahkan mungkin di tempat-tempat yang terkesan ajaib buat beberapa orang, haha. (Meski kayaknya sesama pembaca buku pun pernah membaca di lokasi-lokasi seperti yang saya cantumkan ini.) Continue reading